Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dikenal luas di dapur-dapur Indonesia sebagai bahan pengasam alami, pengganti asam jawa atau tomat dalam berbagai masakan. Namun di balik popularitasnya, buah ini juga tercatat sebagai salah satu buah paling asam di dunia, dengan kandungan asam oksalat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerabat dekatnya, belimbing manis (Averrhoa carambola). Klaim keasaman ini didukung oleh pengukuran laboratorium. Tingkat keasaman buah biasanya diukur lewat dua parameter, yaitu pH (skala yang menunjukkan konsentrasi ion hidrogen, semakin rendah nilainya semakin asam) dan titratable acidity atau keasaman tertitrasi (jumlah asam total yang dapat dinetralkan lewat proses titrasi dengan basa). Sebuah penelitian mencatat pH jus belimbing wuluh berada di angka 2,2, dengan titratable acidity sebesar 0,66 persen. Sebagai perbandingan, penelitian lain terhadap buah sejenis dari Brasil mencatat bahwa pH daging buahnya lebih rendah dibandingkan buah-buah yang lazim dianggap sangat asam oleh masyarakat umum, seperti lemon, acerola, dan markisa. Selain pH, kandungan asam oksalat pada belimbing wuluh juga tercatat mencapai 10 hingga 14 miligram per gram pada buah muda, dan 8 hingga 10 miligram per gram pada buah matang, jauh lebih tinggi dibandingkan belimbing manis. Buah belimbing wuluh bergelantungan lebat langsung dari cabang pohonnya, salah satu ciri khas tanaman ini yang mampu menghasilkan puluhan kilogram buah per tahun. Meski melimpah, buah ini nyaris tidak pernah dimakan langsung karena rasa asamnya yang sangat tajam. Foto: Fpalli/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0) Buah ini berbentuk lonjong, panjang sekitar 4 sampai 10 sentimeter, dengan kulit tipis berlilin yang berubah dari hijau muda menjadi kuning kehijauan saat matang. Dagingnya…This article was originally published on Mongabay
Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi
Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi





Comments are closed.