Ibadah haji bagi saya adalah ibadah yang membutuhkan sekaligus melatih semua aspek diri, baik jasmani maupun rohani. Haji membutuhkan tubuh yang sehat, ilmu manasik yang cukup, emosi yang terkendali, mental yang kuat, hati yang bersih, kemampuan psikososial yang baik, serta keberanian yang terukur. Haji tidak bisa diselesaikan dalam satu atau dua jam, melainkan membutuhkan waktu setidaknya lebih dari lima hari.
Salah satu hal yang benar-benar melatih dan menguji kesabaran adalah interaksi sosial selama berada di Arafah dan Mina, terutama saat para jemaah harus mengantre untuk buang air kecil, buang air besar, dan berwudu di depan toilet.
Saya menulis tulisan ini ketika berlangsung pemulangan jemaah haji dari Mina ke hotel di Makkah, Sabtu, 30 Mei 2026. Kemarin, Jumat, 29 Mei 2026, adalah kepulangan jemaah yang mengikuti nafar awal, sedangkan hari ini adalah kepulangan jemaah yang mengikuti nafar tsani.
Mengantre dengan deretan panjang seperti ular sungguh berat. Di sini saya dituntut untuk tidak menyerobot, tidak menyalahkan siapa pun, mampu menahan rasa tidak nyaman, serta tidak menggedor pintu ketika merasa orang yang berada di dalam toilet terlalu lama.
Saya juga pernah mengantre untuk menggunakan toilet yang bisa dipakai buang air kecil, buang air besar, sekaligus mandi di tenda Mina. Saat itu saya merasa orang yang berada di dalam toilet kurang memiliki empati. Toilet tersebut tidak hanya digunakan untuk buang air kecil atau buang air besar, tetapi menurut saya orang tersebut sedang mandi. Saya melihat air mengalir dari bagian atas tembok toilet sehingga tampak dari luar.
Setelah lama menunggu, akhirnya orang tersebut keluar dan memberi tahu bahwa keran untuk membersihkan diri setelah buang air kecil rusak. Saya tidak menunjukkan reaksi apa pun dan tidak merasa berprasangka buruk saat itu.
Namun setelah saya periksa, ternyata benar keran untuk membersihkan diri setelah buang air besar memang rusak. Keran masih bisa digunakan, tetapi air hanya keluar melalui selang dengan semburan yang kurang nyaman.
Saya tetap menggunakannya agar tidak memakai keran mandi. Setelah selesai, saya keluar dan kembali mengantre di depan kamar mandi. Risiko mengantre dua kali saya pilih agar jemaah yang ingin buang air kecil atau buang air besar bisa lebih cepat menunaikan hajatnya.
Saya berpikir bahwa buang air kecil dan buang air besar adalah kebutuhan yang tidak bisa lama ditahan sehingga harus lebih diutamakan daripada mandi yang masih bisa ditunda. Baru ketika menulis pengalaman ini saya menyadari bahwa tindakan dan gerak hati saya saat itu keliru karena sempat berprasangka buruk kepada orang yang berada di dalam toilet.
“Astaghfirullah, mohon ampuni dosaku ya Allah karena saya telah berprasangka buruk,” bisik saya dalam hati.
Inilah latihan dan ujian kesabaran yang benar-benar saya rasakan. Sejak saat itu saya tidak lagi mengeluh ketika harus mengantre dalam urusan seperti ini.
Ketika rasa ingin buang air kecil atau buang air besar sudah tidak dapat ditahan lagi, saya pernah buang air kecil di tempat yang sepi dan privat dengan bantuan botol berisi air untuk beristinjak. Cara lain yang saya lakukan adalah pergi ke toilet milik kloter atau jemaah Indonesia lainnya dengan meminta izin terlebih dahulu agar tidak mengganggu.
Pengalaman istri saya bahkan lebih berat. Saat hendak mengantre untuk buang air kecil dan buang air besar, tiba-tiba ada informasi bahwa jemaah akan berangkat untuk melontar Jumrah Aqabah. Para jemaah diminta segera mempersiapkan diri. Setelah dihitung, waktu yang tersedia tidak cukup jika harus mengantre. Jika satu orang rata-rata membutuhkan 20 menit dan terdapat tujuh orang dalam antrean, maka waktu tunggu mencapai sekitar 140 menit atau lebih dari dua jam.
Dengan terpaksa, istri saya membatalkan antrean dan bersiap melontar Jumrah Aqabah dalam kondisi menahan buang air kecil dan buang air besar. Bisa dibayangkan betapa tidak nyamannya kondisi tersebut. Proses melontar jumrah sendiri tidak sebentar, tetapi memerlukan waktu lebih dari dua jam dengan menempuh perjalanan sekitar 13 kilometer. Jarak tempuh terasa lebih panjang karena padatnya jemaah yang juga akan melontar jumrah.
Inilah latihan dan ujian kesabaran di Mina. Jika menelisik sejarah Nabi Ibrahim yang diganggu iblis sehingga beliau melemparinya dengan batu, maka demikian pula yang dirasakan para jemaah haji di Mina: berdesakan, mengantre, menghadapi cuaca panas, makanan yang sederhana, dan berbagai kesulitan lainnya.
Semua itu menjadi bagian dari proses pembelajaran kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri dalam menunaikan ibadah haji.
Sugiarso, jemaah haji pada musim haji 2026





Comments are closed.