Setelah beberapa drama di awal perjalanan—mulai dari visa Moldova yang ditolak hingga ditolak masuk Siprus Utara—jujur saja saya jadi agak trauma setiap kali harus melewati imigrasi negara berikutnya.
Kali ini giliran Bandara El Prat, Barcelona.
Sepanjang antrean imigrasi saya hanya bisa berdoa dalam hati, “Ya Allah, semoga kali ini lancar. Jangan ada drama lagi.”
Soalnya, setibanya di Barcelona saya tidak berencana menginap. Saya langsung akan melanjutkan perjalanan menuju negara kecil yang sudah lama masuk wishlist saya, Andorra.
Alhamdulillah, proses imigrasi berjalan mulus.
Begitu keluar dari terminal, saya langsung mencari halte bus Andbus yang berada di sekitar Terminal 2B. Tiket pulang-pergi sudah saya beli secara online sejak masih di Indonesia seharga 56 Euro. Sengaja saya memilih jadwal yang memberikan jeda hampir tiga jam sejak pesawat mendarat. Pengalaman mengajarkan bahwa lebih baik menunggu bus daripada ketinggalan bus.
Perjalanan menuju Andorra memakan waktu sekitar tiga jam melewati pegunungan Pyrenees yang membentang di perbatasan Spanyol dan Andorra. Semakin mendekati tujuan, pemandangan mulai berubah. Jalanan berkelok-kelok, lembah hijau, sungai kecil, dan deretan pegunungan membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Sekitar pukul 10 malam saya tiba di Andorra la Vella, ibu kota salah satu negara terkecil di Eropa.
Begitu turun dari bus, masalah kecil kembali muncul.
Internet di ponsel saya ternyata tidak berfungsi di Andorra.
Untungnya terminal bus menyediakan Wi-Fi gratis. Saya segera memanfaatkan kesempatan itu untuk membuka Google Maps dan mencari arah menuju penginapan.
Malam sudah cukup larut, jalanan mulai sepi, dan saya berjalan kaki menuju Barri Hostel & Pub.
Untunglah rutenya cukup mudah ditemukan sehingga saya tidak perlu berputar-putar sambil membawa ransel.
Hostelnya sendiri cukup unik.
Lantai bawah merupakan pub yang malam itu sangat ramai dipenuhi pengunjung, sementara area hostel berada di lantai dua sehingga suasananya tetap tenang.
Meski menginap di hostel, saya tetap memilih kamar private. Setelah beberapa malam penuh drama, rasanya saya memang membutuhkan tidur yang nyaman.
Keesokan paginya alarm berbunyi pukul lima.
Jam enam saya sudah keluar hostel.
Udara pagi di Andorra benar-benar segar. Matahari baru mulai muncul di balik pegunungan, membuat kota kecil ini terasa begitu damai.
Tujuan pertama tentu saja Pont de Paris, jembatan modern yang menjadi ikon kota.
Di sinilah terdapat tulisan besar ANDORRA LA VELLA yang sering muncul di berbagai foto wisatawan.
Pagi itu suasananya masih sepi.
Enak sekali untuk berfoto tanpa harus bergantian dengan pengunjung lain.
Saya kemudian berjalan menyusuri tepian Sungai Valira.
Sungai kecil ini membelah kota dan memiliki jalur pedestrian yang sangat nyaman. Airnya jernih, udaranya dingin, sementara di kejauhan tampak pegunungan yang mengelilingi kota.
Tidak heran kalau banyak orang menyebut Andorra sebagai negara kecil yang cantik.
Perjalanan saya lanjutkan menuju Sant Esteve Church, gereja bergaya Romanesque yang dibangun sejak abad ke-11.
Bangunannya sederhana, tidak terlalu megah, tetapi justru itulah daya tariknya. Suasananya tenang dan terasa menyatu dengan lingkungan sekitar.
Dari sana saya memasuki kawasan Barri Antic (Old Town).
Inilah bagian kota yang paling saya sukai.
Jalan-jalan berbatu, rumah-rumah batu khas pegunungan, balkon yang dipenuhi bunga, restoran-restoran kecil, serta gang-gang sempit membuat saya merasa seperti sedang berjalan di sebuah desa tua di Pegunungan Pyrenees.
Ukuran kota Andorra la Vella memang tidak besar.
Justru itu yang membuatnya nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki.
Tidak terasa beberapa jam berlalu begitu saja.
Setelah kembali ke hostel, saya check-out dan menitipkan ransel.
Target berikutnya adalah Mirador del Roc del Quer.
Sebenarnya keputusan ini cukup nekat.
Saya sadar waktunya sangat mepet karena pukul dua siang saya sudah harus kembali naik bus menuju Barcelona.
Tetapi rasanya sayang sekali sudah sampai Andorra kalau tidak mengunjungi tempat paling ikonik di negara ini.
Saya berangkat menuju Canillo sekitar pukul sembilan pagi dengan harapan pukul sepuluh sudah bisa memulai perjalanan ke Mirador.
Ternyata semuanya tidak semudah yang saya bayangkan.
Pertama, saya kesulitan menemukan tempat pembelian tiket.
