Bayangkan kita berada di sebuah ruangan yang seluruh dindingnya dipenuhi cermin. Ke mana pun kita memandang, yang terlihat adalah pantulan: pantulan diri kita, orang-orang di sekitar, dan berbagai benda yang ada di ruangan itu. Pantulan tentu bukan hakikat. Ia tampak nyata, tetapi sesungguhnya hanya bayangan dari sesuatu yang lain. Meski demikian, sering kali justru pantulan itulah yang memengaruhi kesadaran dan perilaku manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat keberhasilan, kepedulian, kebajikan, religiositas, dan kemajuan. Namun bisa jadi semua itu tidak lebih dari pantulan. Semuanya tampak nyata. Semuanya tampak meyakinkan. Akan tetapi, semakin lama kita menatapnya, semakin sulit membedakan mana yang sungguh-sungguh ada dan mana yang sekadar bayangan.
Inilah salah satu ciri khas zaman digital. Kita hidup dalam lapisan-lapisan ilusi yang halus dan nyaris tak terasa. Citra sering kali lebih berpengaruh daripada kenyataan. Penampilan lebih menentukan daripada isi. Sesuatu dianggap benar bukan karena terbukti benar, melainkan karena berhasil terlihat benar. Dari politik hingga kehidupan sehari-hari, dari ruang digital hingga ruang keagamaan, kita diselimuti budaya seolah-olah: dunia yang dipenuhi simbol, slogan, pencitraan, serta berbagai pertunjukan yang kadang lebih menyerupai gincu daripada substansi.
Di ruang politik, misalnya, demokrasi tampak berjalan baik, tetapi kritik kerap diperlakukan sebagai gangguan. Kesejahteraan terlihat meningkat, tetapi kesenjangan masih terasa di banyak tempat. Kepedulian sosial tampak tumbuh di mana-mana, tetapi empati yang sungguh-sungguh justru sering sulit ditemukan. Persahabatan terlihat hangat di layar gawai, tetapi kesepian diam-diam menjelma menjadi gejala sosial yang semakin meluas.
Di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi, paradoks semacam itu terus membesar. Sosiolog Kanada, Erving Goffman, sejak lama mengingatkan bahwa kehidupan sosial menyerupai panggung teater. Setiap orang memainkan peran tertentu di hadapan publik. Ada panggung depan (front stage), tempat seseorang menampilkan versi terbaik dirinya. Ada pula panggung belakang (back stage), tempat segala sesuatu yang tidak ingin dipertontonkan disimpan rapat-rapat.
Dalam masyarakat tradisional, batas antara keduanya relatif tipis. Orang mengenal satu sama lain melalui pergaulan yang panjang. Reputasi dibangun oleh pengalaman, bukan oleh penampilan sesaat. Namun perkembangan teknologi digital telah mengubah seluruh tata panggung tersebut. Ruang digital memungkinkan panggung depan berkembang hampir tanpa batas.
Hari ini, setiap individu memiliki kesempatan untuk membangun identitas yang diinginkannya. Foto dapat dipilih. Narasi dapat dirancang. Kesan dapat dipoles. Kehidupan sehari-hari perlahan berubah menjadi proyek kurasi tanpa akhir. Apa yang ditampilkan tidak selalu sama dengan apa yang dijalani.
Di sinilah persoalannya. Yang dinilai bukan lagi siapa seseorang sebenarnya, melainkan bagaimana ia tampil. Karena itu, kita sering menjumpai paradoks yang ganjil: tampak bijaksana tanpa kebijaksanaan, tampak religius tanpa kedalaman spiritual, tampak peduli tanpa empati, bahkan tampak berhasil tanpa keberhasilan yang sungguh-sungguh.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika batas antara kenyataan dan representasi perlahan menghilang. Dalam sebuah pertunjukan teater, penonton masih sadar bahwa yang disaksikannya hanyalah lakon. Masih ada garis yang jelas antara panggung dan realitas. Namun dalam masyarakat kontemporer, garis itu semakin kabur. Filsuf Prancis Jean Baudrillard menyebut keadaan ini sebagai dunia simulakra, yaitu ketika representasi tidak lagi mencerminkan kenyataan, melainkan menggantikannya. Citra tidak lagi menjadi bayangan realitas, tetapi menjelma sebagai realitas itu sendiri.
Dalam ekosistem seperti itulah kita hidup hari ini. Kita mengenal banyak hal bukan melalui pengalaman langsung, melainkan melalui statistik, survei, slogan, konten digital, laporan media, dan berbagai simbol yang terus diproduksi tanpa henti. Akibatnya, pertanyaan yang paling penting diam-diam bergeser. Bukan lagi, “Apakah ini benar?”, melainkan “Apakah ini tampak benar?” Bukan lagi, “Apakah kebijakan ini berhasil?”, melainkan “Apakah kebijakan ini terlihat berhasil?” Bukan lagi, “Apakah seseorang memiliki integritas?”, melainkan “Apakah citranya terlihat berintegritas?”
Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar. Ketika penampilan menjadi ukuran utama, substansi perlahan kehilangan tempatnya. Gejala tersebut tampak jelas dalam kehidupan sosial-politik. Kita menyaksikan bahwa kekuasaan modern tidak hanya bekerja melalui hukum, birokrasi, atau aparat. Ia juga bekerja melalui pengelolaan persepsi. Sosiolog Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai kekuasaan simbolik, yakni kemampuan membentuk cara masyarakat memahami kenyataan melalui bahasa, simbol, dan representasi.
