Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Jembatan Cibawor dan Nurani yang Retak dalam Orang-Orang Proyek Ahmad Tohari

Jembatan Cibawor dan Nurani yang Retak dalam Orang-Orang Proyek Ahmad Tohari

jembatan-cibawor-dan-nurani-yang-retak-dalam-orang-orang-proyek-ahmad-tohari
Jembatan Cibawor dan Nurani yang Retak dalam Orang-Orang Proyek Ahmad Tohari
service

Orang-Orang Proyek (Gramedia Pustaka Utama, 2015) dimulai dari Sungai Cibawor setelah banjir. Airnya keruh. Sampah hanyut. Sandal karet, botol plastik, batang pisang, dan batang mahoni terbawa arus. Tebing terkikis. Lahan pertanian tertutup lumpur, batu, dan pasir. Tohari membuka novel dengan pemandangan yang ugahari, tetapi maknanya langsung terasa. Sebelum pejabat datang, sebelum kontraktor bicara, sebelum proyek memasang papan, alam sudah lebih dulu memberi ukuran (Tohari, 2015, hlm. 5).

Di tepi sungai itu, Kabul bertemu Pak Tarya. Kabul insinyur muda yang menjadi pelaksana pembangunan jembatan. Pak Tarya pemancing tua yang suka meniup seruling di bawah pohon mbulu. Percakapan mereka pelan, tetapi isinya tajam. Banjir merusak pekerjaan awal proyek. Kabul tahu kerugian itu bisa dicegah jika rekomendasi teknis dipatuhi. Para perancang menyarankan proyek dimulai pada musim kemarau. Akan tetapi pemilik proyek dan elite politik lokal ingin jembatan selesai sebelum Pemilu 1992. Peresmiannya hendak dipakai sebagai panggung kampanye (Tohari, 2015, hlm. 10-11).

Tohari langsung menaruh persoalan pokok novel ini: apa jadinya jika ilmu teknik dipaksa tunduk kepada kebutuhan politik? Sungai Cibawor menjawab dengan caranya sendiri. Ia merusak tiang pancang yang dikerjakan pada waktu yang salah. Alam tidak bisa dilobi. Ia tidak peduli pada jadwal pemilu.

Kota Kecil di Tengah Bulak
Lokasi proyek semula hanya hamparan sepi, tanah pertanian kering, dan hutan bambu. Setelah pembangunan berjalan, tempat itu berubah menjadi pusat keramaian. Lebih dari seratus orang bekerja di sana. Ada tukang batu, mandor, insinyur sipil, operator alat berat, sopir, kernet, satpam, preman kampung, pensiunan tentara, pedagang, dan pekerja warung. Warung Mak Sumeh menjadi ruang makan, tempat bercanda, tempat bergosip, dan tempat pekerja melepas lelah setelah menerima upah mingguan (Tohari, 2015, hlm. 16-18).

Tohari memahami proyek sebagai dunia manusia. Di sana ada uang, keringat, cemburu, lapar, hiburan, dan ketakutan. Paman Martasatang, pengelola rakit penyeberangan, sadar bahwa jembatan baru akan mematikan pekerjaannya. Namun anaknya mendapat upah sebagai kuli batu. Satu proyek membuka rezeki bagi sebagian orang, sekaligus menutup penghidupan orang lain (Tohari, 2015, hlm. 18).

Bagian ini memberi pelajaran yang praktis. Setiap proyek publik perlu meneroka dampak sosial sejak awal. Pemerintah tidak cukup menyebut nilai kontrak, panjang jembatan, dan target peresmian. Pemerintah harus mencatat siapa yang mendapat kerja, siapa yang kehilangan nafkah, siapa yang terganggu, dan apa yang terjadi setelah proyek selesai.

Rasuah yang Dinamai Permainan
Dalkijo, atasan Kabul, menjadi wajah paling terang dari budaya proyek. Ia memakai kata “permainan” untuk menjelaskan cara kerja rasuah. Lelang perlu dimainkan. Pencairan termin perlu dimainkan. Pengadaan barang perlu dimainkan. Lobi bisa memakai uang, tiket ke Hong Kong, atau perempuan (Tohari, 2015, hlm. 30-32).

