Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Puncak Kemarau Tiba, Ancaman Karhutla hingga Kebakaran Sampah Diprediksi Meningkat

Puncak Kemarau Tiba, Ancaman Karhutla hingga Kebakaran Sampah Diprediksi Meningkat

puncak-kemarau-tiba,-ancaman-karhutla-hingga-kebakaran-sampah-diprediksi-meningkat
Puncak Kemarau Tiba, Ancaman Karhutla hingga Kebakaran Sampah Diprediksi Meningkat
service

Jakarta, NU Online

Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 2017-2025, Dwikorita Karnawati,mengingatkan bahwa Indonesia memasuki periode paling kritis musim kemarau pada Juli hingga September 2026.

Ia mengatakan bahwa kemarau diperkirakan semakin diperparah oleh meningkatnya peluang El Nino yang berpotensi memicu kekeringan lebih luas serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kebakaran tempat pembuangan sampah (TPS) di berbagai wilayah.

Dwikorita menjelaskan berdasarkan proyeksi BMKG, probabilitas El Nino berkembang menjadi kategori kuat mencapai 80 persen. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa dampak musim kemarau tahun ini perlu diwaspadai secara serius, terutama pada sektor lingkungan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat.

“Artinya kekeringannya menjadi kuat. Ini puncak musim kemarau mulai Juli, Agustus, September, tapi kelihatannya Agustus meluas atau mungkin bisa naik lagi, ujar Dwikorita dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia, Sabtu (18/7/2026).

Dwikorita mengungkapkan bahwa lahan gambut menjadi tantangan terbesar dalam penanganan karhutla karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah.

“Yang membahayakan di daerah-daerah yang lahannya gambut. Jadi kalau sampai terbakar, itu sangat sulit dipadamkan, karena terbakarnya bisa sampai ke dalam. Tanah gambut itu ketebalan puluhan meter, bisa sampai 10 meter lebih, bagian dalamnya itu bisa ikut terbakar. Kalau dipadamkan di permukaannya, dalamnya masih terbakar sehingga sulit dipadamkan,” ucapnya.

Ia menilai ancaman paling mengkhawatirkan pada puncak musim kemarau adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi langganan karhutla.

“Mengkhawatirkan adalah risiko kebakaran hutan yang lebih tinggi dari biasanya di wilayah Indonesia, seperti di Riau, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, terutama itu.,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan kerawanan kebakaran di Indonesia bagian selatan, meliputi Jawa Timur bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski didominasi tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan dibanding lahan gambut, kebakaran di wilayah tersebut tetap menimbulkan kerugian besar.

“Ini sedikit lebih mudah dipadamkan, tapi kalau sudah terlanjur terbakar, bagaimanapun juga itu kita sudah rugi, berbahaya, bisa ada korban jiwa, dan kerusakan lingkungan,” tuturnya.

Di samping kebakaran hutan dan lahan, Dwikorita menyoroti persoalan kebakaran di tempat pembuangan sampah yang kerap terjadi saat cuaca sangat panas.

Menurutnya, tumpukan sampah dapat terbakar secara spontan akibat akumulasi gas dan suhu lingkungan yang tinggi.

“Kebakaran sampah ini fakta yang sudah terjadi beberapa kali. Sampah itu nggak usah dibakar, itu bisa terbakar sendiri. Karena ada gas-gas seperti metana. Kalau sampai sampah ini terbakar, kualitas udaranya jadi menurun, bisa berdampak pada kesehatan terutama saluran pernapasan,” katanya. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.