Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Argentina dan Sesat Sepakbola (1): Ketika Kekaguman Mengalahkan Akal Sehat

Argentina dan Sesat Sepakbola (1): Ketika Kekaguman Mengalahkan Akal Sehat

argentina-dan-sesat-sepakbola-(1):-ketika-kekaguman-mengalahkan-akal-sehat
Argentina dan Sesat Sepakbola (1): Ketika Kekaguman Mengalahkan Akal Sehat
service

Di Indonesia, mendukung Argentina kadang terasa seperti memiliki kewarganegaraan kedua. Paspor tetap bergambar Garuda. Kaus yang dipakai biru-putih. Ketika Lionel Messi menguasai bola, sebagian orang mendadak lebih hafal susunan pemain Argentina daripada daftar menteri di negaranya sendiri.

Argentina memang layak dicintai. Mereka memiliki sejarah panjang, gaya bermain yang kuat, drama yang lengkap, serta dua ikon besar bernama Diego Maradona dan Lionel Messi. Pertandingan persahabatan Indonesia melawan Argentina pada 2023 bahkan memenuhi Stadion Gelora Bung Karno dengan sekitar 56.000 penonton. Pada Piala Dunia 2026, kisah tentang penggemar berat Argentina dari Indonesia kembali muncul dalam pemberitaan internasional.

Masalahnya tidak terletak pada rasa cinta. Masalah muncul ketika cinta berhenti memakai ukuran yang sama untuk semua tim.

Ketika pemain lawan melakukan pelanggaran, pendukung Argentina meminta kartu merah. Ketika pemain Argentina melakukan kontak serupa, mereka menyebutnya benturan biasa. Ketika keputusan VAR menguntungkan Argentina, teknologinya dianggap akurat. Ketika merugikan Argentina, wasit dan FIFA langsung dicurigai.

Inilah gejala awal sesat sepak bola. Tim tidak lagi didukung sebagai peserta pertandingan. Tim diperlakukan sebagai pihak yang harus selalu benar.

Argentina, Messi, dan Kebutuhan Akan Seorang Idola

Argentina tidak menjual sepak bola semata. Argentina menjual cerita. Ada Maradona dengan gol abadinya. Ada Messi dengan perjalanan panjang dari kegagalan di beberapa final menuju gelar dunia 2022. Ada Emiliano Martínez dengan keberanian dan tingkah kontroversialnya. Ada pula citra sebuah tim yang bertarung dengan emosi tinggi, seolah setiap pertandingan menentukan harga diri seluruh negeri.

Pada Piala Dunia 2026, cerita itu berlanjut. Argentina datang sebagai juara bertahan. Messi tampil dalam Piala Dunia keenam pada usia 39 tahun. Per 12 Juli 2026, Argentina telah mencapai semifinal setelah mengalahkan Swiss 3-1 melalui perpanjangan waktu. Stadion di Kansas City dipenuhi pendukung biru-putih. Reuters menggambarkan suasananya lebih mirip Buenos Aires daripada kota di Amerika Serikat.

Prestasi itu nyata. Argentina memiliki pemain berkualitas, pengalaman turnamen, mental bertanding, dan kemampuan bangkit dalam situasi sulit. Mengakui kualitas tersebut tidak berarti menutup mata terhadap keputusan kontroversial.

Seorang idola tetap manusia. Sebuah tim juara tetap dapat diuntungkan oleh keputusan keliru. Mengakui kemungkinan itu tidak sama dengan membenci Argentina.

Dua Protes Resmi, Bukan Sekadar Keributan Media Sosial

Kontroversi Argentina pada Piala Dunia 2026 tidak lahir hanya dari ocehan akun anonim. Aljazair mengajukan keluhan kepada komisi wasit FIFA setelah kalah 0-3 dari Argentina pada fase grup. Mereka mempersoalkan insiden ketika kaki Messi mengenai betis Aïssa Mandi. Messi tidak menerima hukuman dan kemudian mencetak tiga gol. Aljazair juga mempertanyakan kontak siku Alexis Mac Allister kepada Ibrahim Maza yang tidak berbuah hukuman.

Keluhan berikutnya datang dari Mesir setelah kalah 2-3 pada babak 16 besar. Mesir sempat unggul 2-0 sebelum Argentina mencetak tiga gol pada menit-menit akhir.

