
Sekubal, Makanan Tradisional Khas Lampung | Tangkap layar YouTube Annisa Rahmawati Pinky
Banyak makanan tradisional khas dari berbagai daerah di Indonesia yang identik dengan momen-momen tertentu. Salah satunya adalah sekubal, makanan tradisional khas yang berasal dari daerah Lampung.
Kuliner ini umum dijumpai pada saat momen Lebaran tiba di tengah masyarakat. Sekubal sering kali menjadi sajian yang dihidangkan untuk para tamu yang datang bersilaturahmi dalam momen besar bagi umat Islam tersebut.
Tidak hanya itu, makanan tradisional khas Lampung ini biasanya juga disajikan pada saat momen penting lainnya di tengah masyarakat. Misalnya, sekubal juga sering dihidangkan saat ada upacara adat dan sejenisnya di tengah masyarakat.
Hal ini tentu membuat sekubal memiliki nilai dan makna yang lebih dari sekadar makanan untuk mengenyangkan perut saja. Lantas bagaimana ulasan lebih lanjut terkait makanan tradisional khas Lampung tersebut?
Sekilas tentang Sekubal, Makanan Tradisional Khas Lampung
Sekubal menjadi salah satu kuliner tradisional yang berasal dari daerah Lampung. Sekilas makanan tradisional yang satu ini memiliki kemiripan dengan lontong.
Namun ada sedikit perbedaan antara sekubal dengan lontong, khususnya pada bahan dasar pembuatannya. Sekubal umumnya dibuat dengan bahan dasar beras ketan.
Lain halnya dengan lontong yang biasanya menggunakan beras bisa. Selain beras ketan, kuliner yang termasuk dalam kategori makanan berat ini juga menggunakan beberapa bahan lainnya, seperti santan dan garam.
Nantinya semua bahan-bahan ini akan dikemas ke dalam daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus selama lebih kurang 6 hingga 8 jam. Biasanya sekubal akan dikonsumsi bersama tape ketan, bumbu rendang, dan makanan pendamping lainnya.
Dilansir dari buku Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera), keberadaan sekubal dipercaya sudah ada sejak lama, khususnya dari kalangan masyarakat asli Lampung yang tinggal di daerah pedalaman. Sekubal biasanya digunakan sebagai bekal dari para petani ketika bekerja di ladang mereka.
Apalagi makanan tradisional khas Lampung ini cukup awet dan tahan lama. Sekubal bisa bertahan selama lebih kurang 3 hari lamanya jika disimpan pada suhu ruangan dan dapat lebih lama lagi jika dimasukkan ke dalam kulkas.
Identik dengan Momen Lebaran
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, sekubal menjadi salah satu kuliner khas yang identik dengan momen Lebaran. Makanan tradisional ini menjadi salah satu menu yang sering dihidangkan pada momen hari besar bagi umat Islam tersebut.
Selain itu, sekubal juga sering disajikan dalam beberapa momen penting di tengah masyarakat, seperti upacara adat, acara pernikahan, dan sejenisnya. Biasanya sekubal akan sulit dijumpai di luar momen-momen penting tersebut, walau masih ada beberapa pedagang yang menjual makanan tradisional ini di hari-hari biasa.
Sarat akan Nilai dan Makna
Tahukah Kawan, ternyata keberadaan sekubal di tengah masyarakat lebih dari sekadar makanan saja. Kuliner tradisional ini ternyata juga sarat akan nilai dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Dilansir dari lamanRRI, penggunaan bahan dasar beras ketan pada proses pembuatan sekubal memiliki nilai filosofi yang berkaitan dengan budaya lokal. Penggunaan bahan dasar beras ketan yang lengket menjadi simbol rasa kekeluargaan yang erat.
Hal inilah yang membuat sekubal sering kali disajikan saat waktu tertentu,seperti pada momen Lebaran dan sejenisnya. Dengan disajikannya sekubal ini, diharapkan hal tersebut menjadi simbol keakraban dari keluarga yang tengah bersilaturahmi dalam momen penting tersebut.
Tidak hanya itu, penyajian sekubal pada momen-momen penting juga menjadi bentuk penghormatan bagi para tamu yang datang. Jadi, apakah Kawan tertarik untuk mencicipi makanan tradisional khas Lampung ini nantinya?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor





Comments are closed.