Tue,2 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Di Balik Drama Buah-Buahan AI di TikTok: Hiburannya Absurd dan Misoginis

Di Balik Drama Buah-Buahan AI di TikTok: Hiburannya Absurd dan Misoginis

di-balik-drama-buah-buahan-ai-di-tiktok:-hiburannya-absurd-dan-misoginis
Di Balik Drama Buah-Buahan AI di TikTok: Hiburannya Absurd dan Misoginis
service

Kalau sebelumnya ada micro-dracin yang bikin banyak orang kecanduan dengan plot balas dendamnya yang cepat, sekarang ada drama buah-buahan bikinan AI yang lebih absurd namun sekaligus mengkhawatirkan. 

Awalnya mungkin terasa konyol, bagaimana mungkin kita bisa ikut emosional melihat buah-buahan bertengkar?

Tapi banyak yang ikut kesal melihat cerita buah strawberry selingkuh, si pisang pekerja rumah tangga yang ingin merebut rumah bosnya, atau strawberry jahat yang menyuntikkan ramuan agar pisang menjadi tidak cantik lagi. 

Buah-buahan yang diberi karakter jahat itu adalah perempuan. Bukan cuma digambarkan sebagai penjahat, buah-buahan perempuan ini juga diberi karakter memalukan seperti semangka yang selalu kentut dengan gas hijau hingga bikin suaminya marah, Bahkan dijadikan objek seksual seperti strawberry yang bercinta dengan 4 terong.

Pola-pola narasi ini diulang-ulang oleh berbagai kreator hingga memenuhi fyp TikTok. Meskipun menggunakan teknologi AI yang modern, tapi pola pikir penciptanya masih di jaman batu. Drama-drama ini sebenarnya sedang menunjukkan insecuritas kolektif laki-laki. Ada ketakutan dikhianati istri saat mereka sedang banting tulang mencari nafkah di luar rumah, atau bertemu dengan perempuan yang matre. Selain itu, drama ini juga menampilkan kebencian laki-laki kepada perempuan karena kentut (meskipun itu manusiawi), istri yang jadi gemuk setelah menikah, dan membenci istri yang keriput.

Baca juga: Narasi Dibalik Micro Drama China, Ada Agensi Perempuan yang Dikerdilkan Laki-laki

Betapa mudahnya misogini dikemas dalam video kartun buah warna warni, diproduksi massal, dan dikonsumsi sebagai candu brainrot. Lama-kelamaan, alam bawah sadar kita mulai terbiasa melihat perempuan sebagai sosok yang pantas dihina jika tidak memenuhi standar tertentu.

Bikin video AI ini tidak perlu modal besar. Yang dibutuhkan hanyalah prompt yang tepat dan beberapa alat AI yang kini tersedia secara luas. Pertama, bikin script. Script itu kemudian dimasukkan ke generator video AI seperti Seedance 2.0, Wan 2.6, atau Google Veo 3. Platform-platform ini bisa menghasilkan video animasi dengan karakter buah berdesain Pixar. 

Bahkan sudah ada platform khusus seperti media.io yang sudah punya beragam template drama buah-buahan. Bandingkan ini dengan sebuah episode animasi konvensional yang butuh berbulan-bulan, puluhan animator, dan anggaran besar. Di sini, satu orang dengan laptop bisa memproduksi konten drama setiap hari.

Kenapa Selalu Perempuan yang Jadi Penjahat?

Buah-buahan yang biasa kita makan, kini dijadikan penjahat, dan penonton menikmatinya. Kenapa bisa begitu? 

Karena yang kita tonton sebenarnya bukan lagi buah-buahan, melainkan proyeksi dari ketakutan, kebencian, dan prasangka sosial yang paling dalam yang masih penonton simpan terhadap perempuan.

Virginia Woolf dalam bukunya A Room of One’s Own pernah menulis: “Selama berabad-abad, perempuan telah berperan sebagai cermin yang memiliki kekuatan magis dan mempesona untuk memantulkan sosok laki-laki dengan ukuran dua kali lipat dari ukuran aslinya.” Sepanjang sejarah, fungsi utama perempuan dalam masyarakat bukan untuk menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi “cermin” bagi laki-laki. Perempuan yang menjadi cermin itu memantulkan sosok laki-laki menjadi dua kali lipat lebih besar, lebih hebat, dan lebih berkuasa dari kenyataannya.

Karena untuk merasa superior, seseorang seringkali membutuhkan orang lain untuk berada di posisi inferior (lebih rendah).

Karakter buah perempuan dibuat sangat agresif, licik, dan rela melakukan apa saja demi mendapatkan si lelaki. Ini adalah “cermin” yang memantulkan sosok laki-laki sebagai sosok yang sangat diinginkan dan bernilai tinggi (high value), padahal sebenarnya biasa saja. 

Woolf menggunakan kata “magis” dan “mempesona” bukan karena cermin itu indah, melainkan karena hal itu meninabobokkan laki-laki. Ini adalah sebuah ilusi yang sangat nyaman. Siapa yang tidak suka merasa dirinya dua kali lebih hebat dari aslinya?

Laki-Laki Butuh Perempuan Sebagai Bahan Bakar Percaya Dirinya

Woolf menulis, jika perempuan mulai memiliki dunianya sendiri, memiliki uang sendiri, dan mulai mengkritik laki-laki secara jujur, maka pantulan di cermin itu akan kembali ke ukuran aslinya. 

Laki-laki akan terlihat sebagai manusia biasa dengan segala kekurangannya, bukan raksasa lagi. “Sebab jika ia (perempuan) mulai mengatakan kebenaran, sosok di dalam cermin itu akan mengecil; kesesuaian dirinya (laki-laki) untuk menjalani hidup akan berkurang. 

