Tidak semua orang yang tiba di dekat Ka’bah membawa niat yang sama. Ada yang datang untuk beribadah. Ada yang datang karena rindu yang lama ditahan. Ada juga yang datang setelah bertahun-tahun menyisihkan uang, menunggu kesempatan, dan mempersiapkan diri. Namun dalam Christians at Mecca terbitan Wentworth Press karya Augustus Ralli, kita bertemu dengan orang-orang yang datang karena dorongan lain. Mereka memakai nama baru, menyesuaikan pakaian, dan menyusun identitas dengan sangat hati-hati. Mereka bukan jamaah haji seperti yang biasa kita bayangkan. Mereka adalah orang-orang Eropa yang ingin masuk ke Makkah, kota yang sejak lama hidup dalam bayangan mereka sebagai tempat yang tertutup, jauh, dan menggoda rasa ingin tahu.
Kisah mereka membuat buku ini menarik sekaligus mengganggu. Ralli mengumpulkan cerita para pelancong Eropa yang berhasil mencapai Makkah dari abad ke-16 sampai akhir abad ke-19. Ada petualang, budak, sarjana, mualaf, bangsawan, orientalis, dan penulis perjalanan. Di halaman awal, Ralli menyatakan bahwa bukunya hendak menyajikan kisah perjalanan para peziarah itu dan ringkasan pengamatan mereka tentang Makkah serta penduduknya (Ralli, 1909/2016, hlm. v). Pernyataan itu terdengar biasa. Namun isi buku ini tidak biasa. Ia membawa pembaca ke wilayah nan lencun, antara iman dan penyamaran, antara keberanian dan pelanggaran, antara pengetahuan dan kuasa.
Menyebut buku ini sebagai cerita “orang Kristen naik haji” terasa menggoda, tetapi terlalu semenjana. Haji adalah ibadah Islam. Tidak semua tubuh yang hadir di Makkah otomatis masuk ke dalam makna haji. Justru di situlah letak persoalannya. Beberapa tokoh dalam buku ini hadir sebagai Muslim. Sebagian mungkin sungguh-sungguh berpindah agama. Sebagian liyan memakai identitas Islam sebagai jalan masuk. Mereka tahu bahwa Makkah bukan kota yang terbuka bagi semua orang. Ralli mencatat bahwa sejak 629 Masehi, orang yang dianggap kafir tidak boleh memasuki kota itu (Ralli, 1909/2016, hlm. 2). Larangan itu tidak hanya menjaga kota. Larangan itu juga menyalakan obsesi.
Tatkala Larangan Menjadi Undangan
Bagi umat Muslim, Makkah adalah pusat ibadah. Ia bukan sekadar tempat di peta, melainkan arah hidup, arah sembahyang, dan pusat ingatan spiritual. Bagi banyak pelancong Eropa dalam buku Ralli, Makkah menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi kota yang tidak boleh dilihat, dan karena itu justru ingin dilihat. Ia menjadi rahasia yang menggoda. Ia menjadi batas yang ingin mereka uji.
Ralli menggambarkan Makkah sebagai kota yang terletak di lembah gurun. Jalannya rendah dan berliku. Seorang pelancong bahkan baru menyadari bahwa ia telah tiba ketika ia sudah berada di dalam kota (Ralli, 1909/2016, hlm. 3). Deskripsi ini sederhana, tetapi kuat. Makkah tidak muncul seperti kota yang memamerkan diri dari jauh. Ia datang secara perlahan. Ia seperti disembunyikan oleh alam dan dijaga oleh aturan agama.
Namun Ralli juga memperlihatkan Makkah sebagai kota yang hidup. Kota itu membutuhkan pasokan makanan dari luar. Beras, tepung, dan kebutuhan harian datang dari tempat lain. Musim haji menjadi denyut besar bagi ekonominya (Ralli, 1909/2016, hlm. 4). Dengan detail seperti ini, Makkah tidak tampil hanya sebagai lambang kesucian. Ia juga menjadi kota pasar, kota penginapan, kota pemandu, kota sewa kamar, kota pertemuan manusia dari berbagai arah.
Di ruang seperti itulah para pelancong Eropa masuk. Mereka tidak memasuki panggung kosong. Mereka memasuki kota dengan aturan, bahasa, kebiasaan, jaringan sosial, dan kewaspadaan. Mereka harus membaca tanda. Mereka harus menahan rasa gugup. Mereka harus tahu kapan berbicara dan kapan diam. Satu jawaban yang salah dapat membuat penyamaran runtuh.
