Wed,15 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Agrivoltaics Memanen Matahari, Merawat Bumi

Agrivoltaics Memanen Matahari, Merawat Bumi

agrivoltaics-memanen-matahari,-merawat-bumi
Agrivoltaics Memanen Matahari, Merawat Bumi
service

Di lanskap kepulauan Indonesia Timur, matahari bersinar dengan garang, memancarkan energi yang tak habis-habisnya ke atas lautan biru dan tanah-tanah pertanian warga. Sayangnya, ironi masih terus menari di wilayah kepulauan ini: meski dikepung oleh kelimpahan energi alam, ketiadaan akses listrik yang stabil masih menjadi tembok penghalang bagi geliat ekonomi lokal.

Di pulau-pulau terpencil yang tidak tersentuh jaringan listrik raksasa (on-grid), transisi energi kerap dianggap sebagai mimpi kaum urban. Namun, sebuah gagasan baru kini tengah dirajut dari balik laboratorium dan ruang sidang akademik, membentangkan jalan antara inovasi mutakhir dan kearifan lokal. Jembatannya bernama agrivoltaics.

Gagasan ini bergaung kuat dari Gedung Rekayasa Molekuler dan Material Fungsional, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada akhir Juni lalu. Lewat simposium bilateral bertajuk “Agrivoltaics and Energy Challenge in Rural and Remote Islands in Eastern Indonesia”, ITB bersama Australia resmi memulai sebuah riset kolaboratif berskala besar. Didukung oleh program KONEKSI LPDP Indonesia-Australia, langkah ini bukan sekadar unjuk gigi teknologi, melainkan upaya memanusiakan transisi energi.

Bukan Sekadar Panel Surya

Bagi masyarakat agraris, hamparan panel surya acap kali dipandang sebagai ancaman yang akan menelan lahan pertanian mereka. Agrivoltaics mendisrupsi kekhawatiran itu. Ini adalah sebuah rekayasa tata ruang yang mengawinkan pembangkit listrik tenaga surya dengan aktivitas pertanian dalam satu ekosistem lahan yang sama.

Dr. Acep Purqon, dosen Fisika FMIPA ITB yang memimpin program kolaborasi ini, menyadari betul bahwa Indonesia memiliki lanskap tropis dan mikroklimat yang amat spesifik. Panel surya yang dipasang pada ketinggian tertentu dapat berfungsi sebagai kanopi peneduh, menjaga kelembapan tanah, dan melindungi tanaman dari paparan sinar matahari yang terlalu ekstrem. Sebaliknya, iklim mikro yang lebih sejuk dari tanaman di bawahnya akan mencegah panel surya dari overheating, sehingga panel dapat beroperasi lebih efisien.

“ITB terus mendorong berbagai pendekatan inovatif untuk menjawab tantangan krisis energi, termasuk melalui pengembangan agrivoltaics guna memperoleh formulasi yang optimum untuk diterapkan di berbagai wilayah unik di Indonesia,” ungkap Dr. Dwi Irwanto, Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB, meresonansi semangat riset tersebut.

Dari Ganesha, Australia, hingga Tanah Papua

Masalah sebesar ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Oleh karena itu, riset KONEKSI ini melibatkan jejaring kolaborasi akademis dan institusional yang mengesankan. Dari benua tetangga, Murdoch University dan Griffith University dari Australia turun tangan. Sementara dari dalam negeri, barisan panjang akademisi lintas disiplin bersatu padu.

Kolaborasi ini tidak hanya berpusat di Jawa. Ia membentang menyeberangi lautan dengan menggandeng para peneliti dari Universitas Cenderawasih (UNCEN), Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNIMUDA), Politeknik Negeri Fakfak Papua Barat (POLINEF), hingga UIN Sorong. Hadir pula pakar dari BRIN, Universitas Padjadjaran (UNPAD), Purnomo Yusgiantoro Center, serta jajaran peneliti ITB seperti Dr. Melia Famiola, Dr. Indria Herman, dan Utriweni Mukhaiyar.

Parana Ari Santi dari Program KONEKSI LPDP Indonesia-Australia, serta Erlin Puspaputri dari Kemendiktisaintek, menekankan pentingnya jembatan komunikasi antar-peneliti ini. Mengapa? Karena inovasi sains ini tidak boleh buta terhadap konteks budaya. Kolaborasi ini dirancang untuk memadukan inovasi ilmiah dengan pengetahuan adat (indigenous knowledge) dan pengalaman empiris lokal para petani serta nelayan di Indonesia Timur.

Transisi yang Menghargai Perempuan

Titik paling menarik—sekaligus paling krusial—dari riset ini adalah roh pemberdayaannya. Transisi energi sering kali luput melihat dimensi gender, padahal di sektor pertanian dan perikanan, perempuan adalah tulang punggung ketahanan pangan keluarga.

Inisiatif agrivoltaics ini secara khusus mendorong keterlibatan aktif perempuan, pemuda, dan kelompok marginal yang selama ini kurang terwakili (underrepresented). Dengan adanya pasokan energi lokal yang mandiri, perempuan tani dapat mengakses mesin pemroses hasil panen, pompa air irigasi cerdas, hingga ruang pendingin (cold storage) untuk hasil tangkapan laut. Semuanya dirancang dengan memperhatikan ergonomi alat dan mesin pertanian (alsintan) agar ramah bagi perempuan.

Lebih dari itu, hadirnya listrik bersih di desa-desa terpencil diproyeksikan akan melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, memberdayakan masyarakat untuk beralih dari sekadar memanen produk mentah menjadi produsen barang setengah jadi yang bernilai jual tinggi.

Dalam peta jalan yang lebih besar, inisiatif yang digerakkan oleh Acep Purqon dan kolega-koleganya ini sejalan dengan ambisi iklim nasional. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menetapkan target agresif: dari 69,5 GW tambahan kapasitas pembangkit baru, 61% di antaranya akan berasal dari energi terbarukan. Bauran EBT yang diproyeksikan baru menyentuh 15-16% pada 2025, ditargetkan meroket ke angka 34% pada 2034.

Untuk mencapai angka tersebut, Indonesia tidak bisa sekadar membangun ladang surya atau kincir angin raksasa di atas tanah kosong. Diperlukan strategi ruang yang adaptif seperti agrivoltaics, serta kerja sama pentahelix—melibatkan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

Di bawah kolaborasi ITB dan Australia, Indonesia Timur kini bukan lagi sekadar wilayah yang menunggu dialiri listrik, melainkan kanvas tempat masa depan transisi energi yang inklusif, adil, dan ekologis tengah dilukiskan. Dari bayang-bayang panel surya, tunas-tunas kemandirian energi dan pangan perlahan menemukan jalannya untuk mekar bersama.


Jurnalisme lingkungan Indonesia butuh dukungan Anda. Bantu Ekuatorial.com terus menyajikan laporan krusial tentang alam dan isu iklim.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.