Bagaimana mungkin ia bisa terus memberi penghakiman, menjajah bangsa lain, membuat hukum, menulis buku, berpakaian rapi dan berpidato di jamuan makan, kecuali ia (laki-laki) bisa melihat dirinya sendiri saat sarapan dan makan malam setidaknya dua kali lipat dari ukuran aslinya?”

Virginia Woolf menulis buku ini setelah dia mengunjungi perpustakaan British Museum dan menemukan fakta bahwa hampir semua buku tentang perempuan ditulis oleh laki-laki, dan buku-buku itu sering kali ditulis dengan nada marah. 

Woolf bertanya-tanya “Kenapa laki-laki marah kalau mereka sebenarnya adalah pihak yang berkuasa?” Woolf menyadari bahwa kemarahan para penulis laki-laki itu bukan karena mereka benar-benar menganggap perempuan itu bodoh atau lemah, melainkan karena mereka perlu meyakinkan diri mereka sendiri bahwa perempuan itu lemah.

Narasi tentang perempuan yang diciptakan laki-laki ini masih bertahan sampai sekarang melalui narasi drama buah-buahan ini. Laki-laki menulis tentang bagaimana perempuan harus bersikap. Para kreator ini menggunakan AI untuk menciptakan dunia fantasi di mana laki-laki bisa kembali memegang kendali.

Sama seperti yang dikatakan Woolf, kebenaran hanya akan muncul ketika perempuan mulai bicara jujur tentang dirinya sendiri, dan tidak takut mengkritik laki-laki. Saat itulah sosok “raksasa” yang dibangun oleh drama-drama kebencian itu akan menyusut ke ukuran aslinya.

Serangan Balik Saat Perempuan Mulai Maju

Kenapa di tahun 2026, di saat kita sudah bicara tentang kepemimpinan perempuan dan kesetaraan, konten yang menghina perempuan seperti drama buah-buahan ini justru meledak? 

Susan Faludi dalam buku Backlash: The Undeclared War Against American Women menjelaskan bahwa setiap kali perempuan mulai mendapatkan kemajuan, kemandirian, atau kebebasan, akan ada serangan balik (backlash) dari budaya populer. 

Serangan ini tidak selalu dalam bentuk kebijakan politik, tapi lewat cerita-cerita yang menggambarkan perempuan mandiri sebagai sosok yang berbahaya, tidak bahagia, atau jahat. Dalam drama buah AI, si perempuan strawberry yang “seksi” atau “mandiri” selalu berakhir menjadi perusak rumah tangga atau pengkhianat.

Setiap kali perempuan berhasil mendapatkan sedikit kekuatan, kemandirian, atau hak, akan selalu ada reaksi keras dari budaya patriarki untuk menarik perempuan kembali ke “tempatnya”. Faludi mencatat dalam analisisnya terhadap film-film Hollywood (seperti Fatal Attraction), bahwa ada pola di mana perempuan yang independen atau “menyimpang” harus berakhir dengan kematian, penderitaan, atau kegilaan.

Menanam Kebencian Lewat Algoritma

Penonton perlahan-lahan menginternalisasi bahwa ini adalah cara normal melihat hubungan, melihat perempuan, melihat kesetiaan dan pengkhianatan. 

Budaya dibangun melalui hal-hal yang repetitif. Teori yang paling pas menjelaskan ini adalah Cultivation Theory atau Teori Kultivasi, yang dikembangkan oleh George Gerbner. Gerbner bilang bahwa media, terutama yang kita konsumsi secara rutin dan berulang-ulang, bukan cuma menghibur. Ia membudidayakan persepsi kita tentang realitas sosial. Semakin sering kita terpapar pola cerita yang sama, semakin kita mulai melihat dunia nyata sesuai dengan pola itu.

Menurut Gerbner, televisi (dan sekarang TikTok, YouTube Shorts, atau video pendek lain) adalah sistem cerita paling dominan di masyarakat modern. Ia menyajikan pesan-pesan yang homogen berulang dan konsisten. Bukan satu cerita, tapi ratusan cerita dengan tema yang mirip. Hasilnya? Penonton berat (yang menonton berjam-jam per hari) mulai punya pandangan yang menyatu dengan narasi media itu.

Resonansi terjadi kalau pesan media bersinggungan dengan pengalaman pribadi kita. Kalau kamu pernah dikhianati, atau pernah lihat teman yang selingkuh, atau punya ketakutan soal pasangan matre, maka video buah-buahan ini terasa jadi “benar”. Repetisi membuat ketakutan atau kemarahan itu semakin kuat dan terasa seperti kebenaran umum, bukan cuma pengalaman pribadi.

Baca juga: Yang Fana Itu Pasangan AI, Kerusakannya Abadi: Feminisme Memandang Perempuan Menikah dengan AI

Repetisi ini diperkuat oleh algoritma. Platform seperti TikTok dirancang untuk memberi kita lebih banyak dari apa yang kita tonton lama. Kalau kamu stay sampai habis satu video dan kasih like atau komentar, algoritma akan kasih lebih banyak video serupa. Penonton bukan cuma sedang melihat buah-buahan kartun yang lucu, tapi sedang ikut merawat “kebun” budaya misogini yang sedang tumbuh di kepala.

Suatu hari kita mungkin bangun dan sadar bahwa cara kita melihat perempuan, hubungan, kesetiaan, dan keadilan sudah berubah, dan perubahannya datang dari sekumpulan strawberry, pisang, dan apel yang kita anggap cuma hiburan absurd. 

Kita tidak boleh lupa bahwa setiap kali kita tertawa atau merasa puas melihat buah-buahan perempuan itu dihina, ada sebiji benih kebencian yang tertanam di alam bawah sadar kita.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.