Tubuh yang Harus Meyakinkan
Bagian yang paling menarik dari buku Ralli bukan hanya jalur perjalanan, melainkan bagaimana tubuh para penyamar itu harus bekerja. Sebelum memasuki Makkah, seorang peziarah harus mengenakan ihram. Ralli menjelaskan bahwa pakaian itu terdiri dari dua helai kain sederhana yang menggantikan pakaian biasa (Ralli, 1909/2016, hlm. 13). Bagi jamaah Muslim, ihram adalah bagian dari ibadah. Ia mengatur tubuh dan hati. Ia menandai keadaan khusus di hadapan Tuhan.
Bagi orang Eropa yang menyamar, ihram menjadi ujian. Pakaian dapat diganti, tetapi kebiasaan tubuh tidak mudah dihapus. Cara berjalan dapat membocorkan asal seseorang. Cara menjawab salam dapat membuat orang curiga. Cara mengucapkan doa dapat terdengar janggal. Cara diam pun bisa salah. Mereka harus tampil wajar. Mereka harus terlihat seperti orang yang memang tahu apa yang sedang ia lakukan.
Ralli meneroka bahwa peziarah yang tiba di Makkah biasanya memilih pemandu atau mutawwif. Pemandu ini mengajarkan doa, mengatur sujud, membantu urusan makan, dan mencarikan penginapan (Ralli, 1909/2016, hlm. 14). Bagi jamaah biasa, mutawwif adalah penolong. Bagi penyamar, ia bisa menjadi penolong sekaligus ancaman. Ia memandu langkah, tetapi ia juga melihat dari dekat. Ia dapat melindungi, tetapi ia juga dapat menjadi orang pertama yang menaruk syak.
Puncak haji berada di Arafah. Ralli mencatat bahwa kehadiran di Arafah menjadi bagian utama ibadah, dan peziarah yang hadir di sana dapat memakai gelar haji (Ralli, 1909/2016, hlm. 14). Di titik ini muncul pertanyaan yang tidak nyaman. Apa arti kehadiran fisik jika hati tidak berada di dalam iman yang sama? Apakah seseorang yang meniru ritus dapat disebut beribadah? Atau ia hanya sedang memainkan peran untuk membawa pulang cerita?
Buku ini menarik karena tidak memberi jawaban tunggal. Ia justru membuat pembaca bertanya lebih jauh. Di mana batas antara perjalanan dan ibadah. Di mana batas antara belajar dan menyusup. Di mana batas antara rasa ingin tahu dan pelanggaran kepercayaan.
Nama, Hidup, Risiko
Ralli menyusun para tokohnya dalam rentang sejarah yang panjang. Ia memulai dari Ludovico Bartema pada 1503, lalu Vincent Le Blanc pada 1568, Johann Wild pada 1607, Joseph Pitts pada 1680, Ali Bey pada 1807, Burckhardt pada 1814 sampai 1815, Giovanni Finati pada 1814, Leon Roches pada 1841 sampai 1842, Richard Burton pada 1853, Snouck Hurgronje pada 1885, dan Gervais-Courtellemont pada 1894 (Ralli, 1909/2016, hlm. vii-viii). Senarai ini penting karena selama ini nama Richard Burton sering tampak terlalu besar. Buku Ralli menunjukkan bahwa Burton bukan satu-satunya. Ia hanya salah satu tokoh dari tradisi panjang orang Eropa yang ingin melihat Makkah dari dalam.
Nama-nama yang mereka pakai juga menyimpan cerita. Burton memakai nama Shaykh Haj Abdallah. Burckhardt memakai nama Shaykh Haj Ibrahim. Keane memakai nama Haj Mohammed Amin. Snouck Hurgronje memakai nama Abd el-Gaffar (Ralli, 1909/2016, hlm. vii-viii). Nama itu bukan hiasan. Nama adalah kunci. Nama membantu seseorang diterima. Nama meredakan kecurigaan. Nama membuka akses. Namun nama juga membawa beban moral. Ketika seseorang memakai nama Islam untuk memasuki Makkah, ia tidak hanya memalsukan identitas administratif. Ia meminjam tanda kepercayaan sebuah umat.
Tentu saja, tidak semua tokoh dapat dipukul rata. Joseph Pitts punya kisah perbudakan dan perubahan keyakinan. Giovanni Finati bergerak dalam sejarah perang dan pergantian identitas. Snouck Hurgronje datang sebagai sarjana yang kelak terkait erat dengan politik kolonial Belanda. Perbedaan ini penting agar pembaca tidak menilai semua orang dengan satu cap. Namun pola yang lebih besar tetap terlihat. Makkah menjadi kota yang ingin dilihat, dicatat, dan dibawa pulang ke dalam bahasa Eropa.
