Mubadalah.id – Perempuan bisa bekerja sama untuk melakukan upaya pembenahan dan perbaikan layanan kesehatan, antara lain:
Pertama, membantu anggota masyarakat setempat untuk belajar tentang problema kesehatan perempuan. Umpamanya, Anda dapat mengadakan kampanye untuk menjelaskan betapa pentingnya perawatan prakelahiran.
Bila perempuan beserta keluarganya sudah tahu seluk-beluk kesehatan. Bahkan ereka bisa memanfaatkan sarana kesehatan yang sudah ada (andaipun tanpa menambah yang baru) semaksimal mungkin.
Seiring dengan meningkatnya pengetahuan ini, mereka akan lebih mungkin menuntut ketersediaan sarana baru dan perbaikan layanan agar kesehatan perempuan terawat baik.
Yang penting dalam upaya “mendidik masyarakat” semacam ini adalah, tekankan bahwa kondisi kesehatan perempuan memengaruhi kondisi keluarga dan masyarakat. Hal ini, termasuk di masa kini maupun di masa depan (melalui kondisi anak-anak mereka yang telah maupun yang akan perempuan lahirkan).
Oleh karena itu, mengabaikannya sebagai masalah pribadi satu perempuan. Maka sama dengan mencampakkan kesempatan masa depan dan masyarakat itu sendiri.
Kedua, mencari jalan untuk memperbaiki sumber daya kesehatan. Umpamanya, bila di lingkungan Anda sudah ada seorang bidan atau dukun beranak, pikirkan cara untuk memberinya kesempatan memperoleh keterampilan-keterampilan baru agar bisa melayani para pasien dengan lebih baik.
Ketiga, temukan cara-cara baru untuk memungkinkan setiap perempuan memperoleh layanan kesehatan. Pertama-tama, yang terpenting, pikirkan dulu pelayanan macam apa yang paling dikehendaki perempuan di lingkungan Anda, yang sekarang belum ada.
Bila kini belum ada pekerja kesehatan di lingkungan itu, pikirkan bagaimana memilih, melatih, dan membiayai jasanya.
Kalau di sekitar Anda sudah ada pos kesehatan atau klinik, pikirkan apakah mungkin dilakukan peningkatan dan penambahan layanan, misalnya dengan memasukkan jasa lokakarya kesehatan perempuan atau sarana konseling (bimbingan kejiwaan).
Memiliki Pengetahuan
Keempat, tiap perempuan di sekitar Anda pastilah sudah memiliki pengetahuan tertentu, barang sedikit, tentang seluk-beluk kesehatan, perawatan, dan pengobatan.
Ada yang menguasai pengetahuan tentang jamu-jamuan tradisional, ada yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan modern, ada yang tahu tentang fungsi dan kemungkinan kerusakan organ-organ tubuh, dan sebagainya.
Usahakan untuk saling bertukar informasi yang sudah ada. Bahkan bila tidak pernah mengikuti lokakarya atau pelatihan kesehatan pun. Sebab selama ini toh kaum perempuan sudah sering melakukan pekerjaan serupa perawat dan bidan.
Kalau ada anggota keluarga yang sakit, biasanya yang mengurus dia adalah perempuan, entah ibu atau anak perempuan di keluarga yang bersangkutan.
Kalau tidak ada bidan atau dukun beranak, atau kedatangan mereka terlambat, perempuanlah yang membantu perempuan lain melahirkan anaknya.
Lewat kegiatan-kegiatan ini, tanpa disadari, perempuan sudah melaksanakan tugas-tugas layaknya pekerja kesehatan. Dari situ, perempuan yang lebih muda belajar dari yang sudah berpengalaman. Swadaya kesehatan perempuan, dengan begitu, jangan diremehkan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 55.





Comments are closed.