Mubadalah.id – Kemiskinan kerap kita pahami sebagai persoalan ekonomi semata. Ukurannya adalah pendapatan rumah tangga, kemampuan memenuhi kebutuhan pokok, atau jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Cara pandang seperti ini memang penting untuk mengukur kesejahteraan masyarakat, tetapi belum cukup untuk memahami bagaimana kemiskinan benar-benar dialami oleh setiap orang.
Dalam satu keluarga yang sama, kemiskinan dapat dirasakan secara berbeda. Ketika pendapatan menurun, ada anggota keluarga yang harus bekerja lebih lama, ada yang kehilangan kesempatan mengembangkan diri, dan ada pula yang memikul tanggung jawab tambahan tanpa pernah dianggap sebagai “pencari nafkah”. Dalam banyak kasus, pihak yang mengalami beban berlapis itu adalah perempuan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia terus menurun. Namun, di balik kabar baik tersebut masih terdapat persoalan yang tidak bisa terbaca hanya melalui angka statistik, yakni bagaimana kemiskinan berkelindan dengan ketimpangan gender. Perempuan bukan hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi juga berbagai tuntutan sosial yang membuat dampak kemiskinan terasa lebih berat.
Kemiskinan dan Beban yang Tak Pernah Selesai
Bagi sebagian perempuan, kemiskinan bukan sekadar persoalan kekurangan uang. Ia menghadirkan serangkaian pengorbanan yang sering kali tidak terlihat.
Ketika ekonomi keluarga sedang sulit, perempuan kerap menjadi orang pertama yang mengurangi kebutuhannya sendiri. Mereka menunda membeli pakaian, mengurangi porsi makan, mengubur keinginan untuk melanjutkan pendidikan, atau menerima pekerjaan apa pun demi membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Di saat yang sama, tanggung jawab domestik tidak berkurang sedikit pun. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak, hingga merawat anggota keluarga yang sakit tetap dianggap sebagai kewajiban perempuan.
Ironisnya, kerja-kerja tersebut jarang kita pandang sebagai bentuk kontribusi ekonomi. Padahal, tanpa pekerjaan domestik dan pengasuhan, kehidupan keluarga tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Inilah yang terkenal sebagai unpaid care work, yaitu kerja perawatan yang tidak memperoleh upah tetapi menopang keberlangsungan keluarga dan masyarakat.
Situasi menjadi semakin kompleks ketika perempuan juga bekerja di sektor publik. Mereka tidak hanya menjadi pencari nafkah, tetapi juga tetap terbebani seluruh pekerjaan rumah tangga. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut sebagai double burden atau beban ganda. Perempuan bekerja dua kali: di ruang publik untuk memperoleh penghasilan dan di ruang domestik untuk memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Kemiskinan akhirnya tidak hanya menguras kondisi ekonomi perempuan, tetapi juga waktu, tenaga, kesehatan, bahkan kesempatan mereka untuk berkembang.
Ketika Budaya Memperberat Dampak Kemiskinan
Perempuan bukan lebih rentan terhadap kemiskinan karena mereka kurang mampu, melainkan karena norma sosial sering kali menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan.
Dalam keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, anak perempuan lebih sering diminta mengalah. Mereka membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, atau bahkan menghentikan pendidikan demi meringankan beban keluarga. Setelah dewasa dan menikah, ekspektasi tersebut tidak berhenti. Banyak perempuan tetap kita harapkan menjadi pengelola rumah tangga sekaligus berkontribusi terhadap ekonomi keluarga.
Padahal, kondisi ini bukanlah sesuatu yang bersifat kodrati. Ia lahir dari konstruksi sosial yang terwariskan turun-temurun. Akibatnya, ketika kemiskinan datang, perempuan tidak hanya menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi juga tekanan budaya yang mengharuskan mereka terus berkorban.
Cara pandang semacam ini perlu kita kritisi. Sebab, jika seluruh tanggung jawab domestik terus kita bebankan kepada perempuan, maka setiap program pengentasan kemiskinan hanya akan menyelesaikan sebagian persoalan. Bantuan ekonomi memang dapat meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi belum tentu mengurangi beban kerja dan ketimpangan yang perempuan alami.
Mengatasi Kemiskinan dengan Kesalingan
Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai mitra dalam membangun kehidupan. Allah Swt. berfirman:
“Dan orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini menunjukkan bahwa relasi laki-laki dan perempuan terbangun di atas prinsip saling mendukung, bukan saling membebani. Prinsip tersebut sejalan dengan gagasan mubadalah yang dikembangkan oleh Kiai Faqihuddin Abdul Kodir. Mubadalah memandang bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dan sunah pada dasarnya mengajarkan hubungan yang timbal balik (reciprocal), di mana laki-laki maupun perempuan sama-sama menjadi subjek yang bertanggung jawab menghadirkan kemaslahatan.
Dalam konteks kemiskinan, semangat kesalingan berarti bahwa mencari nafkah, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, maupun mengambil keputusan ekonomi merupakan tanggung jawab bersama. Ketika perempuan bekerja membantu ekonomi keluarga, laki-laki juga semestinya terlibat dalam pekerjaan domestik. Sebaliknya, ketika laki-laki menjadi pencari nafkah utama, perempuan juga berhak memperoleh dukungan agar tetap dapat mengembangkan potensi dirinya.
Teladan tersebut dapat kita temukan dalam kehidupan Rasulullah saw. Berbagai riwayat menjelaskan bahwa beliau membantu pekerjaan rumah tangga dan tidak memandang pekerjaan domestik sebagai sesuatu yang merendahkan martabat laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pembagian peran yang adil bukanlah konsep baru, melainkan bagian dari akhlak yang telah dicontohkan Nabi.
Karena itu, pengentasan kemiskinan tidak cukup kita lakukan melalui bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, atau penciptaan lapangan kerja. Upaya tersebut juga harus kita sertai perubahan cara pandang dalam keluarga dan masyarakat. Pendidikan anak perempuan perlu kita pandang sama pentingnya dengan pendidikan anak laki-laki. Kesempatan bekerja harus terbuka secara setara. Sementara pekerjaan domestik perlu terbagi berdasarkan musyawarah dan kondisi masing-masing, bukan berdasarkan stereotip gender.
Kemiskinan memang dapat dialami oleh siapa saja. Namun, selama beban ekonomi, pengasuhan, dan pekerjaan domestik masih bertumpu pada satu pihak, perempuan akan terus menjadi kelompok yang merasakan dampaknya secara berlapis. Oleh karena itu, mengentaskan kemiskinan juga berarti membangun relasi yang lebih adil. Sebab, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang terbangun di atas pengorbanan perempuan, melainkan keluarga yang bertumbuh melalui kesalingan, kerja sama, dan saling memuliakan. []





Comments are closed.