Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

legenda-wa-ngkause-use-dan-wa-sambangi,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-tenggara
Legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
service

Legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara | Magnific AI


Legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Legenda ini menceritakan tentang dua saudara yang mendapatkan perlakuan buruk dari ibu tiri mereka.

Bagaimana kisah dari legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi tersebut? Simak kisah lengkapnya dalam artikel berikut ini.

Legenda Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Dinukil dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, alkisah pada zaman dahulu hiduplah dua orang anak bersaudara. Kedua anak tersebut bernama Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi.

Mereka tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Sang ayah sangat menyayangi Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi.

Namun sayang, ibu tiri Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi sangat membenci mereka. Ada saja yang dilakukan oleh sang ibu untuk menyusahkan kedua anak itu.

Sehari-hari ayah Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi bekerja membuat sampan di hutan. Saat ayam mereka bekerja, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi tinggal bersama ibu tirinya di rumah.

Ibu tiri tidak pernah memberi makan mereka. Sang ibu hanya menyuruh mereka tidur begitu saja.

Untuk mengelabui sang ayah, ibu tiri ini hanya mengoleskan sisa-sia ubi di mulut mereka. Dengan demikian, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi terlihat sudah makan dan tertidur lelap.

Perilaku buruk ibu tirinya ini tidak pernah diketahui ayah Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi. Kedua bersaudara tersebut juga tidak pernah menceritakan apa yang mereka alami.

Pada suatu hari, ibu tiri Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi meminta mereka untuk mengantarkan makanan ayah di hutan. Ibu tiri Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi membungkuskan dua bungkusan untuk mereka.

Satu bungkusan berisi makanan untuk sang ayah. Sementara itu, satu bungkusan lagi boleh mereka makan.

Ibu tiri Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi juga memberikan arahan untuk menuju tempat sang ayah bekerja. Mereka mesti berjalan lurus menyusuri hutan dan tidak boleh berbelok di persimpangan.

Berangkatlah Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi mengantarkan makanan untuk sang ayah. Perjalanan ini sangat jauh karena mesti melewati tujuh bukit untuk sampai ke tempat sang ayah.

Di tengah perjalanan, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi merasa kelaparan. Mengingat pesan ibu tirinya, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi membuka bungkusan yang dikhususkan untuk mereka.

Namun sayang, bungkusan itu ternyata berisi kotoran. Alangkah sedihnya perasaan Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi atas perlakuan yang mereka terima.

Kedua saudara ini kembali melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan cukup lama, sampailah mereka di tempat sang ayah.

Pada awalnya, sang ayah mengajak mereka untuk makan bersama. Akan tetapi Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi berkata sudah kenyang, walau sebenarnya belum makan sedikitpun.

Setelah mengantarkan makanan, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi pun kembali ke rumah. Sang ayah berpesan agar mereka mengikuti arah jalan yang ditunjukkan ibu tirinya.

Di tengah perjalanan, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi menemukan persimpangan. Muncul keinginan dari mereka untuk melarikan diri dan tidak kembali ke rumah ibu tirinya.

Kedua saudara ini pun kemudian belok ke arah kiri. Di sana, dia melihat sebuah gubuk yang dihuni nenek tua.

Ternyata nenek tua itu adalah sosok jahat yang suka memakan anak-anak. Namun di sekitar gubuk tersebut banyak sekali hasil alam yang bisa dikonsumsi.

Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi pun muncul di hadapan sang nenek. Mereka berkata bersedia untuk dimakan.

Namun mereka sedang kelaparan dan tentu tidak nikmat jika dimakan nenek tua itu nantinya. Akhirnya nenek tua itu memberi makanan yang banyak untuk mereka.

Saat Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi makan, nenek tua ini kembali di perapian. Tanpa sadar, tiba-tiba Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi mendorong nenek tua itu ke perapian dan menemui ajalnya di sana.

Sejak saat itu, Wa Ngkause-use dan Wa Sambangi memutuskan untuk tinggal bersama di gubuk itu. Akhirnya kedua saudara ini hidup bahagia dan lepas dari belenggu ibu tiri mereka yang jahat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.