Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Di Ruang Kelas SLB, Saya Belajar bahwa Mendidik Tidak Bisa Mendadak

Di Ruang Kelas SLB, Saya Belajar bahwa Mendidik Tidak Bisa Mendadak

di-ruang-kelas-slb,-saya-belajar-bahwa-mendidik-tidak-bisa-mendadak
Di Ruang Kelas SLB, Saya Belajar bahwa Mendidik Tidak Bisa Mendadak
service

Mubadalah.id – “Mendidik tidak bisa mendadak.” Kalimat itu belakangan semakin sering saya renungkan. Semakin lama berada di dunia pendidikan, saya semakin memahami bahwa mendidik bukan pekerjaan yang hasilnya bisa dilihat dalam hitungan hari.

Sebab, ada proses panjang di dalamnya, ada pembiasaan yang harus diulang, ada penyesuaian yang kadang melelahkan. Bahkan ada teori dan metode yang harus terus diuji agar sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

Dalam proses tersebut, tidak ada satu metode yang selalu cocok untuk semua anak. Karena hingga saat ini, ilmu pendidikan berkembang melalui perdebatan panjang. Berbagai teori lahir, dikritik, diperbaiki, bahkan dianggap bertentangan satu sama lain.

Namun jika dilihat lebih jauh, teori-teori tersebut justru memberikan banyak sudut pandang tentang bagaimana manusia belajar dan berkembang.

Salah satu teori yang cukup dikenal adalah classical conditioning atau pengondisian klasik yang diperkenalkan oleh ahli fisiologi Rusia, Ivan Pavlov.

Melalui eksperimen terhadap anjing, Pavlov menunjukkan bahwa suatu stimulus yang awalnya netral dapat memunculkan respons tertentu setelah dipasangkan berulang kali dengan stimulus yang secara alami menimbulkan respons tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering menemukan hal serupa. Bel sekolah, misalnya. Pada awalnya, suara bel hanyalah suara biasa. Namun karena berulang kali dikaitkan dengan waktu istirahat atau pulang sekolah, suara tersebut kemudian dapat membuat siswa secara otomatis bersiap menutup buku atau meninggalkan kelas.

Pengalaman manusia juga dapat membentuk respons yang serupa. Seseorang yang pernah mengalami pengalaman buruk dengan anjing, misalnya, bisa merasakan takut ketika bertemu anjing di kemudian hari. Meskipun hewan tersebut tidak sedang melakukan sesuatu yang membahayakan.

Teori Pembelajaran Sosial

Albert Bandura kemudian memperluas cara kita memahami proses belajar melalui teori pembelajaran sosial. Menurutnya, manusia tidak harus mengalami sesuatu secara langsung untuk dapat belajar. Kita dapat belajar dengan mengamati orang lain, kemudian meniru perilaku yang dilihat.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari apa yang dilakukan guru. Mereka mengamati cara orang dewasa berbicara, merespons masalah, memperlakukan orang lain, bahkan menunjukkan emosi.

Di sisi lain, tokoh-tokoh kognitif seperti Jean Piaget dan Edward Tolman memberikan perhatian lebih besar pada proses mental. Mereka mengkritik pandangan yang terlalu menempatkan manusia sebagai penerima stimulus secara pasif.

Tolman, misalnya, melalui eksperimennya menunjukkan bahwa hewan dapat membentuk semacam peta mental atau cognitive map. Artinya, proses belajar berkaitan dengan bagaimana informasi diproses dan disimpan dalam pikiran.

Kemudian muncul psikologi humanistik yang dikembangkan antara lain oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow. Perspektif ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, kehendak, kebutuhan, dan dorongan untuk berkembang.

Dari sini kita belajar bahwa manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai makhluk yang bereaksi terhadap lingkungan. Ada pengalaman, pikiran, emosi, kebutuhan, dan pilihan yang ikut membentuk perilaku.

Lantas, apa hubungannya semua teori tersebut dengan pengalaman saya sebagai guru?

Pertanyaan itu justru menemukan jawabannya ketika saya berhadapan dengan anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Rutinitas yang Tidak Bisa Diabaikan

Dari sekolah tempat saya pernah mengajar hingga sekolah tempat saya mengajar sekarang, saya menemukan pola yang hampir serupa. Bagi sebagian anak penyandang autisme, ADHD, maupun disabilitas intelektual, rutinitas memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Salah satu tantangan yang cukup terasa adalah ketika anak-anak menghadapi libur panjang.

Di sekolah, berbagai perilaku dibangun melalui rutinitas yang dilakukan berulang kali. Anak dibiasakan datang tepat waktu, menyimpan barang pada tempatnya, mengikuti instruksi, duduk dalam kegiatan tertentu, berganti aktivitas sesuai jadwal, hingga menyelesaikan tugas sebelum berpindah ke kegiatan berikutnya.

Semua itu tidak terbentuk dalam satu atau dua hari. Guru harus mengulanginya berkali-kali.

Kadang anak melakukan kesalahan. Guru mengingatkan. Besok kesalahan yang sama muncul lagi. Guru kembali mengingatkan. Proses tersebut berlangsung terus-menerus sampai perlahan terbentuk kebiasaan.

Karena itu, ketika libur panjang datang, perubahan rutinitas dapat menjadi tantangan tersendiri.

Di rumah, pola tidur anak bisa berubah. Waktu bangun menjadi tidak teratur. Aktivitas sehari-hari tidak lagi mengikuti jadwal sekolah. Penggunaan gawai bisa meningkat. Waktu makan dan bermain pun berubah.

Ketika sekolah kembali dimulai, anak seolah harus membangun kembali kebiasaan yang sebelumnya sudah terbentuk. Bagi sebagian anak, perubahan tersebut tidak mudah.

