Fri,7 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Traveling
  3. Budget Traveler

Budget Traveler

budget-traveler
Budget Traveler
service

Banyak orang mengira menjadi budget traveler itu karena uangnya pas pasan. Padahal buat saya, alasannya justru karena terlalu sering traveling.

Kalau frekuensi jalan-jalannya hanya sekali dalam satu atau dua tahun, mungkin saya juga akan lebih santai soal budget. Mau menginap di hotel yang lebih nyaman, membeli tiket pesawat yang lebih mahal, atau makan di restoran yang lebih spesial sesekali, rasanya masih masuk akal.

Masalahnya, saya bukan tipe traveler seperti itu.

Saya termasuk golongan yang kalau ada cuti, ada libur panjang, ada kesempatan, dan ada tiket yang cocok, biasanya langsung berpikir,

“Gas nggak ya?”

Akibatnya, dalam setahun jumlah perjalanan saya bisa berkali-kali, baik domestik maupun internasional. Kadang baru saja pulang dari satu trip, saya sudah mulai menyusun itinerary untuk perjalanan berikutnya.

Karena itulah saya harus realistis.

Kalau setiap perjalanan dilakukan dengan gaya jor-joran, mungkin saya hanya mampu jalan sekali setahun. Sementara yang saya cari justru bukan kemewahan perjalanannya, melainkan frekuensi pengalaman yang bisa saya kumpulkan.

Buat saya, lebih menyenangkan bisa jalan lima kali dengan budget yang terukur dibanding sekali jalan mewah lalu harus puasa traveling berbulan-bulan.

Saya juga sadar bahwa hidup tidak hanya berisi traveling.

Masih ada kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak-anak, dana darurat, investasi, tabungan masa depan, dan berbagai pengeluaran tak terduga yang selalu muncul entah dari mana.

Saya tidak ingin pulang traveling dalam kondisi rekening kosong. Saya juga tidak ingin harus berutang demi sebuah perjalanan. Karena menurut saya, salah satu kenikmatan traveling adalah bisa menikmati perjalanan tanpa dibayangi tagihan setelah pulang.

Salah satu prinsip yang selalu saya pegang adalah jangan sampai hobi traveling mengorbankan tujuan keuangan jangka panjang.

Saya tetap ingin bisa berinvestasi. Tetap ingin merasa tenang secara finansial.

Ada satu alasan lagi kenapa saya memilih menjadi budget traveler.

Saya harus berlaku adil. Adil untuk diri sendiri, adil untuk teman perjalanan, dan adil untuk keluarga.

Saya cukup sering traveling bersama teman-teman. Tapi di sisi lain, saya juga ingin tetap punya budget untuk jalan bersama keluarga.

Rasanya tidak adil kalau semua dana traveling habis untuk solo trip atau jalan bersama teman, lalu ketika keluarga mengajak liburan saya malah berkata,

“Duh, budgetnya habis.”

Makanya saya selalu berusaha menjaga keseimbangan.

Kalau ada budget untuk backpackeran ke luar negeri, harus ada juga budget untuk jalan bersama anak-anak.

Kalau ada dana untuk mengejar negara baru, harus ada juga dana untuk quality time bersama keluarga.

Budget Traveler Bukan Berarti Mencari yang Paling Murah

Banyak yang salah paham bahwa budget traveler berarti selalu mencari yang paling murah.

Padahal tidak juga.

Saya tetap mempertimbangkan keamanan, efisiensi waktu, dan kualitas pengalaman. Kalau sekaligus mendapatkan kenyamanan, saya anggap itu bonus.

Saya akan memilih hostel/apartemen/hotel melati daripada hotel berbintang jika memang bersih, nyaman, dan lokasinya strategis.

Saya akan naik transportasi umum kalau lebih efisien.

Saya akan berburu tiket promo kalau memang memungkinkan.

Tetapi saya juga tidak keberatan membayar lebih untuk hal-hal yang memang penting atau sulit diulang.

Karena tujuan saya bukan mencari yang paling murah.

Tujuan saya adalah mendapatkan nilai terbaik dari setiap rupiah yang dikeluarkan.

Tantangan Menjadi Budget Traveler

Yang kadang tidak enak justru bukan cara travelingnya, melainkan pandangan orang lain.