Catatan yang Tidak Pernah Netral
Salah satu contoh penting muncul dalam pembahasan Ralli tentang Burckhardt. Ralli menyebut karya Burckhardt sebagai salah satu dasar pengetahuan yang dianggap akurat tentang Makkah. Ia bahkan mencatat bahwa deskripsi Burckhardt tentang Masjidil Haram sangat kuat, sampai Burton sendiri mengaku sulit memperbaikinya (Ralli, 1909/2016, hlm. 74). Ini menunjukkan bahwa para pelancong itu tidak hanya membawa kisah bahaya. Mereka membawa data.
Data itu membuat buku ini berharga. Kita mendapat gambaran tentang jalan, pasar, penginapan, Masjidil Haram, pemandu haji, dan suasana jamaah. Ralli mencatat bahwa jamaah datang dari berbagai wilayah, seperti Arab, Turki, Persia, Suriah, Mesir, India, Melayu, Jawa, Afrika, Tatar, Bukhara, hingga Cina (Ralli, 1909/2016, hlm. 11-12). Ini memperlihatkan Makkah sebagai kota dunia. Jauh sebelum kata globalisasi menjadi bahasa seminar, manusia dari berbagai benua sudah bertemu di sana karena ibadah.
Akan tetapi data itu tidak boleh dibaca dengan naif. Sebagian catatan lahir dari penyamaran. Sebagian pengamatan dilakukan terhadap orang-orang yang tidak tahu bahwa kehidupan mereka sedang dipindahkan ke dalam buku untuk pembaca Eropa. Di sinilah letak masalahnya. Pengetahuan memang dapat berguna. Namun cara mendapatkan pengetahuan tetap perlu diperiksa.
Pembaca hari ini perlu membawa tiga pertanyaan ketika membaca teks perjalanan seperti ini. Siapa yang menulis. Dari posisi apa ia melihat. Untuk siapa ia menulis. Tanpa tiga pertanyaan itu, kita mudah terpesona oleh cerita petualangan dan lupa pada hubungan kuasa di baliknya. Kisah orang masuk Makkah dengan menyamar memang menegangkan. Namun ketegangan itu tidak boleh membuat kita lupa pada etika.
Snouck dan Jejak yang Sampai ke Nusantara
Bagi pembaca Indonesia, nama Snouck Hurgronje membuat buku ini terasa lebih dekat. Ralli memasukkan Snouck sebagai Christian Snouck Hurgronje dengan nama Abd el-Gaffar, dan menempatkannya dalam bagian akhir buku (Ralli, 1909/2016, hlm. viii). Kehadiran Snouck mengubah kisah ini dari sekadar cerita Makkah menjadi cerita yang sampai ke Hindia Belanda.
Snouck bukan pelancong biasa. Ia sarjana yang mempelajari Islam dengan serius. Namun pengetahuannya kelak bergerak ke ruang kolonial. Ia berhubungan dengan kebijakan Belanda terhadap masyarakat Muslim di Hindia. Di sini, pengetahuan tidak tinggal sebagai catatan akademik. Ia dapat berubah menjadi alat pemerintahan. Ia dapat membantu negara kolonial membaca ulama, jamaah, pesantren, jaringan haji, dan gerakan sosial.
Bab tentang Snouck dapat menjadi jantung pembacaan buku ini untuk Indonesia. Dari Makkah, pengetahuan mengalir ke Aceh. Dari kajian Islam, ia bergerak ke strategi kolonial. Dari observasi keagamaan, ia masuk ke kantor pemerintahan. Perjalanan ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu berdiri di luar kekuasaan. Sering kali ia berjalan bersamanya.
Pelajaran ini masih relevan. Di kampus dan lembaga riset hari ini, orang sering berbicara tentang data, akses lapangan, dan publikasi. Buku Ralli mengingatkan bahwa akses bukan hanya persoalan izin. Akses juga menyangkut kepercayaan. Data bukan hanya bahan analisis. Data membawa jejak cara ia diperoleh. Publikasi bukan hanya soal menyampaikan temuan. Publikasi juga soal kepada siapa pengetahuan itu diberikan dan untuk kepentingan apa ia dipakai.
Membaca Arsip dengan Kecurigaan Sehat
Ralli menulis untuk pembaca Inggris awal abad ke-20. Ia mengaku tidak memakai ejaan Arab yang terlalu ketat agar bukunya mudah dibaca (Ralli, 1909/2016, hlm. v). Pilihan itu wajar bagi penulis populer, tetapi tetap perlu diperhatikan. Istilah Islam, pengalaman haji, dan kota Makkah disusun agar mudah masuk ke selera pembaca Eropa. Kemudahan membaca menjadi tujuan. Ketepatan pengalaman Muslim belum tentu menjadi pusat utama.