Dalam situasi seperti itu, kehidupan sosial dan politik berubah menjadi seni mengelola citra. Keberhasilan harus divisualisasikan. Kepedulian harus dipertontonkan. Kedekatan dengan rakyat atau tokoh tertentu harus didokumentasikan. Program publik harus dikemas seperti produk yang siap dipasarkan. Yang penting bukan hanya bekerja, tetapi terlihat bekerja. Bukan hanya hadir, tetapi terlihat hadir. Bukan hanya berhasil, tetapi terlihat berhasil.
Karena itu, kritik sering dianggap mengganggu. Padahal kritik justru merupakan mekanisme yang menjaga agar panggung tidak sepenuhnya terlepas dari kenyataan. Ketika kritik disingkirkan, masyarakat perlahan kehilangan akses terhadap realitas. Yang tersisa hanyalah narasi yang terus diproduksi dan diulang-ulang.
Yang lebih mengkhawatirkan, budaya seolah-olah tidak hanya hidup dalam ruang politik. Ia merembes masuk ke ruang yang paling pribadi. Persahabatan berubah menjadi jejaring. Kepedulian menjadi unggahan. Kesedihan menjadi konten. Kebaikan menjelma komoditas simbolik yang dipertontonkan demi memperoleh pengakuan. Bahkan keahlian dan kepakaran kadang diukur lebih banyak oleh visualisasi dan pencitraan daripada oleh kualitas karya dan kedalaman pengetahuan.
Akibatnya, manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri. Ia berbicara agar didengar, bukan agar benar. Ia tampil agar dipuji, bukan agar berguna. Ia hidup untuk dipandang, bukan untuk menjadi. Di sinilah persoalan budaya seolah-olah bertemu dengan persoalan spiritual.
Kita hidup di zaman yang mendorong manusia untuk terus tampil. Zaman yang membuat orang lebih sibuk membangun kesan daripada karakter, lebih rajin mengelola citra daripada memperbaiki diri, lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan integritas. Neil Postman pernah mengingatkan bahwa manusia modern berisiko “menghibur dirinya menuju kehancuran” karena seluruh kehidupan berubah menjadi tontonan. Pada titik itu, nilai suatu hal tidak lagi ditentukan oleh manfaat dan kebenarannya, melainkan oleh daya tarik dan popularitasnya.
Budaya seolah-olah pada akhirnya melahirkan krisis keaslian. Martin Heidegger menyebut bahwa manusia dapat terjebak dalam kehidupan yang dikendalikan oleh “mereka” (das Man), yakni kehidupan yang mengikuti ekspektasi publik dan arus kerumunan. Manusia menjadi apa yang diharapkan orang banyak, bukan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
Dalam tradisi tasawuf, keadaan seperti ini dipahami sebagai keberadaan berbagai hijab atau tabir yang menutupi manusia dari hakikat dirinya. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia sering terlalu sibuk memperindah penampilan lahiriah hingga lupa merawat batin. Jalaluddin Rumi bahkan menggambarkan manusia yang terjebak mencintai bayang-bayang dirinya sendiri. Yang dicintai bukan kebenaran dirinya, melainkan citra dirinya. Yang dirawat bukan jiwa, melainkan penampilan.
Kearifan Jawa sejak lama mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh pencitraan, melainkan oleh keselarasan antara kata dan laku. Apa yang diucapkan bertemu dengan apa yang dikerjakan. Kita juga mengenal laku hidup yang bekerja tanpa sibuk mencari pengakuan, berbuat tanpa harus terus-menerus dipertontonkan.
Kearifan semacam itu merupakan kritik yang sangat relevan bagi zaman sekarang. Sebab masyarakat yang terlalu terpesona pada citra lambat laun akan kehilangan kemampuan melihat hakikat. Padahal sebuah peradaban tidak pernah diukur dari megahnya panggung yang dibangun. Ia diukur dari sejauh mana pertunjukan itu sesuai dengan kenyataan.
Ketika jarak antara keduanya semakin jauh, kebudayaan memasuki wilayah krisis. Masyarakat hidup dalam dunia yang dipenuhi slogan tetapi kekurangan makna, dipenuhi simbol tetapi miskin substansi, dipenuhi pertunjukan tetapi kehilangan kejujuran.
Karena itu, tugas kebudayaan hari ini bukan sekadar menghasilkan narasi baru, melainkan mengembalikan keberanian untuk melihat kenyataan. Keberanian mengakui kekurangan. Keberanian menerima kritik. Keberanian mengoreksi diri. Dan terutama, keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus mendorong manusia menjadi sesuatu yang tampak, tetapi tidak sungguh-sungguh ada.
Pada akhirnya, peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang paling lihai membangun citra, melainkan peradaban yang mampu membedakan antara bayangan dan kenyataan; antara kemasan dan isi; antara yang tampak benar dan yang benar-benar benar. Jangan sampai kita terjebak dalam mentalitas sepi ing gawe, rame ing lambe—banyak bicara, sedikit bekerja—hingga hidup hanya menjadi bingkai baliho yang kehilangan jiwa.[]





Comments are closed.