Beberapa kali saya pernah mendengar komentar seperti,

“Jangan kayak orang susah.”

Kalimat itu sebenarnya cukup membuat saya sedih.

Padahal yang mereka lihat hanya cara saya menghemat di satu sisi, tanpa mengetahui alasan di baliknya.

Mereka tidak melihat bahwa uang yang dihemat hari ini mungkin menjadi tiket pesawat untuk perjalanan berikutnya. Atau menjadi tambahan investasi. Atau justru dipakai untuk mengajak keluarga liburan.

Buat saya, hidup hemat bukan berarti hidup kekurangan.

Saya hanya sedang memilih prioritas.

Menikmati Hal-hal yang Belum Tentu Dilakukan di Indonesia

Ada alasan lain yang membuat saya nyaman menjadi budget traveler.

Saya ingin menikmati pengalaman yang mungkin tidak akan saya lakukan di Indonesia.

Kapan lagi, ya kan?

Misalnya menginap di kamar dormitory bersama traveler dari berbagai negara.

Berbagi kamar dengan orang yang baru dikenal, saling menyapa di pantry, bertukar cerita perjalanan, atau sekadar mendengar berbagai bahasa dalam satu ruangan.

Kalau di Indonesia?

Jujur saja, saya mungkin akan memilih hotel yang lebih nyaman.

Begitu juga soal transportasi.

Saat traveling ke luar negeri, saya justru senang mencoba metro, tram, bus kota, kereta regional, bahkan berjalan kaki berkilo-kilometer dari satu tempat wisata ke tempat lainnya.

Selain lebih hemat, cara itu membuat saya merasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Sebaliknya di Indonesia, kalau ada pilihan naik taksi online yang nyaman dan harganya masih masuk akal, biasanya saya tidak berpikir panjang untuk memesannya.

Begitu juga soal makan.

Menurut saya, Indonesia adalah salah satu negara terbaik untuk urusan kuliner.

Makanannya enak.

Pilihannya banyak.

Mudah menemukan makanan halal.

Dan yang paling penting, kita membayarnya dengan rupiah tanpa perlu menghitung kurs setiap saat.

Saat di luar negeri, saya sering berpikir dua kali sebelum membeli makanan.

“Kalau dirupiahkan jadi berapa ya?”

“Segelas kopi segini harganya?”

“Ini setara berapa mangkuk bakso atau coto Makassar?”

Contoh seperti fast food Fried Chicken, di negara tertentu harganya bisa 3-5x lipat dibanding harga fast food yang sama di Indonesia. Starbucks juga begitu. Mending

Karena itu saya tidak keberatan sesekali makan dari supermarket, minimarket, atau memasak sederhana di hostel.

Bukan semata-mata demi menghemat uang, tetapi supaya budget yang sama bisa dipakai memperpanjang perjalanan atau mengunjungi destinasi berikutnya.

Mengajarkan Anak tentang Prioritas

Sebagai budget traveler, saya juga berusaha menularkan cara berpikir yang sama kepada anak-anak.

Bukan soal pelit.

Tetapi soal memilih prioritas.

Saya masih ingat saat kami berada di Seoul.

Saya memberikan pilihan kepada mereka.

“Pilih mana? Menginap di hotel atau tidur di Bandara Incheon, lalu uang hotelnya kita pakai buat main di theme park?”

Tanpa berpikir panjang mereka langsung memilih theme park.

Akhirnya setelah check-out dari penginapan, kami menitipkan barang di akomodasi, bermain seharian, lalu malamnya menuju Bandara Incheon dan bermalam di sana sampai waktu penerbangan ke Kuala Lumpur keesokan paginya.

Lucunya, setibanya di Kuala Lumpur kami sebenarnya berniat menginap di hotel bandara.

Ternyata semua kamar penuh.

Akhirnya… ngemper lagi. Kali ini di food court KLIA.

Kalau dipikir sekarang, kok ya sering juga tidur ala backpacker begini.

Sekarang sih sudah jauh berkurang.

Mungkin faktor U… usia.

Pernah juga kami tiba pukul dua dini hari di KL Sentral setelah naik bus dari Singapura.

Karena belum bisa check-in dan transportasi masih minim, kami memilih menunggu sampai pagi di dalam stasiun.

