Ambisi Spanyol untuk menemukan sumber rempah-rempah dunia melahirkan salah satu ekspedisi laut paling berani dalam sejarah. Pada 1519, Raja Charles V menyetujui proposal pelayaran Ferdinand Magellan yang bertujuan membuka jalur baru menuju Kepulauan Rempah di Nusantara.
Menurut The First Voyage Around The World: An Account of Magellan’s Expedition karya Theodore J. Cachey Jr yang mengutip catatan Antonio Pigafetta, ekspedisi tersebut berangkat menggunakan lima kapal, yakni Trinidad, San Antonio, Victoria, Concepcion, dan Santiago.
Trinidad dipimpin langsung oleh Ferdinand Magellan sebagai kapten jenderal armada. Sementara San Antonio dikomandoi Juan de Cartagena, Concepcion oleh Gaspar de Quesada, Victoria oleh Luis de Mendoza, dan Santiago oleh Giovanni Serrano.
“Armada berangkat dari Sevilla, setelah berlabuh di Sanlucar de Barrameda selama lebih dari sebulan,” tulis Theodore J. Cachey Jr.
Perjalanan menuju Asia sama sekali tidak mudah. Setelah meninggalkan Spanyol, armada dihantam badai berkepanjangan yang berlangsung hampir dua bulan.
Dalam buku Over the Edge of the World: Magellan’s Terrifying Circumnavigation of the Globe, Laurence Bergreen menggambarkan betapa mengerikannya situasi saat itu.
“Orang-orang tidak bisa tidur. Angin yang kencang membuat kapal-kapal terhempas ke dalam palung di antara ombak. Badai dahsyat selama 60 hari membuat kapal-kapal rusak, sebagian besar persediaan makanan yang berharga pun ikut terbuang.”
Akibat persediaan yang terus menipis, Magellan terpaksa mengurangi jatah makanan. Setiap awak hanya memperoleh sekitar empat liter air minum per hari dan sekitar satu setengah pon makanan untuk bertahan hidup selama pelayaran.
Pemberontakan, Kematian Magellan, dan Armada yang Nyaris Gagal
Cobaan belum berakhir. Pada 31 Maret 1520, armada berlabuh di Teluk San Julian, Argentina, untuk mengisi kembali persediaan makanan. Namun justru di lokasi itu terjadi pemberontakan besar.
Sejarawan Mark Cartwright dalam artikel Ferdinand Magellan di World History Encyclopedia menjelaskan bahwa tiga kapal, yakni San Antonio, Concepcion, dan Victoria, sempat dikuasai para pemberontak.
“Para pemberontak mengirim kabar melalui perahu panjang ke Magellan bahwa mereka mengendalikan ketiga kapal tersebut dan bermaksud untuk berlayar kembali ke Spanyol,” tulis Mark Cartwright.
Magellan akhirnya berhasil merebut kembali armadanya setelah terjadi pertempuran.
“San Antonio menyerah, dan Magellan kembali mengendalikan armadanya,” tulis Mark.
Menurut Theodore J. Cachey Jr, pemberontakan tersebut berujung pada pengadilan terhadap sekitar 40 awak kapal dengan hukuman mati.
Perjalanan kemudian berlanjut hingga mencapai Kepulauan Filipina. Pada Minggu Paskah, 31 Maret 1521, Magellan menancapkan salib di Mazaua sebagai simbol klaim wilayah untuk Raja Spanyol.
Tak lama kemudian armada tiba di Cebu. Hubungan dengan penduduk awalnya berlangsung damai.
“7 April 1521, armada memasuki pelabuhan Cebu, setelah negosiasi, barang dagangan ditukar dengan bekal, dan hubungan baik terjalin. 14 April 1521, Sultan Humabon dibaptis dan berganti nama menjadi Don Carlos,” tulis Theodore.
Namun situasi berubah ketika Lapu-Lapu, penguasa Pulau Mactan, menolak tunduk kepada Spanyol. Magellan memimpin serangan, tetapi justru gugur dalam Pertempuran Mactan pada 27 April 1521 setelah terkena panah beracun.
Setelah Magellan Gugur, Armada Spanyol Akhirnya Tiba di Tidore
Kematian Magellan tidak menghentikan misi mencari Kepulauan Rempah. Perjalanan diteruskan hanya oleh dua kapal yang tersisa, Trinidad dan Victoria.
Laurence Bergreen menjelaskan bahwa Joao Carvalho sempat menjadi kapten jenderal sebelum kemudian digantikan oleh Gomez de Espinosa sebagai pemimpin Trinidad, sementara Juan Sebastian de Elcano memimpin Victoria.
Setelah singgah selama 35 hari di Borneo untuk memulihkan kondisi awak dan mengisi kembali logistik, armada melanjutkan pelayaran menuju tujuan utama mereka.
“Setelah tiga puluh lima hari di Borneo, armada siap melakukan perjalanan terakhir ke Maluku,” tulis Laurence Bergreen.
Pada Rabu, 8 November 1521, harapan itu akhirnya terwujud. Armada Spanyol melihat empat pulau besar yang kemudian diketahui sebagai Ternate, Tidore, Moti, dan Makian.
Dalam buku Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950, M. Adnan Amal menuliskan suasana haru yang dirasakan para awak kapal.
“Seluruh awak kapal bersorak sorai setelah memasuki perairan Maluku, dan sebagai tanda kegirangan mereka menembakan meriam-meriam yang ada dalam kapal.”
Keesokan harinya, Sultan Al-Mansur dari Tidore datang menyambut kedatangan armada Spanyol.
Catatan Antonio Pigafetta yang dikutip Theodore J. Cachey Jr menggambarkan momen bersejarah tersebut.
“Kami segera pergi menemuinya di perahu kecil, untuk menunjukkan penghormatan kepadanya. Raja memberitahu kami bahwa kami diterima.”
Armada kemudian memuat cengkeh dalam jumlah besar sebelum berlayar meninggalkan Tidore pada Desember 1521. Meski salah satu kapal mengalami kerusakan dan sebagian awak harus tinggal di Tidore, kapal Victoria akhirnya berhasil kembali ke Spanyol dengan muatan rempah yang nilainya mampu menutup seluruh biaya ekspedisi.
Menurut M. Adnan Amal, kedatangan Spanyol di Tidore menjadi awal hubungan politik dan perdagangan antara Kesultanan Tidore dan Spanyol. Kerja sama itu terus berlanjut, meski kerap mendapat tekanan dari Portugis, hingga akhirnya berlangsung dengan berbagai pasang surut sampai tahun 1663.
Sumber: The First Voyage Around The World: An Account of Magellan’s Expedition (Theodore J. Cachey Jr/Antonio Pigafetta), Over the Edge of the World (Laurence Bergreen),
Ferdinand Magellan (Mark Cartwright, World History Encyclopedia), dan Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950 (M. Adnan Amal).
Website Rakyatmu (Melihat Kembali Perjalanan Spanyol ke Tidore)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



Comments are closed.