● Kondisi ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja terkena dampak perang Iran.
● Harga berbagai kebutuhan esensial masyarakat seperti pangan sudah mengalami kenaikan.
● Tidak ada salahnya kita menerapkan hemat finansial ala financial minimalism.
Perang Amerika Serikat-Iran telah memberikan dampak nyata terhadap melonjaknya harga minyak dunia. Walaupun tidak diumumkan secara terang-terangan di Indonesia, harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kita saat ini sudah naik signifikan.
Kalau situasi perang tidak mereda, kita harus bersiap pada skenario terburuk. Ketika harga BBM selangit, sudah pasti harga-harga bahan pokok pun akan naik karena proses distribusi bahan pokok yang memerlukan transportasi untuk mencapai konsumen.
Dalam kondisi seperti ini, kita sudah harus mulai injak rem perlahan, cari strategi untuk tetap bertahan menghadapi kondisi krisis yang bisa terus memburuk ini.
Nyatanya, hidup irit tidak ada salahnya. Kita bisa tetap irit (baca: bukan pelit) dengan menerapkan gaya hidup minimalis.
Oleh karena itu, menerapkan gaya hidup minimalis untuk mengatur keuangan rumah tangga tidak hanya akan mencapai efisiensi keuangan, tapi juga ekonomi rumah tangga yang berkelanjutan. Lalu, bagaimana menerapkan gaya hidup minimalis dalam mengatur keuangan?
Read more: PERMA: Tip alternatif mengelola keuangan
Gaya hidup minimalis
Sederhananya, gaya hidup minimalis dapat diartikan sebagai cara hidup yang menyoroti antara kebutuhan dan keinginan seseorang. Untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perlu memahami kebutuhan yang memang diperlukan dan esensial dalam hidup.
Pemahaman tersebut diikuti dengan praktik menyingkirkan hal-hal yang dianggap kurang esensial atau bahkan yang berpotensi menimbulkan ketergantungan. Gaya hidup minimalis merupakan kebalikan dari konsumerisme.
Pada dasarnya, minimalisme menekankan pada pemenuhan kebutuhan yang berkualitas. Pemenuhan tersebut merupakan hasil dari proses berpikir kritis yang telah melalui pertimbangan bijak dan dengan pedoman untuk menghindari konsumsi berlebihan.
Read more: Ketimpangan bisa saja sebabkan krisis. Apa yang harus dilakukan?
Jadi, hidup minimalis bukanlah frugal living atau hidup seirit mungkin hingga harus mengorbankan kesejahteraan hidup. Konsep minimalisme mengedepankan konsumsi yang lebih berkelanjutan, yang memiliki kebermanfaatan dalam jangka waktu yang lebih panjang dan menyoroti hal-hal yang lebih penting, seperti kesehatan dan kesejahteraan.
Tekan konsumsi adalah kunci
Ubah kebiasaan konsumsi adalah kunci utama untuk menerapkan gaya minimalis.
Ada tiga cara untuk mengubah kebiasaan konsumsi.
Pertama adalah memilih kualitas ketimbang kuantitas. Dengan berinvestasi pada barang-barang yang berkualitas dan memiliki fungsi jangka panjang. Misalnya membeli sepatu bermerek yang terkenal dengan kualitasnya dan bisa dipakai dalam waktu lama ketimbang membeli sepatu murah yang mengharuskan membeli barang lagi dalam waktu dekat.
Kedua adalah mempertanyakan antara keinginan dan kebutuhan setiap kali hendak membeli sesuatu yang sifatnya bukan barang esensial. Setiap kali pertanyaan tersebut diajukan, kamu bisa menghindari pembelian impulsif yang seringnya tidak diperlukan.
Read more: Ahli ekonomi jelaskan apa yang perlu diketahui tentang inflasi
Bagaimana caranya menekan nafsu impulsif?
Tips paling mudah adalah berikan masa tunggu hingga selama 48 jam. Jika keinginan itu masih ada, berarti barang tersebut cukup penting untuk kamu. Biasanya keinginan impulsif untuk membeli sesuatu yang tidak esensial akan hilang sejalan dengan waktu.
Ketiga adalah meminimalisir platform digital yang bisa menuntun pada konsumsi impulsif. Kurangi aktivitas membandingkan harga antar platform. Dengan begitu, kamu juga akan terhindar dari berbagai promosi pemasaran online marketplace yang sebenarnya tidak begitu menguntungkan dan hanya meningkatkan perilaku konsumerisme .
Di samping itu, pertimbangkan untuk mengonsumsi sesuatu yang sifatnya memberikan pengalaman ketimbang sekadar material. Berinvestasi pada pengalaman dapat meningkatkan kesejahteraan ketimbang menambah material yang harganya bisa turun atau hanya memenuhi ruangan dan berubah menjadi tumpukan barang.
Praktik keuangan minimalis
Secara sederhana, keuangan minimalis adalah praktik mengatur keuangan yang fokus pada pengaturan penggunaan uang yang penuh kesadaran. Pemikiran dan pelaku bijak sangatlah diperlukan dalam mengatur keuangan dengan pedoman tersebut.
Ada beberapa langkah untuk mengaplikasikan minimalisme.
Kita bisa memulai dengan merinci biaya-biaya tetap dan prioritas utama yang harus dikeluarkan seperti sewa rumah beserta kebutuhannya: listrik, air, gas, internet, dan sebagainya, belanja kebutuhan rumah tangga per bulan, asuransi, dan transportasi.
Untuk menghindari pengeluaran impulsif, pakailah layanan auto-debet untuk sejumlah pengeluaran dasar yang sudah pasti harus dibayarkan setiap bulan. Misalnya, biaya kredit mobil atau rumah, asuransi, tabungan deposito atau biaya investasi. Dengan begitu, kita bisa memberikan batasan pada pengeluaran nonprioritas sehari-harinya.
Setelah menghitung seluruh biaya tersebut, beri tambahan 10% untuk biaya-biaya tak terduga dari total biaya. Jangan masukan alokasi hiburan makan di luar, atau belanja di luar kebutuhan esensial.
Setelah mendapatkan angka yang pasti, angka tersebutlah yang akan menjadi acuan hidup setiap bulan. Artinya, kita perlu mencari pemasukan yang bisa menutup bujet prioritas utama terlebih dahulu.
Di luar pengeluaran esensial, kita bisa menentukan tiga kategori prioritas yang dapat membuat hidup lebih sejahtera. Syaratnya, kita harus spesifik, bijak, dan jujur terhadap prioritas tersebut. Contohnya traveling yang dapat memberikan pengalaman dan ingatan jangka panjang, karier, serta kesehatan.
Tinjaulah secara cermat, lalu tentukan mana yang bisa dihilangkan, atau dikurangi. Ingat kembali tujuannya ada irit tapi bukan pelit.
Dengan memegang kontrol penuh terhadap pengeluaran kita bisa berjaga-jaga dan memiliki pegangan dalam menghadapi kondisi yang tak menentu di masa depan. Atau setidaknya kita harus bersabar terlebih dahulu hingga keadaan membaik.
Read more: Masa depan padel: Antara gengsi atau turun kelas agar tren ini langgeng





Comments are closed.