Saat suasana masih sepi, saya bahkan sempat memandikan anak-anak di toilet.

Alhamdulillah tidak ada yang rewel.

Mereka tetap menikmati perjalanan sebagaimana adanya.

Mungkin karena sejak kecil memang sudah terbiasa diajak jalan dalam berbagai kondisi.

Hemat Bukan Berarti Mengorbankan Pengalaman

Contoh lainnya saat long weekend beberapa tahun lalu.

Saya baru saja pulang dari perjalanan ke Eropa bersama teman-teman. Budget traveling sebenarnya sudah sangat tipis.

Tetapi ada libur panjang, dan saya ingin tetap jalan bersama keluarga. Mumpung ada kesempatannya.

Pilihan yang paling masuk akal saat itu adalah Karimunjawa.

Kami road trip dari Bandung menuju Jepara, lalu menyeberang ke Karimunjawa.

Saya menemukan hostel baru seharga sekitar Rp200 ribu per malam. Di dalam kamar ada dua bunk bed, jadi cukup untuk kami sekeluarga.

Ternyata setelah sampai, ada sedikit drama.

Harga Rp200 ribu itu ternyata bukan per kamar, melainkan per tempat tidur.

Artinya satu kamar seharusnya Rp800 ribu.

Untungnya setelah saya menghubungi OTA dan menjelaskan bahwa informasi yang ditampilkan kurang jelas, kami tidak diminta membayar biaya tambahan.

Alhamdulillah.

Meski menginap hemat, bukan berarti semua harus serba murah.

Di Karimunjawa kami tetap mengambil paket snorkeling dari online travel agent.

Kami juga tetap makan di restoran yang nyaman dan instagramable, termasuk salah satu restoran di resort yang cukup terkenal di sana.

Karena bagi saya, menjadi budget traveler bukan berarti menghilangkan semua kenyamanan.

Yang saya cari adalah keseimbangan.

Hemat di bagian yang tidak terlalu penting, supaya bisa lebih leluasa menikmati pengalaman yang benar-benar kami inginkan.

Dan mungkin hasilnya mulai terlihat.

Beberapa tahun lalu, anak-anak saya yang saat itu berusia 17 dan 18 tahun berangkat berdua ke Seoul tanpa saya.

Mereka merencanakan sendiri, naik transportasi umum sendiri, dan menikmati perjalanan dengan percaya diri.

Sebagai orang tua, rasanya menyenangkan melihat mereka tumbuh menjadi traveler yang mandiri.

Cerita Lebih Berharga daripada Kemewahan

Pada akhirnya, alasan terbesar saya menjadi budget traveler sangat sederhana.

Saya ingin tetap bisa traveling.

Bukan hanya tahun ini.

Tetapi juga tahun depan, lima tahun lagi, bahkan saat pensiun nanti.

Karena buat saya, traveling bukan hadiah yang dinikmati sesekali.

Traveling sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Jadi kalau ingin tetap sering jalan tanpa mengganggu kondisi keuangan, tanpa mengorbankan investasi, tanpa pulang dalam keadaan bokek, dan tanpa berutang kiri-kanan, maka menjadi budget traveler adalah pilihan yang paling masuk akal.

Lagipula, yang paling saya cari dari sebuah perjalanan bukanlah hotel mewah, restoran mahal, atau kursi bisnis.

Yang saya cari adalah cerita, pengalaman, dan kesempatan melihat dunia sedikit lebih luas dari sebelumnya.

Dan menariknya, cerita yang paling sering kami kenang justru bukan saat menginap di hotel yang nyaman.

Melainkan saat tidur di Bandara Incheon, menunggu pagi di KL Sentral, salah booking penginapan, atau karena harus beradaptasi dengan keadaan.

Anak-anak mungkin suatu hari akan lupa nama hotel yang pernah kami tempati.

Tetapi saya yakin mereka akan selalu ingat bahwa kami pernah tidur di Bandara Incheon demi bisa bermain sepuasnya di theme park.

Dan buat saya, itulah esensi traveling yang sesungguhnya.

Bukan tentang seberapa mahal perjalanan itu.

Melainkan tentang seberapa banyak cerita yang berhasil kami bawa pulang.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.