Federasi Sepak Bola Mesir mempertanyakan keputusan VAR yang menganulir gol Mostafa Zico. Mereka juga mempersoalkan keputusan untuk tidak memberikan penalti sebelum Argentina melancarkan serangan yang menghasilkan gol kemenangan. Sejumlah mantan pemain dan pengamat, termasuk Alan Shearer, Ian Wright, Jamie Carragher, dan Rob Green, ikut mempertanyakan konsistensi penerapan VAR.

FIFA menolak tuduhan keberpihakan. Kepala perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, menyatakan bahwa para wasit bekerja secara independen. Menurut Collina, gol Mesir dianulir karena terdapat pelanggaran dalam fase serangan. Kontak terhadap Mohamed Salah juga dinilai sebagai kontak normal karena pemain Argentina lebih dahulu menyentuh bola.

Posisi yang adil harus membaca kedua sisi. Aljazair dan Mesir berhak mempersoalkan keputusan. FIFA juga berhak memberikan penjelasan. Namun, penjelasan FIFA tidak otomatis menghentikan perdebatan. Terutama jika standar intervensi VAR terlihat berubah dari satu pertandingan ke pertandingan lain.

Indikasi Tidak Adil atau Bukti Pengaturan?

Di sinilah akal sehat perlu bekerja. Keputusan yang kontroversial dapat menjadi indikasi inkonsistensi. Namun, keputusan kontroversial belum menjadi bukti bahwa pertandingan telah diatur. Keluhan Aljazair dan Mesir membahas performa wasit dan penerapan VAR. Sampai saat ini, tidak terdapat bukti yang menunjukkan Argentina bekerja sama dengan wasit, FIFA, bandar judi, atau pihak lain untuk mengatur hasil pertandingan. Menuduh tanpa bukti juga termasuk sesat sepak bola.

Namun, FIFA tidak cukup hanya berkata, “Percayalah kepada kami.” Kepercayaan harus dibangun melalui penjelasan yang terbuka. Publik perlu mengetahui batas fase serangan yang dapat ditinjau VAR, rekaman komunikasi petugas pertandingan, dasar intervensi, serta alasan keputusan diterapkan secara berbeda.

Piala Dunia 2026 memang mengalami masalah besar terkait penggunaan teknologi. Reuters melaporkan bahwa jumlah intervensi VAR pada turnamen ini dengan cepat melampaui total intervensi pada Piala Dunia 2018 dan 2022. FIFA dan badan pembuat aturan juga memperluas ruang intervensi VAR. Akibatnya, kritik bergeser dari kesalahan manusia menuju tuduhan bahwa teknologi digunakan secara berlebihan dan tidak konsisten.

Teknologi tidak otomatis menghasilkan keadilan. Teknologi tetap dijalankan oleh manusia yang memilih gambar, sudut kamera, durasi pemeriksaan, dan bagian kejadian yang dianggap relevan.

Kasus Argentina melawan Swiss memperlihatkan kerumitan tersebut. Wasit semula memberi kartu kepada Leandro Paredes. Setelah peninjauan VAR terkait kesalahan identitas, keputusan berubah. Breel Embolo justru menerima kartu kuning kedua karena dianggap melakukan simulasi. Swiss bermain dengan sepuluh orang sebelum Argentina mencetak dua gol pada perpanjangan waktu. Keputusan itu sah menurut hasil pertandingan resmi. Namun, dampaknya sangat besar terhadap arah pertandingan. Semakin besar dampak keputusan, semakin besar pula kewajiban untuk menjelaskannya.

Jaringan Judi Tidak Membutuhkan Kebenaran

Di belakang euforia Piala Dunia, terdapat industri lain yang bekerja tanpa banyak suara. Industri itu mengubah pertandingan menjadi pasar taruhan. Semua hal dapat dipertaruhkan. Pemenang pertandingan. Jumlah gol. Kartu kuning. Tendangan sudut. Pencetak gol. Penalti. Waktu gol pertama. Bahkan kejadian kecil yang dahulu tidak dianggap penting kini memiliki nilai uang.

International Betting Integrity Association mencatat 300 peringatan aktivitas taruhan mencurigakan sepanjang 2025. Sebanyak 110 peringatan berasal dari sepak bola. Data para operator membantu membuktikan bahwa 54 pertandingan dari berbagai cabang olahraga telah mengalami korupsi atau manipulasi. Pada kuartal pertama 2026, lembaga tersebut kembali mencatat 70 peringatan, dengan sepak bola menyumbang 25 kasus.

