Tue,14 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Burung Kesik Hitam, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah

Legenda Burung Kesik Hitam, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah

legenda-burung-kesik-hitam,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-tengah
Legenda Burung Kesik Hitam, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah
service

14 Juli 2026 17.00 WIB • 2 menit

Legenda Burung Kesik Hitam, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah | Magnific AI


Legenda burung kesik hitam adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tengah. Legenda ini berkisah tentang musibah yang datang akibat perilaku manusia yang tidak mencintai alam sekitar.

Bagaimana kisah dari legenda burung kesik hitam tersebut? Simak cerita rakyat dari Sulawesi Tengah ini dalam artikel berikut.

Legenda Burung Kesik Hitam, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah

Dinukil dari buku Suparman Tampuyak yang berjudul Kesik: Kumpulan Cerita Rakyat Saluan, alkisah pada zaman dahulu hiduplah dua orang pemuda di daerah Banggai. Kedua pemuda ini bernama Tatu Bosa dan Tatu Ise.

Kedua pemuda ini sudah bersahabat sejak lama. Mereka selalu pergi ke mana saja berdua.

Tidak hanya itu, mereka juga akrab dengan masyarakat yang ada di sana. Oleh sebab itu, banyak orang yang menyukai kedua sahabat itu.

Pada suatu hari, Tatu Bose mengajak Tatu Ise untuk pergi menjerat burung ke hutan. Ide ini disetujui oleh Tatu Ise.

Kedua sahabat ini kemudian pergi ke hutan dekat kediaman mereka. Tatu Bose dan Tatu Ise membuat tali jerat yang akan mereka gunakan untuk menangkap burung.

Keesokan harinya, berangkat kedua sahabat ini ke Bukit Baba. Semua perbekalan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menangkap burung sudah disiapkan sedemikian rupa.

Sesampainya di hutan, Tatu Bose mengajak Tatu Ise untuk berlomba. Mereka ingin saling adu cepat siapa yang terlebih dahulu berhasil menangkap burung.

Kedua sahabat ini kemudian sepakat untuk saling bertanding. Tatu Bosa kemudian memasang jeratnya di ranting-ranting pohon.

Di sisi lain, Tatu Ise memasang jerat di dahan pohon. Setelah itu, kedua sahabat ini kemudian bersembunyi di balik semak-semak.

Tatu Bose dan Tatu Ise menunggu dengan sabar. Beberapa saat kemudian, akhirnya kedua jerat mereka bergerak tanda berhasil menangkap burung.

Kedua sahabat itu langsung berlari ke arah jerat mereka. Tatu Bose dan Tatu Ise sangat senang dengan hasil tangkapan mereka.

Tatu Bosa mendapatkan burung kesik yang berwarna hitam pekat. Sementara itu, Tatu Ise mendapatkan burung yang berwarna kuning.

Melihat hasil tangkapannya, Tatu Bosa merasa kecewa. Sebab burung yang dia dapatkan tidak seindah Tatu Ise.

Akhirnya muncul ide di benak Tatu Bosa. Dia berniat untuk memperindah burung itu.

Tatu Bosa kemudian kembali ke rumah. Di sana dia mengambil kunyit dan menumbuknya.

Setelah itu, Tatu Bosa kembali pergi ke Bukit Baba. Dirinya kemudian mencabuti semua bulu burung kesik hitam tersebut.

Tatu Bosa kemudian melumuri semua badan burung kesik hitam tadi dengan kunyit. Akhirnya burung itu menjadi botak dan berwarna kekuningan.

Kedua sahabat ini tertawa melihat burung tersebut. Apalagi burung kesik hitam itu tidak bisa terbang kembali.

Tidak lama kemudian, kondisi alam berubah. Angin kencang dan hujan deras langsung melanda Bukit Baba.

Tatu Bosa dan Tatu Ise sadar ada yang salah dengan kejadian ini. Mereka yakin alam tengah menampakkan murkanya.

Tiba-tiba air bandang muncul dari atas bukit. Tidak hanya itu, pohon-pohon juga tumbang akibat badai yang datang.

Kedua sahabat ini kemudian berlari ke rumah mereka. Tatu Bosa dan Tatu Ise sadar akan kesalahan yang sudah mereka buat dan berjanji tidak akan mengulanginya.

Konon peristiwa ini diyakini sebagai asal usul adanya sungai dan danau di daerah Banggai. Cerita ini menjadi nasihat agar setiap orang harus menjaga dan menyayangi alam sekitar.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.