“Manusia itu lucu, ia acapkali bisa menangisi satu rencana yang gagal, tapi lupa mensyukuri seratus organ tubuh yang masih bekerja normal”.
Kiranya begitulah quotes yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan manusia modern saat ini. Realitanya memang benar begitu, kita hidup di era di mana pencapaian orang lain terpampang jelas di layar ponsel kita selama 24 jam.
Akibatnya, standar hidup kita naik ugal-ugalan. Kita merasa gagal hanya karena belum punya penghasilan di usia 20-an, merasa tertinggal karena belum menikah, atau merasa hidup ini tidak adil saat ekspektasi tidak menjadi realisasi.
Di titik terendah ini, kalimat “Ayo dong, bersyukur!” alih-alih menjadi motivasi justru terdengar seperti omong kosong yang menghakimi. Kita pun sering terbesit dalam hati, “Apanya yang harus disyukuri kalau hidup lagi berantakan gini?”, masalah datang bertubi-tubi, harapan tak kunjung terwujud, dan jalan keluar belum terlihat.
Padahal, ada satu ayat dalam Al-Qur’an yang jika kita renungi dan pahami, akan membuat kita sadar bahwa seburuk apa pun fase kehidupan yang sedang kita alami, semua itu hanyalah sebagian kecil dibandingkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Ayat itu adalah Surah Ibrahim ayat 34:
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ
Artinya;” Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.”
Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia berbagai kebutuhan dan kenikmatan yang diperlukan dalam menjalani kehidupan. Bahkan, banyak di antaranya yang diberikan tanpa pernah kita minta secara langsung.
Saking banyaknya anugerah pemberianNya, manusia tidak akan sanggup menghitung bahkan bersyukur sebagai ucapan terima kasih dengan sempurna. Oleh karena itu banyak para ulama menganjurkan agar seorang hamba tidak merasa sudah cukup bersyukur. Sebaliknya, ia terus memperbanyak syukur, istighfar, dan taubat.
إِنَّ حَقَّ اللَّهِ أَثْقَلُ مِنْ أَنْ يَقُومَ بِهِ الْعِبَادُ، وَإِنَّ نِعَمَ اللَّهِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُحْصِيَهَا الْعِبَادُ، وَلَكِنْ أَصْبَحُوا تَائِبِينَ، وَأَمْسَوْا تَائِبِينَ
Artinya;“Sesungguhnya hak Allah itu terlalu berat untuk dapat ditunaikan secara sempurna oleh para hamba. Dan sesungguhnya nikmat Allah jauh lebih banyak daripada yang bisa dihitung oleh manusia. Oleh karena itu hendaklah mereka menjalani pagi hari dalam keadaan bertaubat, dan menutup hari juga dalam keadaan bertaubat.”(Tafsir al-Munir, [Beirut; Dar al-Fikr 1991] vol.13, hal. 253.)
Ibarat seorang hamba yang diperlakukan sangat baik oleh tuannya. Saking banyaknya kebaikan yang ia terima, ia tidak akan pernah sanggup membalas seluruh jasa tersebut. Karena itu, ia terus berusaha berbuat baik, selalu berterima kasih, bahkan merasa sungkan dan terus meminta maaf, meskipun sebenarnya ia tidak melakukan kesalahan yang besar.
Analogi Satu Suapan Roti dan Luasnya Nikmat Allah
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib memberikan analogi yang menarik tentang betapa banyaknya nikmat Allah yang tidak mungkin dapat dihitung oleh manusia.
Beliau memberikan contoh satu suapan roti yang hendak kita masukkan ke dalam mulut. Jika direnungkan, roti itu berasal dari gandum, dan gandum tidak bisa tumbuh tanpa tanah yang subur, air, sinar matahari, angin, hujan, serta keteraturan alam semesta yang Allah atur dengan sempurna.
Setelah itu, gandum harus dipanen, diolah menjadi tepung, lalu diproses hingga menjadi roti. Semua itu membutuhkan alat dan tenaga yang juga berasal dari proses panjang yang Allah mudahkan di alam ini.
Bahkan setelah roti sampai ke tangan kita, masih ada nikmat lain yang lebih besar, yaitu nikmat tubuh kita sendiri. Allah menciptakan gigi untuk mengunyah, lidah untuk merasakan, dan sistem pencernaan untuk mengolah makanan agar menjadi energi bagi tubuh. Jika salah satu saja tidak berfungsi, makanan tidak akan bisa memberikan manfaat.
Syahdan, dari satu suapan saja, terlihat betapa banyak nikmat Allah yang saling berkaitan. Maka bagaimana mungkin manusia mampu menghitung seluruh nikmat Allah yang ada dalam kehidupannya.
Belajar Melihat Hidup dari Sudut Pandang yang Lebih Luas
Penjelasan tafsir surah Ibrahim ayat 34 di atas bukan berarti memaksa kita untuk tersenyum di tengah badai kehidupan. Kita adalah manusia. Ketika fase hidup tidak sesuai dengan harapan, wajar jika muncul rasa kesal, protes, bahkan marah.
Namun, jangan sampai kita terus tenggelam dalam rasa kesal tersebut. Yang perlu dilakukan adalah memperluas cara pandang terhadap hidup melalui nikmat Allah yang begitu banyak.
Kita mungkin merasa bahwa seberat apa pun hidup yang kita jalani, kita masih bisa bernapas dengan lega, masih bisa makan dengan lahap, dan masih dapat menjalani aktivitas dasar dengan normal. Padahal, nikmat-nikmat seperti ini tidak selalu bisa dirasakan oleh semua orang. Di tempat lain, mungkin ada orang yang sedang sakit atau mengalami keterbatasan sehingga tidak mampu merasakan nikmat-nikmat tersebut.
Ketika cara pandang ini terbuka, pikiran kita menjadi lebih jernih dan hati lebih optimis dalam menghadapi hidup. Kita terdorong untuk mencari solusi, bukan terus-menerus terjebak dalam keluhan atau menyalahkan keadaan, terlebih menyalahkan Tuhan. Wallahu a’lam.





Comments are closed.