Mubadalah.id – Drama Final Piala Dunia 2026 akhirnya selesai. Gol tunggal Ferran Torres di babak perpanjangan waktu pada 20 Juli kemarin sukses mengunci kemenangan Spanyol atas Argentina dengan skor 1-0. Spanyol resmi angkat trofi. Tapi menariknya, gemuruh pesta tidak hanya pecah di Madrid atau Stadion MetLife, New York.
Lebih dari tujuh ribu kilometer dari sana, sorak-sorai serupa membubung tinggi membelah langit Jalur Gaza, Palestina. Di tengah kepungan reruntuhan bangunan dan keterbatasan listrik, warga Gaza menggelar nonton bareng di tenda pengungsian. Mereka melompat kegirangan seolah-olah negara mereka sendirilah yang baru saja memenangkan Piala Dunia. Mengapa bola kulit yang ditendang di Amerika Serikat bisa bikin warga di zona perang sebahagia itu?
Jawabannya jelas, final kemarin bukan sekadar urusan taktik sepak bola 90 menit. Laga ini sudah bergeser menjadi panggung adu nurani dan simbol solidaritas kemanusiaan lintas batas. Dukungan total warga Palestina untuk skuad La Roja tidak lahir dari ruang hampa. Di saat banyak negara Barat memilih bermain aman, bersikap mendua, atau bahkan menutup mata, Spanyol justru mengambil posisi politik yang sangat berani.
Pemerintah Spanyol secara resmi mengakui kedaulatan negara Palestina. Mereka vokal mengecam kekerasan di Gaza, menuntut embargo senjata, hingga mengevakuasi anak-anak Palestina yang terluka untuk dirawat di rumah sakit mereka. Sikap nyata ini membekas sangat dalam di hati warga Palestina. Bagi mereka, Spanyol adalah sahabat karib di panggung dunia.
Suasana final pun makin terasa emosional berkat bumbu plot twist geopolitik di media sosial. Netizen riuh melabeli laga ini sebagai duel antara “Spanyol yang pro-Palestina” melawan “Argentina yang dipimpin pemerintahan pro-Israel”. Hubungan mesra Presiden Argentina Javier Milei dengan Israel memang bukan rahasia lagi.
Simpati pada Isu Kemanusiaan
Kontras politik ini membuat publik dunia yang bersimpati pada isu kemanusiaan kompak merapatkan barisan di belakang bendera Spanyol. Sepak bola akhirnya bermutasi menjadi cermin kehidupan yang lebih besar. Ia tidak lagi sekadar tontonan hiburan 22 pria yang mengejar bola, melainkan menjadi ruang ekspresi bagi mereka yang merindukan keadilan global.
Jika kita bedah fenomena ini dengan kacamata kesalingan, apa yang terjadi antara Spanyol dan Palestina adalah contoh yang sangat indah. Konsep ini sejalan dengan gagasan K.H. Faqihuddin Abdul Kodir dalam buku induknya, Qira’ah Mubadalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam (2019).
Di dalam buku tersebut menegaskan bahwa setiap relasi kemanusiaan yang maslahat harus berdasarkan pada perspektif resiprokal (timbal balik). Artinya, kedua belah pihak terposisikan sebagai subjek yang setara, saling bermitra, menopang, dan bekerja sama, bukan saling menghegemoni atau menindas.
Dalam konteks ini, Spanyol telah mempraktikkan esensi mubadalah dengan menggunakan otoritas, suara, dan pengaruhnya di ruang publik global untuk melindungi sesama manusia yang hak hidupnya terampas di Timur Tengah.
Di sisi lain, warga Palestina yang sedang terjajah membalas kebaikan tersebut dengan energi positif. Mereka mengirimkan doa, cinta, dan dukungan moral yang tulus dari balik tenda pengungsian. Ini adalah bentuk timbal balik kemanusiaan yang sangat adil dan melampaui batas jarak, suku, maupun latar belakang agama.
Olahraga tidak Pernah Berdiri di Ruang Hampa
Meledaknya kegembiraan di Gaza dan riuhnya narasi geopolitik ini sekaligus mengonfirmasi tesis penting dalam buku Sosiologi Olahraga (2025) karya Dr. Nurkadri, dkk. Di dalam buku tersebut menjelaskan bahwa secara historis, olahraga tidak pernah berdiri di ruang hampa yang murni steril.
Olahraga selalu beradaptasi, beririsan, dan menjadi cermin dari dinamika kebudayaan, kondisi sosial, hingga konstelasi politik masyarakatnya. Melalui kacamata sosiologis ini, kita melihat bagaimana pertandingan sepak bola di stadion megah bertransformasi menjadi mimbar ekspresi bagi masyarakat yang sedang tertindas.
Saling dukung ini terus berlanjut bahkan setelah peluit panjang berbunyi. Di tengah parade perayaan juara di berbagai kota dunia, bendera Palestina ikut dikibarkan oleh para suporter berdampingan dengan bendera Spanyol. Pesta bola berubah menjadi mimbar perdamaian.
Pemandangan ini sekaligus menampar argumen usang kelompok yang selalu berteriak bahwa “olahraga harus steril dari politik”. Menolak bicara tentang penindasan atau genosida dengan alasan “menjaga netralitas olahraga” sebenarnya adalah bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan itu sendiri. Sepak bola yang inklusif justru harus menjadi ruang di mana keadilan bagi semua bangsa tersuarakan secara lantang tanpa pandang bulu.
Trofi Piala Dunia yang kini Spanyol pegang, membawa pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar deretan angka statistik juara. Kemenangan La Roja adalah kemenangan narasi kemanusiaan yang berani berpihak pada keadilan. Kegembiraan singkat di tenda pengungsian Gaza kemarin malam mengingatkan kita semua. Esensi tertinggi dari sebuah kompetisi global adalah menyatukan, bukan memisahkan.
Nilai kesalingan yang dicontohkan lewat hubungan emosional Spanyol dan Palestina ini harus terus kita rawat di kehidupan sehari-hari. Semoga, keadilan dan kemanusiaan yang begitu indah terlihat di lapangan hijau kemarin, bisa segera mewujud nyata dalam bentuk kemerdekaan sejati bagi seluruh bangsa Palestina. []





Comments are closed.