Di sebuah dapur sempit di sudut kota yang padat, kepul asap dari penggorengan tak lagi sewangi biasanya.
Siti, seorang ibu rumah tangga yang juga menyambung hidup sebagai buruh cuci, menatap nanar pada seplastik kecil cabai rawit yang harganya baru saja melonjak dua kali lipat dalam semalam.
Di meja makan, porsi nasi sedikit dikurangi agar cukup untuk esok hari, sementara protein hewani mulai digantikan dengan tempe yang ukurannya kian hari kian mengecil. Pemandangan ini bukan sekadar urusan domestik biasa; ini adalah potret nyata bagaimana krisis iklim telah mengetuk pintu rumah kita, menyelinap melalui ventilasi dapur, dan merampas ketenangan ekonomi perempuan.
Selama ini, narasi mengenai krisis iklim seringkali terjebak dalam angka-angka abstrak dan istilah ilmiah yang terasa jauh: kenaikan suhu rata-rata 1,5 derajat Celcius, tonase emisi karbon, atau mencairnya es di kutub utara.
Namun, bagi jutaan perempuan di Indonesia, krisis iklim memiliki wajah yang sangat akrab dan nyata: label harga di pasar tradisional. Lalu wajah yang lain, ketika cuaca tak lagi bisa diprediksi—kemarau panjang yang membakar lahan atau hujan ekstrem yang menenggelamkan sawah.
Yang pertama kali merasakan getarannya adalah mereka yang bertanggung jawab memastikan piring-piring di rumah tetap terisi.
Ketika Langit Tak Lagi Ramah pada Piring Kita
Mari kita lihat, sejatinya relasi antara fenomena di langit dan apa yang tersaji di atas meja makan adalah garis lurus yang mematikan.
Belakangan ini, fenomena El Niño yang berkepanjangan telah menyebabkan gagal panen massal di berbagai sentra pangan Indonesia. Beras, komoditas paling sakral di meja makan kita, mengalami fluktuasi harga yang menyesakkan dada. Data menunjukkan bahwa setiap kali terjadi kenaikan harga pangan, kelompok masyarakat prasejahtera—terutama rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan—adalah pihak yang paling menderita.
Baca juga: Beban Emosional Hingga Jerat Utang: Perempuan Pesisir Berjibaku Di Tengah Krisis Iklim
Bayangkan seorang ibu yang harus memutar otak dengan uang belanja yang tetap, sementara harga beras, minyak goreng, dan sayur-mayur terus mendaki tanpa ampun. Di sinilah “politik dapur” bermain. Dalam pembagian peran gender konvensional, perempuan dipaksa menjadi manajer krisis yang paling ulung tanpa pernah mendapatkan pelatihan formal. Mereka adalah shock absorber atau peredam kejut dari kegagalan sistemik pengelolaan lingkungan global. Mereka juga yang paling depan menghadapi amuk pedagang pasar dan paling akhir menikmati sisa makanan di meja.
Dalam perspektif ekofeminisme, tubuh perempuan dan alam memiliki keterikatan yang erat. Ketika alam dirusak oleh ambisi korporasi dan ketidakpedulian kebijakan iklim, perempuanlah yang harus menanggung “biaya perawatan” (care work) yang kian mahal. Visualisasikan sebuah keranjang belanja yang isinya semakin sedikit, namun terasa semakin berat untuk dibawa karena harganya yang membebani pundak dan pikiran.
Beban Ganda dan Strategi Bertahan yang Menyakitkan
Di tengah krisis iklim ini, perempuan tidak hanya mengalami beban ekonomi, tetapi juga beban emosional yang destruktif.
Ada rasa bersalah yang tidak terlihat ketika seorang ibu tidak mampu memberikan gizi seimbang bagi anak-anaknya karena harga telur dan daging sudah tidak terjangkau. Krisis ini secara nyata memperlebar jurang ketimpangan gender yang sudah ada.
Sering kali, untuk menyiasati kenaikan harga, perempuan melakukan pengorbanan yang bersifat personal.
Mereka adalah orang pertama yang mengurangi porsi makannya sendiri agar anak dan suaminya bisa kenyang. Mereka adalah orang pertama yang bangun lebih pagi untuk mencari pasar yang lebih murah meski jaraknya berkilo-kilometer, menghabiskan energi dan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk istirahat atau pengembangan diri. Inilah yang kita sebut sebagai “kemiskinan waktu” yang kian diperburuk oleh perubahan iklim.
Isu terkini mengenai kelangkaan pangan bukan sekadar masalah distribusi, melainkan sinyal darurat bahwa ekosistem kita sedang runtuh.
Saat hutan diubah menjadi perkebunan monokultur atau pertambangan, siklus air terganggu, tanah kehilangan kesuburannya, dan pada akhirnya, harga pangan menjadi liar di pasar.
Perempuan di akar rumput, terutama perempuan adat dan petani, kehilangan kedaulatan atas benih dan tanah mereka, memaksa mereka bergantung pada pasar global yang sangat rentan terhadap gejolak iklim.
Menolak Menjadi Korban yang Diam
Namun, di balik dapur yang terhimpit krisis, ada benih resistensi yang mulai tumbuh.
Kita melihat gerakan perempuan di berbagai daerah yang mulai menanam pangan sendiri di pekarangan rumah, membentuk kolektif pangan, hingga melakukan sistem barter hasil bumi untuk memutus rantai ketergantungan pada pasar yang tidak stabil. Ini adalah bentuk “politik hijau” yang paling murni: bertahan hidup dengan menjaga martabat.
Baca juga: ‘Kalau Sering Hujan, Panen Kopi Berkurang’, Perempuan Petani Kopi Beradaptasi Hadapi Krisis Iklim
Krisis iklim adalah isu feminisme. Kita tidak bisa hanya bicara tentang transisi energi atau ekonomi hijau tanpa membicarakan keamanan isi piring perempuan di dapur-dapur kecil.
Kebijakan iklim yang diambil oleh pemerintah tidak boleh “buta gender”. Subsidi tidak boleh hanya menyasar pada teknologi besar atau proyek mercusuar, tetapi juga harus menyentuh penguatan kedaulatan pangan skala rumah tangga dan perlindungan sosial bagi perempuan yang terdampak inflasi pangan secara langsung.
Suara dari Dapur Untuk Dunia
Dapur bukan sekadar ruang privat tempat memasak; ia adalah jantung dari ketahanan sebuah bangsa.
Jika krisis iklim dibiarkan terus memukul ekonomi rumah tangga perempuan, maka fondasi sosial kita sedang terancam roboh. Kita perlu berhenti melihat kenaikan harga pangan sebagai fenomena ekonomi semata, dan mulai mengakuinya sebagai kegagalan kolektif kita dalam menjaga bumi.
Sudah saatnya suara dari dapur—suara Siti, suara ibu-ibu di pasar, suara perempuan petani—menjadi pusat dalam setiap pengambilan kebijakan iklim. Karena pada akhirnya, keadilan iklim sejati adalah ketika tidak ada lagi seorang perempuan pun yang harus menatap nanar ke arah meja makan karena bumi tak lagi mampu memberi makan anak-anaknya. Perjuangan melawan krisis iklim harus dimulai dari keberpihakan kita pada mereka yang memegang sendok sayur di tengah badai ekonomi yang tak kunjung reda.
(Editor: Luviana Ariyanti)




Comments are closed.