● Masih banyak yang enggan membeli mobil listrik karena kurangnya promosi.
● Padahal brand-brand Cina menawarkan produk dengan harga ramah kantong dengan fitur selangit.
● Penetrasi pasar mobil listrik perlu digiatkan lagi karena bisa berdampak banyak pada industri otomotif dan pengolahan nasional.
Penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak 171,35% pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kendati begitu, secara agregrat angka tersebut masih buncit, alias baru 5% dari total pangsa pasar mobil nasional. Bandingkan dengan Norwegia yang penjualan mobil listriknya mencapai 90% dari total mobil baru yang terjual—berkat edukasi masyarakat yang efektif.

Memang, sejak dipasarkan secara masif pada 2022, tren penjualan mobil listrik di Indonesia bertumbuh pesat sekali—sekitar tiga digit. Tapi secara nasional, angka pertumbuhannya masih tergolong kecil dan baru terjadi di kota-kota besar saja.
Read more: Bias kota dalam solusi mobil listrik mengatasi polusi udara Jakarta
Kampanye dan promosi perlu ditingkatkan dan dikembangkan
Tidak mudah mengubah persepsi masyarakat terhadap mobil listrik. Apalagi kendaraan konvensional sudah hadir lebih dari seabad silam.
Meski dalam perkembangannya menunjukkan tren positif, faktor harga unit mobil listrik tetap krusial. Survei menunjukkan pertumbuhan penjualan mobil listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada subsidi dan promo.

Para brand mobil dan pemerintah perlu menggeser narasi dari sekadar ramah lingkungan atau hijau menjadi praktis, hemat, dan relevan. Kampanye digital yang menekankan biaya operasional mobil listrik yang lebih murah dibanding bensin perlu diperbanyak dan dikemas semenarik mungkin.
Mobil listrik perlu ditekankan sebagai bagian dari gaya hidup yang mencerminkan status modern. Fitur-fitur canggih seperti aplikasi mobile, smart navigation yang ada perlu dipamerkan untuk menggambarkan bahwa mobil listrik adalah penunjang gaya hidup.
Beragam fitur canggih mobil listrik sudah tersedia dari varian termurah di Indonesia, mulai dari Rp184 juta. Adapun mobil konvensional baru termurah dipatok Rp138 juta dengan minim fitur canggih. Dan yang tidak kalah penting, mobil listrik juga menawarkan citra yang keren.
Dasar tersebut bisa dikembangkan menjadi tren gaya hidup berkelanjutan. Kampanye pemasaran dapat menghubungkan mobil listrik dengan narasi hidup sehat, bersih, dan berkelanjutan. Misalnya, promosi dengan gerakan green living atau acara olahraga urban agar membentuk persepsi bagian dari gaya hidup aktif dan sehat.
Hibrida tetap diperlukan jadi jembatan transisi
Jagat otomotif belum lama ini dihebohkan dengan pernyataan bos Toyota pusat Akio Toyoda yang menuding mobil listrik tidak efektif mengurangi polusi. Dia mengklaim, polusi dari sembilan juta unit mobil listrik setara dengan yang dihasilkan 27 juta unit mobil hibrida Toyota.
Read more: Mengurai sisi gelap mobil listrik: dari tambang nikel, batu bara, hingga limbah kendaraan
Perlahan tapi pasti penjualan mobil hibrida memang meningkat. Per kuartal II 2025 penjualan mobil hibrida (plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) menembus angka 1.117 unit-setelah sekian lama berada di angka ratusan penjualan.
Artinya, konsumen Indonesia masih membutuhkan transisi kebutuhan kendaraan ramah lingkungan yang terjangkau, tetapi tetap fleksibel dengan bensin.

Di Indonesia, Toyota yang sangat gembar-gembor memproduksi mobil hibrida merupakan brand dengan penjualan nomor wahid. Teknologi hibrida pun sudah tersedia di model yang sudah melekat di masyarakat seperti Innova, Corolla, Camry, hingga Yaris.
Masalahnya, harga mobil hibrida khususnya dari Jepang cenderung lebih mahal dari mobil listrik Cina. Harga mobil hibrida termurah di Indonesia seperti Suzuki XL7, misalnya, hampir menyentuh Rp300 juta.
Meski begitu, hibrida tetap menawarkan solusi lingkungan yang juga menawarkan fitur kendaraan yang canggih. Pun kepentingan pemerintah untuk menghidupi industri dalam negeri tetap terpenuhi. Sebab bahan baku baterai mobil hibrida juga berbahan baku nikel baik yang jenis lithium-ion maupun NiMH.
Hanya akan jadi pasar dan pemasok bahan baku semata?
Negara telah menggelontorkan trilunan rupiah untuk menghidupi industri mobil ramah lingkungan. Pada 2025 ini, ada alokasi insentif Rp6,16 triliun—terdiri dari diskon pajak penjualan (PPN) sebesar 10%, diskon pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 15%, serta keringanannya untuk kendaraan hibrida sebesar 3%.
Pada saat bersamaan, para brand mobil listrik khususnya yang dari Cina berbondong-bondong membangun fasilitas produksi di Tanah Air. Wuling sudah sejak 2017 mendirikan pabrik di Cikarang yang juga dijadikan markas ekspor ke pasar Asia Tenggara.
Adapun brand BYD yang kini menguasai pasar Indonesia sedang ngebut membangun pabrik dengan taksiran investasi US$1 miliar (Rp16 triliun).

Begitu juga dengan Neta yang induknya di Cina sedang mengalami kesulitan keuangan telah memiliki fasilitas produksi di Bekasi berkapasitas 27.000 unit/tahun.
Pembangunan fasilitas produksi oleh brand mobil listrik maupun hibrida tidak lain karena adanya semangat dari pemerintah untuk menghidupi industri dalam negeri. Pemerintah juga telah mengutarakan berencana menyunat insentif mobil impor atau yang biasa disebut CBU (completely build-up).
Pertanyaan mendasarnya: apakah kita siap menjadi produsen yang berdaya saing, atau sekadar konsumen dari tren industri global ini?
Jawabannya bergantung pada seberapa cepat industri dan pemerintah bisa berkolaborasi membangun ekosistem yang berpihak pada konsumen dan industri nasional.
Read more: Mengapa tren kendaraan listrik adalah momentum transformasi industri otomotif Indonesia
Sayangnya meskipun 40% bahan baku pembuatan baterai berasal dari Indonesia, sejauh ini pemerintah masih berfokus mendatangkan investasi fasilitas pembuatan mobil listrik dan hibrida semata.
Setidaknya hilirisasi nikel sudah menghasilkan pabrik baterai dalam negeri milik Hyundai. Seyogianya harga baterai bisa lebih murah karena hingga saat ini komponen baterai bisa senilai sekurangnya 40% dari harga unit mobil.
Namun, untuk bisa memiliki brand mobil nasional tersendiri, niatan tersebut masih jauh panggang dari api. Paling tidak berkembangnya industri otomotif mulai dari model konvensional, hibrida, dan listrik di Tanah Air sudah memberikan banyak pilihan kepada konsumen.




Comments are closed.