Oleh karena itu, Christians at Mecca sebaiknya dibaca dengan jarak. Buku ini penting sebagai arsip. Ia menyimpan nama, tahun, rute, dan kesaksian. Namun ia juga membawa bias zamannya. Ia memandang Makkah dari luar. Ia sering menempatkan keberanian para pelancong sebagai daya tarik utama. Ia tidak selalu memberi ruang cukup bagi pertanyaan tentang etika penyamaran.
Justru karena itu, buku ini tetap hidup. Ia tidak hanya memberi informasi tentang Makkah. Ia juga memperlihatkan bagaimana Eropa dulu membayangkan Makkah. Ia menunjukkan rasa kagum, rasa takut, rasa ingin tahu, dan rasa berhak melihat. Campuran inilah yang membuat buku lama seperti ini tidak bisa dibaca sebagai kebenaran utuh. Ia harus dibaca sebagai jejak zaman.
Kita dapat menghargai keberanian beberapa tokohnya, tetapi tidak perlu memujanya. Keberanian tidak otomatis membuat tindakan menjadi benar. Seseorang dapat menempuh bahaya dan tetap melanggar batas. Seseorang dapat menulis data penting dan tetap memakai cara yang bermasalah. Dalam hal ihwal ini, Christians at Mecca memberi pelajaran yang sederhana tetapi penting. Pengetahuan tidak cukup dinilai dari isinya. Ia juga harus dinilai dari jalan lahirnya.
Makkah yang Dibawa Pulang
Ralli mungkin ingin menulis kisah perjalanan yang menarik. Namun pembaca hari ini dapat membaca lapisan yang lebih dalam. Christians at Mecca adalah buku tentang Makkah yang dijaga dan Eropa yang ingin masuk. Ia juga buku tentang bagaimana kota suci dapat dipindahkan ke dalam bahasa orang luar. Ka’bah, Zamzam, Arafah, Mina, pasar, penginapan, dan jamaah masuk ke dalam kalimat-kalimat Eropa. Makkah tidak berpindah tempat, tetapi berpindah narasi.
Di sinilah istilah “Haji Para Penyamar” menemukan maknanya. Istilah itu tidak ditujukan kepada jamaah Muslim yang menjalankan ibadah. Istilah itu menunjuk pada orang-orang yang memakai tanda lahiriah haji untuk memasuki ruang yang mereka kejar sebagai pengetahuan. Mereka tidak seragam. Ada yang tulus. Ada yang terpaksa. Ada yang penuh ambisi. Ada yang sulit dimasukkan ke dalam kategori tunggal. Namun kisah mereka memperlihatkan satu persoalan yang sama. Identitas dapat menjadi alat. Iman dapat dipakai sebagai jalan masuk. Pengetahuan dapat lahir dari situasi yang tidak jujur.
Buku ini masih layak dibaca karena ia membuat kita lebih hati-hati terhadap arsip lama. Arsip tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan data, tetapi juga menyimpan cara pandang. Ia memberi informasi, tetapi juga menyimpan kepentingan. Christians at Mecca memperlihatkan bagaimana Makkah pernah menjadi rahasia yang diburu oleh Eropa. Ia juga memperlihatkan bahwa rahasia yang berhasil dibuka tidak selalu membuat manusia lebih bijak.
Pertanyaan yang tersisa tidak ringan. Apakah semua tempat boleh dimasuki atas nama ilmu. Apakah semua pengalaman boleh ditulis untuk pembaca yang tidak berbagi iman dan risiko. Apakah pengetahuan tetap bersih ketika ia lahir dari penyamaran.
Arkian, di dekat Ka’bah, para penyamar itu mungkin berhasil menjaga tubuh mereka. Mereka mungkin berhasil mengucapkan kata yang tepat, berjalan dengan langkah yang tepat, dan menahan kerikuhan pada saat yang tepat. Namun setelah mereka pulang, tulisan mereka membuka sesuatu yang lain. Mereka tidak hanya ingin melihat Makkah. Mereka ingin membawa Makkah pulang sebagai pengetahuan. Di situlah buku klasik Ralli terasa paling mengganggu. Ia bukan hanya cerita tentang orang Eropa yang memasuki kota suci. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah kota suci dapat dimiliki kembali melalui bahasa orang lain.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.




Comments are closed.