Ada anak yang sulit kembali mengikuti jadwal sekolah. Ada yang mengalami tantrum karena harus kembali ke rutinitas. Bahkan ada pula yang mengalami kesulitan mengatur pola tidur sehingga datang ke sekolah dalam kondisi kurang istirahat.

Dalam beberapa kasus, orang tua memilih membiarkan anak tidak masuk sekolah karena tidak tega menghadapi tangisan atau penolakan.

Namun keputusan tersebut terkadang membuat proses adaptasi menjadi semakin panjang.

Ketika akhirnya anak kembali ke sekolah, guru harus memulai kembali beberapa kebiasaan yang sebelumnya sudah terbentuk. Anak yang sebelum liburan mulai mampu mengikuti instruksi, misalnya, kembali mengalami kesulitan. Perilaku yang sebelumnya mulai berkurang juga dapat muncul kembali.

Di sinilah saya melihat bahwa proses mendidik memang tidak bisa dilakukan secara instan.

Anak Bukan Mesin

Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami mengapa teori pembiasaan masih relevan dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Rutinitas, pengulangan, pemberian contoh, penguatan perilaku positif, dan lingkungan yang konsisten dapat membantu anak memahami apa yang mereka harapkan.

Namun, pengalaman yang sama juga mengingatkan saya bahwa anak bukan mesin yang cukup ia program dengan stimulus tertentu. Di sinilah teori-teori pendidikan yang lain tetap penting.

Guru tidak cukup hanya mengulang instruksi. Guru juga perlu memahami bagaimana anak berpikir, apa yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman, bagaimana ia berkomunikasi, apa yang ia sukai, dan apa yang membuatnya merasa aman.

Satu anak mungkin membutuhkan pengulangan berkali-kali. Anak lain mungkin lebih mudah belajar melalui contoh. Ada yang membutuhkan gambar atau petunjuk visual. Ada yang lebih mudah memahami instruksi melalui aktivitas langsung. Bahkan untuk perilaku yang sama, penyebabnya belum tentu sama.

Ketika seorang anak tiba-tiba tantrum, misalnya, guru tidak cukup hanya melihat perilaku yang muncul. Kita perlu bertanya apa yang terjadi sebelumnya.

Apakah anak kelelahan? lingkungan terlalu ramai? Apakah ia tidak memahami instruksi? Apakah ada perubahan jadwal? Atau apakah ia sedang kesulitan menyampaikan sesuatu yang tidak mampu ia ucapkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat proses mendidik menjadi lebih manusiawi. Kita sedang berusaha memahami alasan di balik perilaku tersebut.

Mendidik Membutuhkan Kesabaran

Dari pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa pendidikan bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat berubah.

Anak berkebutuhan khusus memiliki proses perkembangan yang berbeda. Ada yang menunjukkan kemajuan dalam hitungan minggu, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai satu kemampuan tertentu. Kemajuan kecil pun tetap merupakan kemajuan.

Anak yang sebelumnya tidak mampu mengikuti satu instruksi, kemudian mampu melakukannya, adalah sebuah pencapaian. Anak yang sebelumnya selalu menolak masuk kelas kemudian mulai mau duduk bersama teman-temannya juga merupakan perkembangan.

Sayangnya, kita sering mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari hasil yang besar dan mudah ia lihat.

Padahal bagi seorang anak berkebutuhan khusus, mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan merupakan pencapaian yang sangat berarti.

Karena itu, guru membutuhkan kesabaran. Orang tua juga membutuhkan kesabaran. Lingkungan sekitar pun perlu memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk tumbuh sesuai dengan kemampuannya.

Teori-teori pendidikan yang telah berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun dapat membantu kita memahami proses tersebut. Namun teori tidak akan berarti jika kita tidak mampu menerapkannya dengan melihat manusia yang sedang kita didik.

Pada akhirnya, tidak ada satu teori yang harus kita menangkan dan teori lain yang harus kita kalahkan.

Pembiasaan

Pengondisian membantu kita memahami pentingnya pembiasaan. Pembelajaran sosial mengingatkan kita bahwa anak belajar melalui pengamatan. Teori kognitif mengajarkan pentingnya memahami proses berpikir. Sementara pendekatan humanistik mengingatkan bahwa setiap anak adalah manusia yang memiliki kebutuhan, perasaan, dan potensi untuk berkembang.

Semua perspektif tersebut dapat saling melengkapi. Bagi saya, mendidik adalah proses menemukan titik temu antara teori dan kebutuhan si anak.

Di ruang kelas SLB, saya belajar bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang membuat anak mampu mengikuti aturan. Lebih dari itu, pendidikan harus membantu anak menjadi lebih mampu menjalani kehidupannya.

Karena itu, kalimat “mendidik tidak bisa mendadak” bukan sekadar ungkapan tentang lamanya proses belajar. Ia adalah pengingat bahwa perubahan membutuhkan waktu.

Maka kita membutuhkan kesabaran untuk mengulang, keberanian untuk mengevaluasi, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa metode yang berhasil untuk satu anak belum tentu berhasil untuk anak lainnya.

Seperti meracik kopi, pendidikan membutuhkan takaran yang tepat. Ada bahan yang harus kita tambah, ada yang perlu kita kurangi, dan terkadang kita harus mencoba berkali-kali sebelum menemukan rasa yang sesuai.

Begitu pula mendidik anak. Tidak ada resep tunggal. Yang ada adalah proses panjang untuk mengenali, memahami, mencoba, mengevaluasi, dan kembali mencoba.

Sebab, di balik setiap perilaku yang ingin kita ubah, ada seorang anak yang sedang berusaha memahami dunia. Dan tugas kita mendampinginya agar dapat tumbuh dengan cara yang paling sesuai dengan perkembangannya. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.