Angka tersebut tidak membuktikan adanya manipulasi di Piala Dunia 2026. Namun, data itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap integritas pertandingan bukan cerita rekaan.

Di Indonesia, persoalannya lebih dekat. PPATK mencatat perputaran dana judi online sepanjang 2025 mencapai Rp286,84 triliun melalui 422,1 juta transaksi. Sebanyak 12,3 juta orang tercatat melakukan deposit melalui bank, dompet elektronik, dan QRIS. Data tersebut mencakup berbagai jenis judi online dan tidak secara khusus memisahkan taruhan sepak bola. Meski demikian, skalanya menunjukkan bahwa jaringan perjudian telah masuk jauh ke dalam kehidupan masyarakat.

Jaringan judi tidak harus mengatur pertandingan untuk memperoleh keuntungan. Mereka cukup memanfaatkan fanatisme, rasa penasaran, dan keyakinan pendukung bahwa tim idolanya pasti menang.

Kontroversi wasit bahkan dapat menjadi bahan promosi. Perdebatan membuat orang terus menonton. Orang yang terus menonton mudah tergoda untuk memasang taruhan berikutnya. Kekalahan dianggap sebagai kesempatan membalas. Kemenangan dianggap sebagai bukti bahwa rumus taruhan sudah tepat.

Bandar hidup dari keyakinan pemain bahwa pertandingan berikutnya akan menutup kerugian pertandingan sebelumnya.

Sesat Sepak Bola

Sesat sepak bola terjadi ketika pendukung tidak lagi mencari pertandingan yang adil. Mereka hanya mencari hasil yang menguntungkan timnya. Sesat sepak bola terjadi ketika pelanggaran dinilai berdasarkan nama pemain. Kontak kepada Messi dianggap kejahatan. Kontak yang dilakukan Messi dianggap tidak sengaja.

Sesat sepak bola terjadi ketika kritik terhadap Argentina dianggap kebencian. Sebaliknya, semua kemenangan Argentina dianggap hasil bantuan FIFA. Dua sikap tersebut sama-sama bermasalah.

Pendukung fanatik memakai hasil sebagai ukuran kebenaran. Pembenci fanatik memakai kecurigaan sebagai bukti. Di tengah keduanya, jaringan judi menjual angka. Media menjual keributan. FIFA menjual tontonan. Publik terus bertengkar.

Argentina tentu tidak bersalah karena memiliki banyak penggemar. Messi tidak bersalah karena menjadi idola dunia. Pemain juga tidak dapat menentukan seluruh keputusan wasit. Yang perlu dikritik adalah budaya yang menempatkan nama besar di atas aturan. FIFA harus memastikan bahwa Messi, Salah, pemain Cape Verde, atau pemain Aljazair dinilai dengan standar yang sama. Wasit tidak boleh terpengaruh nilai komersial pemain, besarnya pasar penonton, atau keinginan melihat laga besar pada babak berikutnya.

Keadilan pertandingan tidak boleh bergantung pada siapa yang paling laku dijual.

***

Sepak bola memberi manusia ruang untuk bergembira. Kita boleh mendukung Argentina. Kita boleh mengagumi Messi. Kita boleh bersorak ketika Julián Álvarez mencetak gol. Kita juga boleh mengkritik keputusan wasit yang terasa tidak konsisten. Namun, cinta kepada sebuah tim tidak boleh menghapus kemampuan menilai fakta.

Argentina dapat bermain hebat dan tetap menerima keuntungan dari keputusan kontroversial. Wasit dapat membuat keputusan yang menurut aturan benar, tetapi gagal menjelaskannya kepada publik. FIFA dapat membantah tuduhan keberpihakan, tetapi tetap wajib memperbaiki transparansi. Publik dapat mencurigai kejanggalan, tetapi tidak boleh mengubah kecurigaan menjadi tuduhan pengaturan pertandingan tanpa bukti.

Yang lebih berbahaya dari kesalahan wasit adalah hilangnya akal sehat penonton. Ketika sepak bola membuat orang membenarkan semua tindakan idolanya, memusuhi setiap kritik, mempertaruhkan uang keluarga, dan menyebarkan tuduhan tanpa bukti, yang tersesat bukan lagi bolanya.

Kitalah yang tersesat.

Puji Raharjo, Penikmat Sepakbola


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.