Arina.id – Memasuki bulan Muharram, sebagian masyarakat Muslim di berbagai daerah Indonesia memiliki tradisi yang terus dijaga sebagai bagian dari warisan budaya yang sarat nilai keislaman. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah membuat Bubur Suro.
Bubur Suro merupakan hidangan bubur yang biasa disiapkan pada bulan Muharram, khususnya bertepatan dengan hari Asyura. Makanan ini dibuat dari berbagai jenis biji-bijian, seperti beras putih, beras merah, kacang hijau, serta beberapa jenis kacang dan biji-bijian lainnya yang dimasak menjadi satu hidangan bubur.
Setelah selesai dimasak, Bubur Suro biasanya disantap bersama keluarga, dibagikan kepada anak-anak yatim, kaum dhuafa, orang-orang yang tidak menjalankan puasa sunnah, maupun disajikan sebagai hidangan berbuka puasa.
Apabila ditelusuri dalam sejumlah literatur klasik, tradisi membuat Bubur Suro memiliki keterkaitan dengan kisah Nabi Nuh AS setelah peristiwa banjir besar. Penjelasan mengenai hal tersebut dapat ditemukan dalam kitab I’anah Thalibin karya Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi, juz 2 halaman 267:
> قَوْلُهُ: وَأَخْرَجَ نُوْحًا مِنَ السَّفِيْنَةِ وَذَلِكَ أَنَّ نُوْحًا – عَلَيْهِ السَّلَامُ – لَمَّا نَزَلَ مِنَ السَّفِيْنَةِ هُوَ وَمَنْ مَعَهُ: شَكَوْا اَلْجُوْعَ، وَقَدْ فَرَغَتْ أَزْوَادُهُمْ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْتُوْا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ، فَجَاءَ هَذَا بِكَفِّ حِنْطَةٍ، وَهَذَا بِكَفِّ عَدَسٍ، وَهَذَا بِكَفِّ فُوْلٍ، وَهَذَا بِكَفِّ حِمَّصٍ إِلَى أَنْ بَلَغَتْ سَبْعَ حُبُوْبٍ – وَكَانَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ – فَسَمَّى نُوْحٌ عَلَيْهَا وَطَبَخَهَا لَهُمْ، فَأَكَلُوْا جَمِيْعًا وَشَبِعُوْا، بِبَرَكَاتِ نُوْحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ
Artinya: “Allah mengeluarkan Nabi Nuh dari perahu. Kisahnya sebagai berikut: sesungguhnya Nabi Nuh ketika berlabuh dan turun dari kapal, beliau bersama orang-orang yang menyertainya, mereka merasa lapar sedangkan perbekalan mereka sudah habis. Lalu Nabi Nuh memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Maka, secara serentak mereka mengumpulkan sisa-sisa perbekalannya; ada yang membawa dua genggam biji gandum, ada yang membawa biji adas, ada yang membawa biji kacang ful, ada yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Asyura. Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul itu, lalu beliau memasaknya, setelah matang mereka menyantapnya bersama-sama sehingga semuanya kenyang dengan lantaran berkah Nabi Nuh ‘Alaihissalaam.”
Keterangan serupa juga dijelaskan dalam kitab Badai’ al-Zuhur karya Syekh Muhammad bin Ahmad bin Iyas Al-Hanafi, halaman 64:
قال الثعلبي كان استواء السفينة علي جبل الجودي يوم عاشوراء وهو العاشر من المحرم فصامه نوح شكرا لله تعالي وامر من كان معه بالصيام في ذلك اليوم شكرا علي تلك النعمة . ويروي ان الطيور والوحوش والدواب جميعهم صاموا ذلك اليوم ثم ان نوح اخرج ما بقي معه من الزاد فجمع سبعة اصناف من الحبوب وهي البسلة والعدس والفول والحمص والقمح والشعير والارز فخلط بعضها في بعض وطبخها في ذلك اليوم فصارت الحبوب من ذلك اليوم سنة نوح عليه السلام وهي مستحبة
Artinya: “Imam Tsa’labi berkata, perahu Nabi Nuh mendarat sempurna di sebuah gunung tepat pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyura. Nabi Nuh kemudian berpuasa pada hari tersebut sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT dan memerintahkan orang-orang yang bersamanya untuk ikut berpuasa. Diriwayatkan pula bahwa burung, binatang liar, dan seluruh hewan yang berada di dalam kapal juga berpuasa pada hari itu. Setelahnya, Nabi Nuh mengumpulkan sisa bekal yang masih ada, berupa tujuh macam biji-bijian, yaitu kacang polong, kacang adas, kacang ful, kacang himmash, gandum, jelai, dan beras. Semua bahan itu dicampur lalu dimasak menjadi satu hidangan. Sejak saat itulah Nabi Nuh dan kaumnya menjadikan makanan tersebut sebagai tradisi setiap datangnya hari Asyura, dan amalan itu termasuk sesuatu yang dianjurkan.“
Merujuk pada dua keterangan tersebut, tradisi Bubur Suro pada hakikatnya erat kaitannya dengan nilai-nilai kepedulian sosial melalui sedekah makanan. Bubur yang dibuat dari beragam jenis biji-bijian menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, sekaligus ajakan untuk saling berbagi kepada sesama. Bentuk pelaksanaannya boleh menyesuaikan tradisi masyarakat setempat, selama tidak mengubah makna dan tujuan utamanya.
Dalam perspektif ajaran Islam, berkumpulnya masyarakat untuk berbagi makanan kepada anak yatim, fakir miskin, maupun mereka yang membutuhkan merupakan cerminan nyata dari semangat ukhuwah, kepedulian sosial, serta budaya tolong-menolong yang dianjurkan syariat.
Oleh karena itu, hikmah yang dapat dipetik dari tradisi Bubur Suro bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga menghidupkan bulan Muharram dengan berbagai amal kebajikan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya memperbanyak sedekah, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, memperkuat kesalehan sosial dan spiritual, mempererat hubungan antara kalangan mampu dan kurang mampu, serta menghadirkan kebersamaan seluruh lapisan masyarakat dalam menebarkan kebaikan. Wallahu a’lam.





Comments are closed.