Kata “permainan” terdengar ringan. Namun dampaknya berat. Kabul tahu setiap kebocoran akan memakan mutu. Jika pasir dicatat lebih banyak dari yang datang, jika semen hilang, jika besi diganti, jika material buruk dipaksakan, jembatan akan menyimpan bahaya. Orang kecil kelak melintas di atas bangunan itu setiap hari. Mereka membawa tubuh, anak, dagangan, sepeda motor, dan hidup mereka sendiri (Tohari, 2015, hlm. 32).

Tohari tidak berhenti pada satu pelaku. Ia memperlihatkan rasuah sebagai jaringan. Bendahara proyek harus mengeluarkan uang untuk kegiatan golongan penguasa. Kendaraan proyek dipakai untuk acara partai. Oknum sipil, militer, dan anggota DPRD meminta uang saku. Mandor memainkan catatan material. Warga sekitar menyuap kuli agar bisa mendapat semen, paku, kawat, dan besi potongan (Tohari, 2015, hlm. 29-30).

Di sinilah novel ini terasa dekat dengan kehidupan nyata. Kebocoran proyek jarang muncul dari satu lubang besar. Ia tumbuh dari banyak celah kecil yang dibiasakan. Pengawasan proyek harus mulai dari tender, prakualifikasi, pencairan termin, pembelian material, pencatatan volume, pemakaian alat, hingga permintaan informal dari pejabat.

Dalkijo dan Luka Kemiskinan
Tohari tidak menjadikan Dalkijo sebagai tokoh yang datar. Ia anak petani miskin dari Blora. Ibunya penjual jamu gendong yang menyekolahkan dia sampai menjadi insinyur. Setelah naik kelas, Dalkijo ingin menghapus semua jejak kemiskinan. Ia menolak nasi tiwul, tikar pandan, rumah berlantai tanah, sepatu murah, dan sekolah biasa. Ia ingin barang bermerek, makanan mahal, anak-anak di sekolah favorit, dan rekening yang terus bertambah (Tohari, 2015, hlm. 33-35).

Alasan Dalkijo terdengar akrab. Ia merasa hidup pernah terlalu keras kepadanya. Ketika proyek memberi peluang, ia ingin mengambil sebanyak mungkin. Ia menyebut pilihannya realistis. Ia menilai idealisme Kabul sebagai beban yang tidak berguna.

Kabul datang dari lapisan sosial yang mirip. Ia juga lahir dari keluarga miskin. Tetapi ia tidak mengubah masa lalu menjadi alasan untuk mengambil hak orang lain. Dalam perjalanan menuju proyek, ia mengingat teman-teman kecilnya: Narsun, Karji, Rasmin, Sawinah, dan Satim. Banyak dari mereka tetap melarat. Ingatan itu membuat Kabul melihat kemiskinan sebagai urusan bersama, bukan bahan bakar untuk membalas dendam kepada hidup (Tohari, 2015, hlm. 36-39).

Pertentangan Kabul dan Dalkijo membuat novel ini hidup. Keduanya sama-sama lahir dari bawah. Dalkijo memakai proyek sebagai tangga pribadi. Kabul melihat proyek sebagai tanggung jawab kepada banyak orang. Dalkijo ingin menang dari masa lalu. Kabul ingin menjaga masa depan orang lain.

Profesi yang Menyentuh Hidup Publik
Kabul bertanya dalam batin tentang hubungan antara kejujuran proyek dan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Ia tidak menjawab dengan slogan. Ia menjawab melalui pekerjaannya. Bagi Kabul, menjaga mutu jembatan berarti menjaga keselamatan orang yang kelak menggunakannya. Membiarkan kecurangan teknis berarti mengkhianati tujuan pembangunan (Tohari, 2015, hlm. 39).

Bagian ini membuat Orang-Orang Proyek penting bagi semua profesi publik. Insinyur, dokter, guru, dosen, auditor, kontraktor, bendahara, wartawan, dan pejabat bekerja dengan akibat yang menyentuh hidup orang lain. Keputusan teknis tidak netral ketika keselamatan dan martabat manusia bergantung padanya.

Pelajaran praktisnya tegas. Profesionalisme tidak cukup berarti mampu menyelesaikan tugas. Profesionalisme menuntut keberanian menolak perintah yang merusak kepentingan umum. Keahlian tanpa keberanian mudah berubah menjadi alat kekuasaan.

