Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Yang Kita Cari Selama ini Mungkin Bukan Sekolah Terbaik

Yang Kita Cari Selama ini Mungkin Bukan Sekolah Terbaik

yang-kita-cari-selama-ini-mungkin-bukan-sekolah-terbaik
Yang Kita Cari Selama ini Mungkin Bukan Sekolah Terbaik
service

Musim penerimaan peserta didik baru selalu menjadi momen yang sibuk bagi para orang tua. Berbagai sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi berlomba menunjukkan keunggulan masing-masing. Ada yang menawarkan fasilitas modern, prestasi akademik, kerja sama internasional, hingga nama besar yang telah dikenal masyarakat. Tidak sedikit pula orang tua yang rela mengantre, bahkan berpindah kota, demi memasukkan anaknya ke institusi yang dianggap terbaik.

Namun, beberapa tahun terakhir kita juga disuguhkan kenyataan yang memprihatinkan. Berkali-kali muncul pemberitaan tentang oknum guru, dosen, maupun kiai yang melakukan pelanggaran norma kesusilaan. Yang membuat masyarakat semakin prihatin, tidak sedikit kasus tersebut terjadi di institusi pendidikan yang memiliki nama besar. Hal ini mengingatkan kita bahwa kemasyhuran sebuah lembaga tidak selalu identik dengan kualitas pribadi setiap pendidiknya.

Jika kita menengok sejarah, pesantren-pesantren besar pada masa lalu justru lahir bukan karena cita-cita mendirikan sebuah institusi pendidikan. Banyak kiai memulai dakwahnya dengan niat sederhana, yaitu mengajar dan mendidik masyarakat. Karena keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, dan keteladanan mereka, semakin banyak orang datang untuk belajar. Dari sanalah kemudian lahir sebuah pesantren. Dengan kata lain, lembaga menjadi besar karena kualitas gurunya, bukan guru menjadi baik karena nama lembaganya.

Hari ini keadaan mulai bergeser. Pendidikan juga menjadi sektor yang menjanjikan sehingga banyak pihak berlomba mendirikan institusi pendidikan, membangun citra, dan memperkuat merek. Tentu tidak ada yang salah dengan pengelolaan pendidikan secara profesional. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak menilai pendidikan hanya dari kemegahan institusinya, sementara kualitas orang-orang yang mendidik di dalamnya justru luput dari perhatian.

Dalam konteks inilah saya teringat sebuah tembang Dhandhanggula yang diajarkan Pak Sularno, wali kelas saya ketika duduk di kelas V SD. Saya hafal tembang ini bukan karena sengaja menghafalkannya, melainkan karena sulitnya kami mengikuti nada yang beliau ajarkan sehingga harus diulang berkali-kali. Bertahun-tahun kemudian, ketika kuliah, barulah saya mengetahui bahwa tembang tersebut merupakan petuah Sunan Pakubuwono IV dalam Serat Wulangreh.

Lamun sira anggeguru kaki,

amiliha manungsa kang nyata,

ingkang becik martabate,

sarta wruh ing hukum,

kang ngibadah lan kang wirangi,

sukur wong tapa,

ingkang wus amungkul,

tan mikir pawewehing liyan,

iku pantes sira guronana kaki,

sartane kawruhana.

Ada satu kalimat yang menurut saya menjadi kunci seluruh tembang ini, yaitu “Lamun sira anggeguru kaki“—apabila engkau hendak mencari guru atau pendidik. Menariknya, Sunan Pakubuwono IV tidak berkata, “Pilihlah sekolah yang besar,” atau “Carilah institusi yang terkenal.” Beliau justru mengatakan, “amiliha manungsa kang nyata“—pilihlah manusia yang nyata.

Artinya, yang pertama kali diperhatikan adalah manusianya, bukan organisasinya, bukan institusinya, melainkan orang yang akan mendidik.

Lalu seperti apa manungsa kang nyata itu?

Pertama, “ingkang becik martabate“, yaitu orang yang memiliki martabat dan akhlak yang baik. Pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan adalah proses pembentukan karakter. Karakter tidak diajarkan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan. Karena itu, seorang pendidik yang bermartabat akan lebih mudah mentransfer nilai-nilai kehidupan kepada anak didiknya.

Kedua, “sarta wruh ing hukum“, yaitu memahami hukum, terutama hukum agama. Ia mengetahui mana yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Sebab, apabila terhadap aturan Allah saja seseorang tidak peduli, bagaimana mungkin ia dapat menjadi teladan dalam menaati aturan-aturan yang dibuat manusia?

Ketiga, “kang ngibadah lan kang wirangi“, yaitu orang yang melaksanakan ibadah dan memiliki sifat wara’, berhati-hati dalam bertindak serta menjauhi hal-hal yang tercela. Pengetahuan tentang hukum harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Dari tembang tersebut dapat dipahami bahwa tiga sifat inilah standar minimal yang semestinya dimiliki oleh seorang pendidik.

Kemudian Sunan Pakubuwono IV menambahkan, “sukur wong tapa“. Akan lebih baik lagi apabila guru tersebut adalah seorang yang tekun dalam laku spiritual, mampu mengendalikan hawa nafsunya sehingga tidak mudah hanyut dalam hiruk-pikuk kepentingan duniawi, baik harta, jabatan, maupun popularitas.

Lebih tinggi lagi apabila ia “tan mikir pawewehing liyan“, tidak menjadikan pemberian orang lain sebagai tujuan hidupnya. Mengajar bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan juga sebuah pengabdian.

Namun, nasihat ini juga menjadi pengingat bagi para wali murid. Guru yang tidak mengharapkan pemberian bukan berarti boleh diabaikan kesejahteraannya. Justru masyarakat dan para wali murid memiliki tanggung jawab moral untuk memuliakan guru dengan mencukupi hak-haknya, agar ia dapat mendidik dengan tenang dan sepenuh hati.

Petuah Sunan Pakubuwono IV yang ditulis ratusan tahun lalu ternyata tetap relevan hingga hari ini. Ketika musim penerimaan peserta didik baru tiba, mungkin pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan bukanlah, “Sekolah mana yang paling terkenal?”, melainkan, “Siapa manusia yang akan mendidik anak-anak kita?”

Karena pada akhirnya, institusi pendidikan yang hebat selalu dibangun oleh pendidik-pendidik yang hebat. Bukan sebaliknya.

Barangkali inilah sebabnya Sunan Pakubuwono IV tidak mengawali nasihatnya dengan “pilihlah lembaga yang terbaik”, melainkan dengan “amiliha manungsa kang nyata.” Yang kita cari selama ini mungkin bukan semata-mata sekolah terbaik, melainkan manusia terbaik yang akan mendidik anak-anak kita. Sebab pendidikan selalu bermula dari seorang pendidik. Lembaga dapat membentuk sistem, menyediakan sarana, dan membangun budaya belajar, tetapi manusialah yang setiap hari menanamkan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Saya bersyukur pernah diajari tembang ini oleh Pak Sularno, bahkan sebelum saya memahami maknanya. Dulu saya hanya menghafalkan nadanya. Kini, setelah menjadi seorang ayah yang juga harus memilih pendidik bagi anak-anaknya, saya baru benar-benar belajar memahami pesannya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.