Bincangperempuan.com- Namun, sudahkah kita benar-benar mendengar dan menyimak bagaimana anak-anak itu sebenarnya mengalami pubertas? Berapa banyak orang tua yang mau duduk bersama anak laki-lakinya untuk mengobrolkan gairah, kebingungan, dan perubahan hormon tersebut tanpa rasa canggung atau tabu?
Jika kamu mencari sebuah karya fiksi yang secara berani menyingkap tabir sunyi pubertas anak, mungkin kamu harus membaca novel ini: Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday. Novel yang memenangkan penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kategori Novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2024. Tidak tebal, kamu hanya perlu meluangkan waktu untuk membaca 196 halaman saja. Namun, meski halamannya tergolong ringkas, isu yang diusungnya terasa begitu tebal dan menampar.
Baca juga: Menatap Sisi Gelap Kawin Kontrak dalam Novel Mawar Bukan Nama Sebenarnya
Mengintip Bayangan di Toko Firdauz dan Realita Pahit
Novel ini berpusat pada Adam, seorang remaja tanggung berusia 13 tahun yang sedang berada di puncak gejolak gairah seksualnya. Rumah tua di samping rumah Adam yang telah lama terbengkalai kini ditempati penghuni baru bernama Eva—seorang perempuan bertangan dingin dalam menumbuhkan aneka tanaman. Eva menyulap keangkeran rumah tua itu menjadi Toko Firdauz dengan pekarangan yang begitu rimbun. Dari balik jendela kamarnya, Adam kerap menyaksikan Eva dan tanamannya dengan gairah yang terus bergolak.
Tiada yang menyangka, di tengah gejolak itu, Adam menyaksikan fantasi surealis: sulur-sulur mawar masuk ke kamarnya, memenuhi imajinasinya tentang sosok perempuan yang ditumbuhi duri dan akar. Sebaliknya, Eva selalu saja diikuti kutukan atas apa yang tumbuh pada tubuhnya. Adam menyimpan rahasia besar atas tubuh Eva, sekaligus imajinasi liar yang terus menghantuinya setiap malam. Dalam Duri dan Kutuk, terbentang selusur kisah perempuan yang sepanjang hidupnya kerap diusik duri dan terkepung kutuk.
Satu hal yang membuat novel ini terasa begitu relavan adalah premisnya. Kita sebagai orang dewasa sering tidak percaya dengan kemungkinan-kemungkinan gairah seksual yang terjadi pada anak-anak yang baru puber. Kita menganggap anak seusia Adam masih “polos”, padahal fenomena ini nyata terjadi di sekitar kita.
Buktinya, pada Juni 2025 yang lalu, kasus kekerasan seksual dengan pelaku anak di bawah umur meletus di Bekasi, Jawa Barat, dengan korban diduga mencapai empat orang. Dari hasil pemeriksaan, pelaku beraksi karena terpapar konten pornografi serta pernah menjadi korban pelecehan sebelumnya. Kasus ini baru terkuak setelah ibu salah seorang korban bersuara di media sosial karena anaknya enggan beribadah selama delapan bulan. Tragisnya, ketika sang ibu melapor ke polisi, laporannya sempat ditolak dengan alasan pelaku masih berusia di bawah 12 tahun. Novel ini seolah menelanjangi kenyataan bahwa masyarakat kita masih menutup mata hingga ledakan masalah itu benar-benar terjadi.

Hilangnya Peran Ayah dalam Edukasi Seksual
Jika pubertas pada anak perempuan—seperti tumbuhnya payudara atau datangnya menstruasi—umumnya dibimbing oleh sosok ibu yang sigap menyuruh memakai miniset, mengajari cara menggunakan pembalut, dan mewanti-wanti untuk berhati-hati, lantas kenapa pubertas pada laki-laki hampir tidak pernah dibicarakan oleh seorang ayah?
Dalam Duri dan Kutuk, dinamika ini disoroti secara tajam. Anwar, ayah Adam, digambarkan hanya sibuk bekerja, makan, dan menenangkan istrinya (Sara), tetapi tidak pernah secara terbuka duduk dan mengobrol dengan Adam. Padahal, secara ideal mereka harusnya akrab. Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak berjalan baik inilah yang membuat Adam memendam ketakutan luar biasa untuk jujur terhadap apa yang sebenarnya ia alami dan rasakan selama masa pubertas.
Baca juga: Membaca Esok Jilbab Kita Dirayakan: Benarkah Semua Perempuan Punya Kemewahan untuk Merayakannya?
Ketika Rumah Gagal Menjadi Ruang Aman
Novel ini juga menyoroti bagaimana hubungan Adam dan orang tuanya. Orang tua bukanlah sosok yang paling tahu segalanya tentang anak, dan orang tua pun tidak boleh selalu merasa anaknya pasti benar. Perlu ada proses saling mendengarkan antara orang tua dan anak.
Apalagi saat anak sedang didera masalah atau krisis identitas, maka kepercayaan dan rasa aman harusnya dibangun sejak dini. Anak tidak mungkin memendam rahasia dan keresahannya jika orang tua tidak terus bertindak paling tahu dan paling benar. Orang tua seharusnya menciptakan hubungan yang setara agar anak merasa tenang dan terlindungi. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak sadar bahwa mereka belum pernah memberikan ruang aman (safe space) bagi anaknya untuk sekadar bercerita tanpa dibayangi rasa takut dan penghakiman.
Di luar isu sosialnya, Duri dan Kutuk kaya akan metafora. Pemilihan nama Eva dan Adam jelas merefleksikan figur Adam dan Hawa dalam tradisi Abrahamik. Mirip dengan narasi klasik tersebut, dalam novel ini Eva tetap menjadi pihak yang selalu disalahkan dan menanggung beban kutukan. Sementara itu, Adam hanya diam—tidak membela, tidak pula menceritakan kebenaran yang diketahuinya.
Terlepas dari isu berat yang diangkat, gaya penulisan novel ini diksinya tidak terlampau puitis atau megah, melainkan cenderung datar dan mengalir begitu saja—yang bagi sebagian pembaca mungkin terasa kurang memberikan kedalaman emosional. Selain itu, meski diusung dengan tiga sudut pandang (POV) yaitu Sara, Adam, dan Eva, konsistensi narasi di bagian tengah agak runtuh karena hadirnya bab dengan sudut pandang yang terasa tidak senada.
Secara keseluruhan, novel ini berhasil menyajikan perpaduan hawa horor dan fantasi yang mencekam. Mengingat adanya deskripsi seksualitas yang eksplisit, buku ini secara tegas ditujukan untuk kategori usia 21+. Bagi kamu yang mencari bacaan bernuansa gelap tapi sarat akan kritik edukasi seks dan pola asuh keluarga, Duri dan Kutuk adalah karya yang sangat layak untuk diulik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.