Mubadalahid – Tiba saatnya agar bus Trans Jogja (TJ) tak lagi menjadi “kandang binatang”. As a public service, tak cukup nyaman rasanya mendapati berbagai umpatan binatang kaki empat di dalam bus. Saya tahu bahwa mungkin itu merupakan wujud ekspresi persahabatan—perkoncoan—yang akrab dan hangat antara supir dan kondektur.
Tapi ingat, bus TJ terhitung fasilitas publik, sehingga tak sepatutnya mewadahi ekspresi individual yang bisa jadi berbeda warna. Lagi pula, tak selalu keakraban diluapkan dengan keringanan lisan mengumpat nama-nama binatang kaki empat. Banyak cara untuk mengungkapkannya, terutama cara-cara yang lebih berterima untuk siapa saja.
Pagi itu, seperti biasa, saya menumpang Trans Jogja menuju tempat kerja. Bus di jalur yang melewati tempat kerjaku memang jarang ramai, terutama saat pagi hari. Kadang cuma tiga orang, dua orang, bahkan seringkali hanya saya sendiri dari terminal. Saat itu, hanya saya sendirian. Barangkali karena penumpang landai, Pak Sopir dan Pak Kondektur lantas agak santai.
Keduanya mengobrol ringan, khas orang Jogja kebanyakan. Pak Kondektur mendekat ke kursi Pak Sopir, sehingga bisa bercengkrama lebih akrab. Meski telah berdekatan, suara keduanya tetap terdengar lantang dari telinga saya. Sementara, saya sendiri duduk di bangku favoritku: kursi penumpang paling belakang.
Normalisasi yang tidak normal
Saya tidak paham betul topik obrolan apa yang mereka bicarakan. Hanya saja, keduanya terlihat begitu akrab, karib, dan riang. Gelagak tawa berulang memburai dari mulut keduanya. Hingga tak terasa, nama animalia berkaki empat perlahan meluncur dari mulut salah satu di antara keduanya. Jika aku tak luput, hewan itu pertama kali “lepas” dari mulut Pak Kondektur.
Alih-alih mengingatkan kondekturnya, Pak Sopir justru kedengaran bahagia dengan respon berupa hewan-hewan itu. Mungkin, keduanya melihat gaya berinteraksi mereka sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa dalam dunia perkawanan. Hanya saja mereka lupa, bahwa saat itu mereka sedang bekerja, tengah melayani, serta berada di dalam ruang publik yang semestinya inklusif.
Sebagai mahasiswa Linguistik sekaligus guru honorer yang telah lama berlangganan TJ, saya berharap budaya “meng-angon hewan” di dalam TJ ini bisa disudahi. Saya cuma khawatir, kalau tindakan seperti ini dibiarkan, pelakunya bakal beranggapan bahwa tindakannya merupakan hal lumrah dan berterima.
Anak sebagai korban dan mari Trans Jogja berbenah
Padahal, tindakan tersebut berbahaya. Bayangkan jika mereka kelepasan mengumbar hewan-hewan itu saat di dalam bus ada penumpang anak-anak. Secara tak langsung, mereka telah mengajari anak untuk mengumpat. Mereka memberi input negatif yang bisa saja menjadi bekal tak terlupakan di memori anak hingga dewasa kelak.
Sudah waktunya Pemda DIY bertindak. Hanya kepada pemerintah lah aspirasi rakyat kecil ini bisa disampaikan. TJ telah punya reputasi bagus sebagai moda transportasi publik yang terjangkau oleh lintas kalangan. Banyak turis asing pula yang acap memanfaatkan TJ untuk mengunjungi berbagai lokasi wisata di DIY.
Karenanya, jangan sampai kepercayaan publik itu berkurang hanya karena perilaku satu atau dua orang pegawai TJ. Saya percaya, bahwa selagi mau dan sadar untuk berbenah, bukan hal sulit bagi pengelola TJ untuk menyelesaikan keluhan ini. Toh, dengan berbenah, kita telah berupaya menyelamatkan dua generasi—generasi sekarang dan generasi mendatang—dari kecanduan mengumbar hewan-hewan.
Cukuplah kampus UGM yang punya kandang “kebon binatang” (bonbin) di salah satu kantin fakultasnya. TJ kita tak usah ikut-ikutan! Mari sadar, mari berbenah, dan ayo berubah! Penumpang percaya bahwa TJ bisa lebih inklusif. Tentu saja, hanya jika segala unsur di dalamnya juga punya niat untuk berubah. []





Comments are closed.