Fri,24 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kajian Hadits: Adab kepada Diri Sendiri Dimulai dari Pilihan Kata

Kajian Hadits: Adab kepada Diri Sendiri Dimulai dari Pilihan Kata

kajian-hadits:-adab-kepada-diri-sendiri-dimulai-dari-pilihan-kata
Kajian Hadits: Adab kepada Diri Sendiri Dimulai dari Pilihan Kata
service

Sering kali musuh paling keras dalam hidup bukanlah orang lain. Ia justru suara yang berbisik dari dalam diri sendiri.

Ketika gagal dalam pekerjaan, kita berkata, “Aku memang bodoh.” Saat melakukan kesalahan, kita menghakimi diri sendiri dengan kalimat, “Aku tidak becus.” Bahkan, tidak sedikit yang sampai menutup hari dengan vonis yang lebih kejam, “Aku memang tidak berguna.”

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Sekilas hanya luapan emosi sesaat. Namun, kata-kata yang terus diulang perlahan berubah menjadi cara kita memandang diri sendiri. Satu kegagalan tidak lagi dipahami sebagai sebuah peristiwa, melainkan sebagai identitas. Kita tidak lagi mengatakan, “Aku gagal,” tetapi mulai percaya bahwa “Aku adalah kegagalan.”

Psikologi modern menyebut kecenderungan ini sebagai overgeneralization, yakni kebiasaan menarik kesimpulan yang terlalu luas dari satu pengalaman buruk. Satu kesalahan dianggap cukup untuk mendefinisikan seluruh diri.

Aaron T. Beck, pelopor terapi kognitif, menjelaskan bahwa distorsi berpikir semacam ini sering menjadi pintu masuk lahirnya kecemasan, rasa rendah diri, bahkan depresi. Cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri akhirnya membentuk cara ia melihat kehidupannya. (Aaron T. Beck, “Thinking and Depression: I. Idiosyncratic Content and Cognitive Distortions,” Archives of General Psychiatry, jilid IX, nomor 4, 1963, halaman 324–333).

Lalu, bagaimana Islam memandang kebiasaan menghakimi diri dengan kata-kata yang buruk?

Menariknya, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan adab berbicara kepada orang lain. Beliau juga mengajarkan adab ketika seseorang berbicara kepada dirinya sendiri.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a.:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: خَبُثَتْ نَفْسِي، وَلَكِنْ لِيَقُلْ: لَقِسَتْ نَفْسِي.

Artinya, “Muhammad bin Yusuf menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, “Jiwaku buruk,” tetapi hendaklah ia mengatakan, “Jiwaku sedang tidak enak.”’” (Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari, [Beirut: Dar Thauq al-Najah, 1422 H], jilid VIII, halaman 41).

Hadits ini tidak menyuruh seseorang berpura-pura baik-baik saja. Nabi tidak menyangkal bahwa manusia bisa merasa mual, sesak, gelisah, atau sedang tidak nyaman. Beliau hanya mengajarkan agar keadaan itu disampaikan dengan pilihan kata yang lebih tepat. (Ahmad bin Umar Al-Qurtubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid V, halaman 555).

Kata khabutsat mengandung arti buruk, kotor, atau rusak. Ketika kata tersebut disandarkan kepada diri, kesannya menjadi sangat keras, seolah-olah seluruh pribadi seseorang telah dipenuhi keburukan.

Nabi menggantinya dengan kata laqisat, yang tetap menggambarkan keadaan tidak nyaman, tetapi tidak memberi cap buruk kepada seluruh diri. (Ahmad bin Umar Al-Qurtubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid V, halaman 555).

Imam Al-Qurtubi mengutip penjelasan Abu Ubaid:

معنى لقست وخبثت واحد، لكن كره لفظ الخبث، وشناعة اللفظ، وعلَّمهم الأدب في المنطق. وقال الأصمعي: لقست نفسي؛ أي: غثت. وقال ابن الأعرابي: ضاقت

Artinya, “Makna laqisat dan khabutsat berdekatan. Namun, Nabi tidak menyukai kata al-khubts karena terdengar buruk dan kasar. Beliau mengajarkan kepada mereka adab dalam berbicara. Al-Ashma’i menjelaskan bahwa laqisat nafsi berarti diriku terasa mual atau tidak enak, sedangkan Ibnu Al-A’rabi memaknainya sebagai jiwaku terasa sempit.” (Ahmad bin Umar Al-Qurtubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, [Damaskus-Beirut: Dar Ibnu Katsir dan Dar al-Kalim al-Thayyib, 1996], jilid V, halaman 555).

