Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Membedah tantangan dan realitas karier perempuan di bidang STEM

Membedah tantangan dan realitas karier perempuan di bidang STEM

membedah-tantangan-dan-realitas-karier-perempuan-di-bidang-stem
Membedah tantangan dan realitas karier perempuan di bidang STEM
service

Keterlibatan perempuan dalam ekosistem Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Meski data menunjukkan 35% lulusan STEM di Indonesia adalah perempuan, angka itu menyusut tajam ketika memasuki dunia kerja. Hanya sekitar 8% yang bertahan dan membangun karier di sektor sains dan teknologi terapan. Fenomena ini dikenal dengan istilah leaky pipeline.

Menanggapi isu krusial ini sekaligus memperingati International Women’s Day pada bulan Maret, The Conversation Indonesia mengadakan diskusi daring Conversation Corner bertajuk STEM Career GRWM (Get real with me): Mengupas realita karier perempuan di bidang STEM” pada 30 Maret 2026.

Dipandu oleh Nurul Fitri Ramadhani, Editor Politik & Masyarakat TCID, diskusi ini menghadirkan Yosmina Tapilatu (Peneliti Ahli di Pusat Riset Laut Dalam BRIN), Diofanny Swandrina Putri (Direktur Inisiatif Strategis CCS Indonesia), serta penanggap Dwi Yuliawati (Kepala Program UN Women Indonesia).

Mengapa kehadiran perempuan di STEM sangat krusial?

Dalam diskusi, Yosmina menegaskan kehadiran perempuan dalam dunia STEM bukan sekedar persoalan representasi, tetapi juga menyangkut kualitas ilmu pengetahuan. Menurutnya, tim yang homogen memang dapat bergerak cepat menuju kesepakatan, tapi kerap mengabaikan detail penting yang justru dapat terlihat melalui perspektif yang beragam.

“Pengalaman saya dalam riset kelautan menunjukkan komposisi tim memengaruhi cara kita bertanya. Perspektif gender yang beragam membuat diskusi menjadi lebih mendalam dan mampu mengakomodasi banyak sudut pandang,” ujar Yosmina.

Ia juga mencontohkan, dalam riset kesehatan, bias dapat muncul ketika sampel penelitian didominasi laki-laki. Padahal keberagaman perspektif dapat membantu mencegah kelemahan metodologis yang mungkin terjadi.

Yosmina Tapilatu (kanan) menjelaskan alasan mengapa peneliti perempuan di bidang STEM masih sangat dibutuhkan.

Hambatan di tengah karier

Kedua narasumber juga mengulas titik paling rentan dalam perjalanan karier perempuan di bidang STEM.

Menurut Yosmina, hambatan terbesar justru muncul pada fase pertengahan karier, ketika peneliti dituntut membangun jejaring internasional, mencari pendanaan riset, dan meningkatkan rekam jejak akademis. Pada saat yang sama, banyak perempuan masih harus menanggung beban ganda karena minimnya support system di rumah maupun di tempat kerja.

Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari tuntutan menerbitkan artikel ilmiah. Peneliti juga harus mengelola berbagai pekerjaan administratif, memperluas jejaring profesional, serta menyeimbangkannya dengan tanggung jawab pribadi. Kombinasi beban ini membuat sebagian perempuan lebih rentan kelelahan hingga memilih jalur karier yang lebih aman, meski konsekuensinya laju karier menjadi lebih lambat.

Tantangan serupa juga dirasakan Diofanny dari sudut pandang industri. Menurutnya, budaya kerja di sektor yang masih didominasi laki laki menyisakan ruang eksklusif yang membatasi akses perempuan terhadap proses pengambilan keputusan. “Di duniaku, keputusan penting sering terjadi bukan di rapat formal, tetapi saat golf, karaoke, atau kegiatan lain yang tidak selalu mudah diikuti perempuan,” ujarnya.

Hambatan itu juga tercermin dalam keseharian. Diofanny mengaku idenya kerap baru dianggap serius setelah disampaikan kembali oleh rekan laki laki.

Sementara di dunia akademis, Yosmina menghadapi tantangan serupa dalam memperoleh pengakuan atas kepakarannya. “Saya merasa bahwa saya harus dua kali lebih kompeten dari peneliti laki laki untuk dianggap setara,” tegasnya.

Siaran ulang Conversation Corner #12 ‘STEM Career GRWM (Get Real with Me)’

Menambal struktur yang rusak

Dwi Yuliawati dari UN Women Indonesia menawarkan perspektif yang lebih struktural. Ia lebih memilih istilah broken scaffolding atau “struktur yang rusak” daripada leaky pipeline untuk menegaskan masalah utamanya bukan pada perempuan, melainkan pada struktur yang lebih luas. Ini dimulai dari keluarga dan teman sebaya, tempat kerja, hingga masyarakat, yang belum sepenuhnya mendukung perempuan untuk berkarier di bidang STEM.

Untuk memperbaiki struktur ini, Dwi menekankan pentingnya transformasi menyeluruh mulai dari perubahan narasi, akses materiel, dan advokasi.

Perubahan narasi penting untuk menormalisasi keterlibatan perempuan di STEM. Sementara akses materiil dibutuhkan agar perempuan memperoleh dukungan seperti pendanaan riset, teknologi yang lebih inklusif, dan peluang kerja yang setara.

Pada saat yang sama, advokasi bersama dibutuhkan agar perubahan tidak berhenti pada peningkatan partisipasi semata, melainkan benar-benar mendorong kesetaraan gender yang lebih substansial, termasuk di sektor yang padat teknologi.

Pemaparan Dwi Yuliawati (Kepala Program UN Women) mengenai transformasi menyeluruh untuk meningkatkan partisipasi perempuan di industri STEM. UN Women Indonesia

Diskusi yang diikuti 95 peserta ini menunjukkan tantangan perempuan di bidang STEM bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada berbagai faktor struktural yang masih memengaruhi kesempatan dan perkembangan karier mereka. Di tengah tantangan tersebut, para narasumber berharap semakin banyak perempuan muda berani membangun karier, memperluas jejaring, dan mengambil peran strategis dalam dunia sains dan teknologi.

“Diskusi kali ini memberi saya banyak gambaran melalui saran dari para narasumber. Beberapa pengalaman yang mereka ceritakan juga saya alami sebagai mahasiswi teknik. Materi hari ini menjadi inspirasi bagi saya untuk terus berkarier di bidang teknik,” ujar Kyrel, salah satu peserta.

Menutup diskusi, Yosmina mengajak perempuan untuk berani mengadvokasi diri sendiri dengan memastikan setiap pencapaian terdokumentasi dan terlihat. Ia juga menekankan pentingnya membangun jejaring, terutama dengan sesama perempuan yang dapat saling mendukung.

Senada, Diofanny mendorong perempuan untuk terus mengembangkan kemampuan, tidak takut belajar dari kesalahan, serta aktif mencari mentor dan lingkungan yang mendukung perkembangan karier mereka.

Acara Conversation Corner hadir secara rutin setiap bulan bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu sosial terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: kemitraan@theconversation.com.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.