Kedua, saya baru sadar kalau tumbler kesayangan saya tertinggal di dalam bus yang membawa saya dari Andorra la Vella ke Canillo.
Saya sempat panik juga.
Akhirnya setelah bertanya ke beberapa orang, saya menemukan kantor penjualan tiket.
Eh… ternyata sedang direnovasi.
Petugas menyarankan membeli tiket secara online.
Untung kantor tersebut menyediakan Wi-Fi sehingga saya bisa langsung membeli paket wisata seharga 20 Euro yang sudah termasuk Mirador del Roc del Quer, Tibetan Bridge, dan shuttle bus wisata.
Sambil menunggu, saya juga mengirim email kepada operator bus mengenai tumbler yang tertinggal.
Semoga masih ada.
Masalah belum selesai.
Saya kembali kebingungan mencari halte shuttle bus menuju Mirador.
Akibatnya saya baru mendapat bus keberangkatan pukul sebelas siang.
Sementara dalam hati saya terus menghitung waktu.
“Jam dua harus sudah kembali ke terminal bus…”
Pemberhentian pertama adalah Tibetan Bridge.
Awalnya saya sempat berpikir tidak usah turun.
Namun rasa penasaran menang.
Begitu turun, ternyata saya masih harus berjalan cukup jauh menuju jembatan.
Saya benar-benar setengah berlari.
Sampai di sana hanya sempat mengambil beberapa foto, menikmati pemandangan sebentar, lalu langsung berbalik mengejar shuttle berikutnya.
Masih harus menunggu sekitar 20menit baru bus datang. Tujuan berikutnya adalah Mirador del Roc del Quer.
Mirador ini berupa platform kaca sepanjang sekitar dua puluh meter yang menjorok keluar dari tebing.
Begitu berdiri di ujungnya, kita akan disuguhi panorama Pegunungan Pyrenees dan lembah hijau yang luar biasa indah.
Di ujung platform terdapat patung seorang pria yang duduk termenung karya seniman Miguel Ángel González.
Patung inilah yang menjadi ikon Mirador del Roc del Quer.
Tempatnya benar-benar cantik.
Sayangnya, dari area parkir shuttle kita masih harus berjalan kaki cukup jauh menuju platform utama.
Lagi-lagi saya hampir berlari sambil sesekali berhenti mengambil foto.
Kalau dinikmati dengan santai, kombinasi Tibetan Bridge dan Mirador idealnya membutuhkan waktu sekitar empat jam.
Saya? Kurang dari dua jam. Benar-benar wisata mode ngebut.
Pukul satu siang saya sudah kembali berada di Canillo dan menunggu bus menuju Andorra la Vella. Bus yang ditunggu ternyata datang agak lama.
Sepanjang perjalanan pulang saya hanya bisa melihat jam terus-menerus.
Begitu tiba di terminal, saya langsung berjalan secepat mungkin menuju hostel untuk mengambil ransel.
Untungnya hostel tidak jauh. Sekitar 15 menit dengan jalan menanjak.
Sekitar pukul 13.45 saya sudah kembali lagi di terminal bus.
Dan di situlah kejutan menyenangkan terjadi.
Saya melihat tumbler saya berada di kantor operator bus.
Saya langsung menghampiri petugas dan menjelaskan bahwa tadi pagi saya mengirim email mengenai barang yang tertinggal. Walaupun ternyata email yang saya kirim dibalas menyampaikan saya salah alamat, seharusnya ke operator bus lokal. Tapi yang penting tumblernya kembali.
Petugas tersenyum, lalu menyerahkan tumbler tersebut. Alhamdulillah. Masih rezeki.
Tumbler itu isinya air panas dan langsung digunakan menyeduh mi instan dan makan sebelum naik bus. Untuk perjalanan ini saya bawa 4 mie instan sebagai cadangan makanan dikala gak sempat cari makan saat traveling.
Rasanya nikmat sekali.
Belakangan saya baru mengetahui bahwa sebenarnya kalau hanya ingin mengunjungi Mirador del Roc del Quer, saya tidak perlu membeli paket gabungan.
Ada tiket khusus Mirador seharga sekitar 6 Euro.
Sementara paket yang saya beli seharga 20 Euro termasuk Tibetan Bridge.
Kalau boleh jujur, menurut saya Tibetan Bridge tidak terlalu istimewa.
Bagus memang, tetapi sensasinya mirip dengan beberapa jembatan gantung yang pernah saya datangi di Indonesia seperti Rengganis Ciwidey atau Lembah Purba Sukabumi, bahkan mengingatkan saya pada beberapa jembatan gantung sepanjang jalur trekking menuju Annapurna Base Camp di Nepal.
Justru Mirador del Roc del Quer-lah yang menjadi highlight perjalanan saya di Andorra.
Sore itu bus kembali membawa saya ke Bandara Barcelona.
Kali ini tanpa drama.
Perjalanan menuju Vilnius pun akhirnya berjalan lancar.
Setelah semua yang terjadi di awal trip, rasanya satu hari di Andorra menjadi hadiah kecil yang sangat menyenangkan. Negara mungil ini memang singkat saya kunjungi, tetapi berhasil meninggalkan kesan yang jauh lebih besar dari ukurannya.





Comments are closed.