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa dua kata dapat memiliki arti yang hampir sama, tetapi menimbulkan rasa yang berbeda. Ada kata yang sekadar menjelaskan keadaan, ada pula yang terdengar seperti penghinaan dan penghakiman.

Anwar Shah Al-Kashmiri menjelaskan:

واعلم أن القباحةَ في اللفظ قد تَحْدُث من استعماله في الموارد القبيحة، كالبليد، فإنَّه لا يوازي الحمارَ في الشناعة، مع أنَّ المرادَ منهما واحدٌ. أَرَ ترى أنك إذا قلت لأحدٍ: أيُّها البليدُ، فإنه لا يَنْقَبِضُ منه، كانقباضه من: أيُّها الحمارُ؟ فدلَّ على أن الطبائعَ تَنْقَبِضُ عند لفظٍ يختصُّ في الاستعمال بالموارد القبيحة، وإن كان معناه قريبًا من لفظٍ آخر ليس على هذه الصفة

Artinya, “Ketahuilah bahwa buruknya suatu ungkapan terkadang muncul karena kata tersebut biasa digunakan dalam konteks yang buruk. Kata ‘lamban’, misalnya, tidak sekasar kata ‘keledai’, meskipun keduanya dapat digunakan untuk menunjukkan maksud yang berdekatan.

Ketika seseorang disebut ‘lamban’, ia tidak merasa sesakit ketika disebut ‘keledai’. Hal ini menunjukkan bahwa manusia merasa tidak nyaman terhadap kata yang biasa digunakan sebagai penghinaan, meskipun maknanya berdekatan dengan kata lain yang lebih halus.” (Muhammad Anwar Shah Al-Kashmiri, Faidhul Bari ‘ala Shahih Al-Bukhari, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005], jilid VI, halaman 174).

Oleh karena itu, ucapan “Aku gagal dalam ujian ini” berbeda dengan “Aku ini manusia gagal.” Kalimat pertama membicarakan satu pengalaman, sedangkan kalimat kedua memberi cap kepada seluruh diri. Begitu pula, “Aku telah melakukan kesalahan” berbeda dengan “Aku memang orang yang tidak berbakat.” Ucapan pertama masih membuka ruang untuk meminta maaf dan berubah. Ucapan kedua justru dapat membuat seseorang kehilangan harapan. (Faidhul Bari, jilid VI, halaman 174).

Dalam psikologi kognitif, kecenderungan mengambil satu pengalaman lalu menjadikannya kesimpulan umum disebut overgeneralization. Seseorang gagal sekali, lalu berkata, “Aku selalu gagal.” Ia melakukan satu kesalahan, lalu menyimpulkan, “Aku selalu menyusahkan orang lain.” Pola seperti ini membuat seseorang menilai dirinya secara tidak adil. (Aaron T. Beck, “Thinking and Depression,” jilid IX, halaman 328–329).

Lebih lanjut lagi, Kristin Neff menyebut sikap yang sehat kepada diri sebagai self-compassion. Sikap ini bukan berarti membenarkan kesalahan atau memanjakan diri. Seseorang tetap bertanggung jawab, tetapi tidak harus menghina dirinya untuk bisa berubah. (Kristin D. Neff, “Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude toward Oneself,” [London: Taylor & Francis, 2003], jilid II, nomor 2, halaman 85–101).

Kontekstualisasinya terhadap hubungan kita sebagai hamba dengan Allah sebagai Tuhan saat berdoa, kita dapat mengakui kesalahan dan kekhilafan kepada-Nya, bertobat, meminta ampunan, dan memperbaiki diri. Namun, jangan menjadikan dosa sebagai alasan untuk meyakini bahwa diri tidak mungkin berubah. Kesalahan harus diperbaiki, bukan dijadikan identitas, sebagaimana kata Al-Ityubi (Dzakhirah al-Uqba fi Syarh al-Mujtaba, jilid XVII, halaman 293).

Jadi, hadits ini menunjukkan bahwa adab tidak hanya berlaku ketika berbicara kepada orang lain. Kita juga perlu menjaga kata-kata yang diarahkan kepada diri sendiri. Sebab, kata-kata terkadang dapat memberikan kita sugesti dalam melihat jalan keluar di tengah problem kehidupan. Wallahu a’lam.

————
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.