Pak Tarya dan Ingatan Panjang
Pak Tarya memberi novel ini lapisan sejarah. Ia mengingat jembatan lama yang diledakkan tahun 1948 untuk menghambat tentara Belanda. Ayahnya, seorang guru desa, menolak penghancuran itu karena memikirkan akibat jangka panjang bagi warga. Para pemuda menganggapnya kolaborator. Mereka menembaknya sebelum jembatan dihancurkan (Tohari, 2015, hlm. 13-14).

Ucapan ayah Pak Tarya terbukti. Setelah jembatan hancur, beberapa desa terputus hampir empat puluh tahun. Pasar Wage dan pasar hewan mati perlahan. Wilayah di seberang bekas jembatan tertinggal dalam banyak bidang (Tohari, 2015, hlm. 14).

Tohari mempertemukan dua zaman di satu sungai. Pada masa revolusi, jembatan hancur karena keputusan yang dikuasai emosi politik. Pada masa pembangunan, jembatan baru terancam oleh pragmatisme proyek. Zaman berubah. Rakyat tetap membayar akibat dari keputusan buruk.

Retak sebagai Bukti
Novel ini tidak berhenti pada renungan Kabul. Tohari memberi bukti pada bagian akhir. Setahun setelah Kabul meninggalkan proyek, ia kembali melewati Cibawor bersama Wati, istrinya. Di simpang jalan, ia melihat papan bertuliskan “jembatan rusak”. Kabul tetap menuju jembatan itu. Pemandangan tersebut menjawab semua kegelisahan yang ia simpan sejak awal (Tohari, 2015, hlm. 249-250).

Retak pada jembatan menjadi dakwaan. Rasuah tidak berhenti sebagai angka dalam laporan. Ia muncul sebagai lantai jebol, aspal pecah, kendaraan yang terancam, warga yang harus memutar, dan kepercayaan publik yang runtuh. Peresmian bisa meriah. Namun mutu bangunan diuji setelah pejabat pulang.

Oleh sebab itu, warga perlu melihat proyek setelah pita dipotong. Berapa lama bangunan bertahan. Di mana retak pertama muncul. Siapa memperbaiki. Apakah dokumen mutu bisa dibuka. Apakah pengawas pernah mencatat penyimpangan sejak awal. Pertanyaan semacam ini membuat publik tidak mudah tertipu seremoni.

Novel yang Masih Bekerja
Arkian, Orang-Orang Proyek bekerja sebagai audit sosial atas pembangunan. Tohari menulis dengan detail yang mudah dikenali: sungai keruh, pohon mbulu, helm proyek, pasir, semen, termin anggaran, warung nasi, suara seruling, dan papan jembatan rusak. Semua detail itu membuat kritiknya dekat dengan pembaca.

Beberapa dialog memang terasa terlalu menjelaskan sikap moral tokoh. Dalkijo kadang terlalu gamblang membongkar pikirannya sendiri. Kabul kadang terlalu sadar terhadap beban etikanya. Namun kelemahan itu tidak menghapus kekuatan novel. Tohari tetap berhasil menunjukkan bahwa pembangunan adalah urusan ilmu, uang, kekuasaan, keselamatan, dan manusia.

Novel ini laik dibaca oleh kepala daerah, pengawas proyek, insinyur, kontraktor, auditor, wartawan lokal, mahasiswa teknik, dan warga yang hidup di sekitar proyek publik. Ia memberi senarai kerja nan jelas: patuhi rekomendasi teknis, buka data anggaran, awasi material, catat permintaan informal, lindungi pelapor, dan jauhkan jadwal proyek dari kepentingan pemilu.

Kabul bukan pahlawan tanpa cela. Ia ragu, marah, lelah, dan sering merasa sendiri. Justru karena itu ia terasa dekat. Ia menunjukkan bahwa integritas bisa bermula dari rasa tidak nyaman saat melihat angka dimanipulasi, semen hilang, material buruk dipakai, dan ilmu teknik dipaksa mengalah kepada kepentingan politik.

Di tepi Sungai Cibawor, Ahmad Tohari meninggalkan pertanyaan yang masih menagih: setiap kali negara membangun, siapa yang benar-benar dilayani, rakyat yang melewati jembatan atau orang-orang proyek yang bermain di baliknya?


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.