Bincangperempuan.com- Pernah dengar kalimat, “Laki-kalau Kalau takut atau tidak berani, pakai rok saja sana!”? Kalimat sering jadi ejekan tongkrongan atau sindiran. Narasi tersebut sebenarnya seksis karena menyiratkan bahwa memakai rok adalah simbol kelemahan, dan menjadi feminin adalah hukuman bagi seorang laki-laki.
Padahal, jika kita telisik ke belakang—melewati batas-batas konstruksi sosial modern—rok sebenarnya adalah pakaian yang sama sekali tidak mengenal gender. Selama ribuan tahun, dari toga Romawi yang megah hingga kilt Skotlandia yang gagah, rok adalah busana universal. Bagi laki-laki di masa itu, pakaian yang lebar dan bebas adalah bentuk mobilitas dan kejantanan.
Lalu, kapan tepatnya kita mulai “mengotakkan” rok hanya untuk perempuan?
Sejarah Singkat Rok
Valerie Steele, direktur museum Fashion Institute of Technology New York, membedah hal ini dengan tajam kepada CBS News. Ia menegaskan bahwa rok adalah garmen tertua kedua di dunia setelah cawat. Menariknya, Steele menekankan penggunaan kata “umat manusia”, karena secara historis rok memang diciptakan untuk semua gender.
“Pada zaman kuno, laki-laki dan perempuan sama-sama memakai rok. Konsep awalnya sederhana: saat kamu menenun kain persegi panjang dan mengikatkannya di tubuh, kamu sudah membuat rok. Kalau kamu melihat lukisan Mesir kuno, keduanya memakai apa yang pada dasarnya adalah rok,” jelas Steele.
Melansir dari The Glade, sejarah membuktikan hal serupa. Di Mesir kuno, laki-laki biasa mengenakan rok linen sederhana bernama shendyt yang sangat fungsional untuk cuaca panas. Begitu pula di Yunani kuno, laki-laki memakai chiton dan himation—semacam tunik panjang yang luwes untuk bergerak. Pada era tersebut, busana ini sama sekali tidak dipandang feminin, melainkan standar pakaian laki-laki yang mengutamakan kenyamanan.
Baca juga: Waithood: Fenomena Perempuan Milenial Menunda untuk Menikah
Rok Sebagai Simbol Kemewahan dan Pemisahan Gender
Seiring berjalannya zaman, rok bergeser menjadi penanda status. Selama berabad-abad, rok berpotongan panjang adalah definisi mutlak dari kemewahan karena harga kain yang sangat mahal. Memasuki era Renaisans, pakaian yang rumit menjadi indikator kekayaan. Laki-laki memakai jerkin dan gaun berlapis yang memiliki elemen rok. Karena logikanya bahan yang menjuntai dan tidak praktis untuk kerja kasar membuktikan bahwa pemakainya berasal dari kelas atas.
Di saat bersamaan, siluet perempuan mulai diatur ketat. Banyak yang menggunakan hoops dan petticoat demi mendapat ilusi pinggang kecil dan pinggul bervolume—sebuah gaya romantis abad ke-18 dan 19 yang kini jejaknya hanya tersisa pada gaun pengantin.
Lalu, kapan laki-laki dilarang memakai rok? Pemisahan ini perlahan berevolusi pada abad ke-14 di Eropa lewat perkembangan teknik penjahitan (tailoring). Laki-laki mulai meninggalkan siluet vertikal, beralih ke busana yang menonjolkan bahu lebar dan celana ketat (hose) untuk memamerkan kaki. Pakaian berpotongan belah kaki (split-leg) akhirnya menjadi hak milik eksklusif laki-laki.
Laki-laki mulai mendominasi ranah publik, perkantoran, dan bisnis. Mereka butuh busana yang merepresentasikan keseriusan, rasionalitas, dan etos kerja. Sehingga, laki-laki secara kolektif menanggalkan pakaian berwarna cerah, motif mencolok, sepatu hak, dan aksesori. Setelan jas kaku berwarna gelap pun naik takhta menjadi seragam resmi maskulinitas.
Di sisi lain, karena busana laki-laki sudah bergeser menjadi sangat praktis, tugas untuk memamerkan kekayaan dan status sosial keluarga dilemparkan ke pundak perempuan. Rok tidak lagi didesain untuk kebebasan bergerak, melainkan dieksploitasi dengan tambahan petticoat, kerangka hoops, dan kain berlapis-lapis yang sangat berat.
Rok akhirnya dikunci rapat dalam kotak busana perempuan karena secara simbolis, pakaian yang membatasi ruang gerak ini mendikte penggunanya untuk bergerak lambat, pasif, dan tetap berada di ranah domestik. Jadi, pemisahan gender pada busana ini bukanlah takdir, tetapi murni produk kontrol sosial kelas menengah ke atas pada masa itu.
Baca juga: : Hal yang Jarang Diketahui Tentang Orgasme
Mengembalikan Rok pada Laki-Laki
Pada era 1970-an dan 1980-an, peneliti Stanford, David Hall, menyuarakan argumen bahwa rok jauh lebih praktis dipakai laki-laki di daerah beriklim panas. Di panggung hiburan, Boy George mendobrak lewat gaya androgini. Terobosan paling radikal akhirnya terjadi pada 1985 saat Jean-Paul Gaultier merilis rok khusus laki-laki. Langkah berani ini seketika meruntuhkan tembok industri, dan langsung diikuti oleh rumah mode raksasa seperti Armani, Thom Browne, hingga Rick Owens.
Dari rentetan sejarah tersebut, selembar kain pada dasarnya tidak memiliki gender. Label menswear atau womenswear murni hasil rekayasa sosial. Rok yang dipakai laki-laki di masa lampau memang pakaian yang dirancang dan dikonstruksi khusus untuk anatomi laki-laki. Jejak kulturalnya bahkan masih hidup hari ini, mulai dari kilt asal Skotlandia, hingga sarung dan lungi yang sangat lekat dengan keseharian kita di Asia.
Oleh karena itu, menggunakan kalimat “laki cemen pakai rok saja sana!” sebagai sindiran untuk merendahkan laki-laki adalah hal yang sangat tidak masuk akal dan ahistoris. Sebab fashion sama sekali tidak memiliki gender. Selembar kain tidak punya kuasa untuk menakar kejantanan atau merampas maskulinitas seseorang.
Entah seorang laki-laki ingin tampil dengan setelan jas yang kaku atau mengenakan rok yang luwes, itu murni soal kebebasan berekspresi. Jadi, saatnya kita berhenti merawat stigma usang ini. Menertawakan atau menganggap laki-laki ber-rok itu lemah sama sekali tidak membuatmu terlihat lebih superior—hal itu justru membuktikan betapa sempitnya pemahamanmu tentang sejarah manusia.
Referensi:
- Alfano, S. (2006, 7 Mei). Chasing the history of the skirt. CBS News. https://www.cbsnews.com/news/chasing-the-history-of-the-skirt/
- The Glade. (2024, 8 Juli). The history of men in skirts. https://theglade.com.au/blogs/insights/the-history-of-men-in-skirts





Comments are closed.