Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Uniknya Terminal Palbapang Bantul yang Ternyata Adalah Bekas Stasiun Palbapang

Uniknya Terminal Palbapang Bantul yang Ternyata Adalah Bekas Stasiun Palbapang

uniknya-terminal-palbapang-bantul-yang-ternyata-adalah-bekas-stasiun-palbapang
Uniknya Terminal Palbapang Bantul yang Ternyata Adalah Bekas Stasiun Palbapang
service

8 Juni 2026 17.38 WIB • 2 menit

Kantor Terminal Palbapang | Ris00l may00 /Wikipedia


Terminal Palbapang adalah terminal tipe C yang melayani simpul transportasi moda angkutan umum di Yogyakarta. Terletak di Jalan Srandakan No. 52a, Desa Palbapang, Kapanewon Bantul, terminal ini melayani rute Trans Jogja dan DAMRI.

Meskipun dikategorikan sebagai terminal kecil, tetapi Terminal Palbapang punya sejarah panjang dan unik. Di masa lalu, ternyata bangunan yang kini dikenal masyarakat setempat sebagai Terminal Palbapang adalah bekas Stasiun Palbapang (PLP).

Stasiun KA ini merupakan peninggalan sejak era kolonial Belanda. Stasiun Palbapang didirikan sekitar tahun 1895 oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) sebagai bagian dari pengembangan jalur trem Yogyakarta–Srandakan–Sewugalur.

Stasiun Palbapang yang Pernah Eksis di Masanya

Disadur dari situs Pemerintah Kabupaten Bantul, Stasiun Palbapang pernah menjadi yang besar di lintas selatan Kota Yogyakarta. Emplasemennya sangat luas. Di sebelah timur stasiun, Belanda juga membangun depo lokomotif yang digunakan untuk “merawat” kereta.

Kala itu, Stasiun Palbapang bukan sekadar tempat naik-turun penumpang. Stasiun ini menjadi urat nadi ekonomi Kabupaten Bantul. Stasiun Palbapang memiliki peran vital dalam mengangkut hasil bumi, utamanya tebu. Tebu-tebu itu kemudian dikirim untuk diproduksi menjadi gula di berbagai pabrik gula di sekitarnya, seperti Pabrik Gula Pundong, Gesikan, dan Sewu Galur.

Menariknya, jalur ini awalnya menggunakan lebar sepur 1.435 mm. Dikatakan bahwa spesifikasi semacam ini jarang ditemukan di jalur kereta api Indonesia lainnya. Namun, jalur tersebut dibongkar di era pendudukan Jepang dan diubah menjadi 1.067 mm.

Kawan GNFI, sejarah awal pengoperasian kereta di Hindia Belanda bermula saat kereta masih menggunakan bahan bakar batu bara dan kayu jati. Di masa lalu, kereta uap yang melewati jalur Yogyakarta-Palbapang menjadi andalan transportasi masyarakat.

Akan tetapi, kejayaan stasiun ini mulai meredup saat dunia dilanda krisis ekonomi besar atau Malaise pada tahun 1931-1935. Banyak perusahaan perkebunan asing menyerahkan kembali hak konsensinya, yang berujung pada sepinya lalu lintas kereta api.

Kondisi itu semakin buruk saat pendudukan Jepang pada tahun 1942. Saat itu, rel-rel kereta api dibongkar untuk kepentingan perang Asia Raya, termasuk dikirim ke Burma dan Saketi.

Lebih lanjut, melalui Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, selama masa perjuangan kemerdekaan (Clash II) tahun 1948-1949, rakyat setempat sengaja merusak prasarana kereta api untuk merintangi pergerakan tentara Belanda. Hal ini membuat Stasiun Palbapang dinonaktifkan.

Namun, stasiun sempat kembali diaktifkan pada tahun 1954. Akan tetapi, Stasiun Palbapang dinonaktifkan lagi dan sepenuhnya berhenti beroperasi untuk layanan kereta api pada pertengahan 1970-an. Hal ini disebabkan oleh semakin berkembangnya angkutan umum seperti bus dan “colt” yang dianggap lebih efektif bagi warga Bantul.

Transformasi Menjadi Cagar Budaya dan Terminal

Setelah tidak lagi berfungsi sebagai stasiun, bangunan ini sempat dimanfaatkan sebagai Kantor Markas Legiun Veteran Kabupaten Bantul. Kemudian, pada tanggal 20 Juli 1990, kawasan emplasemen stasiun diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul untuk beralih fungsi menjadi terminal bus.

Terminal bus itu dinamakan Terminal Palbapang. Uniknya, dari segi arsitektur, kantor terminal tersebut betul-betul terlihat selayaknya bangunan stasiun kereta api khas peninggalan Belanda.

Bangunan eks Stasiun Palbapang memiliki gaya Indis, sebuah perpaduan unik antara unsur Eropa dan lokal Jawa dengan tipe atap limasan dan lantai teraso. Demi menjaga kelestariannya, pemerintah telah menetapkan eks Stasiun Palbapang sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Bupati Bantul No. 458 Tahun 2016.

Kini, bekas jalur rel sudah tak nampak lagi. Pemerintah Bantul sudah sepenuhnya memugar stasiun menjadi terminal sejak tahun 1990 silam. Saat ini, Terminal Palbapang menjadi titik transit penumpang yang ingin menggunakan angkutan umum seperti DAMRI dan Trans Jogja.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.