Mubadalah.id – Awalnya saya mengira mata kuliah Pendidikan Inklusif hanya akan berkutik tentang teori, kurikulum dan regulasi tentang pendidikan bagi murid disabilitas. Ternyata saya keliru, salah satunya terdapat sesi praktik bahasa isyarat. Pengalaman kelas ini kemudian mengubah cara padang saya tentang makna inklusivitas.
Selama ini saya memahami pendidikan inklusif sebagai upaya memberikan kesempatan belajar yang sama bagi semua peserta didik. Namun, pemahaman itu masih sebatas teori. Ketika dosen mengubah perkuliahan menjadi praktik bahasa isyarat, ternyata langkah nyata menyadari inklusivitas juga dimulai dari kesediaan kita mempelajari cara disabilitas tuli berkomunikasi.
Pengalaman belajar bahasa isyarat ini mengingatkan saya kembali kepada teman Tuli semasa kuliah. Setiap kali berkomunikasi kami mengandalkan tulisan melalui ponsel atau secarik kertas. Cara itu memang membantu, tetapi tidak selalu efektif.
Misalkan mau menyampaikan informasi yang cukup panjang, bisa beresiko salah tangkap dalam memahami informasi atau miskomunikasi. Pernah terpikir untuk belajar bahasa isyarat, tetapi urung karena menganggapnya sulit. Hanya bisa beberapa huruf alfabet yang saya ketahui.
Jenis Bahasa Isyarat di Indonesia
Awal sebelum praktik, dosen memberikan pengantar bahwa di Indonesia terdapat dua bentuk bahasa isyarat yang dikenal masyarakat, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). SIBI dikembangkan sebagai sistem yang mengikuti struktur bahasa Indonesia dan bersifat formal. Sementara itu, BISINDO merupakan bahasa yang tumbuh dari komunitas Tuli dan lebih banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
“Mudahnya SIBI itu seperti KBBI, sedangkan BISINDO bahasa tidak bakunya untuk komunikasi sehari-hari, ” Ujar dosen pengajar Pendidikan Inklusif.
Jika kita perhatikan detail gerakannya lebih mudah BISINDO, maka kelas kami memilih belajar bahasa isyarat BISINDO.
Praktik bahasa isyarat mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu mengenal Alfabet dari A hingga Z menggunakan bahasa isyarat. Dosen menampilkan layar gambar pada proyektor sambil memandu huruf demi huruf. Kemudian kami mendapatkan tantangan untuk menyusun nama masing – masing menggunakan bahasa isyarat. Saya yang baru pertama kali, tantangan sederhana tersebut cukup menguji konsentrasi karena setiap gerakan jari tangan memiliki bentuk dan makna yang berbeda.
Antusias Belajar Bahasa Isyarat
Mahasiswa saling mengkoreksi gerakan teman, tertawa ketika melakukan kesalahan, lalu mencoba lagi hingga benar. Saya tidak menyangka antusiasme teman-teman cukup besar. Rasa canggung, bingung yang awalnya muncul berganti menjadi rasa ingin tahu.
Pada hari berikutnya, perkuliahan berganti Google Meet online. Kosa kata bahasa isyarat bertambah seperti cara memperkenalkan diri, terima kasih, sama-sama, belajar, nama-nama hari dan nama-nama bulan. Meskipun perkuliahan dilakukan secara online tidak mengurangi keaktifan teman-teman dalam mengikuti kelas. Hampir semua mahasiswa on cam dan antusias mengikuti.
Kami kemudian berpasangan untuk saling berkenalan menggunakan bahasa isyarat. Mulai dari nama dan asal daerah. Contohnya begini “Perkenalkan nama saya Nanik, asal dari Demak”. Selanjutnya menyusun kalimat dan tebak-tebakan nama-nama, hari dan kata kerja.
Perjalanan belajar bahasa isyarat masih panjang, ini baru dasar masih banyak kosa kata lainnya. Modal bahasa isyarat alfabet dan beberapa kata dasar, setidaknya memberikan gambaran awal, supaya ketika bertemu dengan teman tuli atau memiliki murid disabilitas tuli bisa saling menyapa dan tidak bingung.
Refleksi Setelah Mengikuti Kelas Bahasa Isyarat
Dari pengalaman itu saya mendapatkan pengetahuan baru, bahwa bahasa isyarat bukan sekedar mainan tangan. Ekspresi wajah, arah pandangan, hingga gerakan tubuh turut menjadi bagian dari komunikasi. Bahasa isyarat merupakan bahasa yang utuh, bukan sekadar alat bantu.
Banyak dari kita menganggap hambatan komunikasi sering kali berasal dari teman Tuli. Padahal, bisa jadi hambatan itu muncul karena sebagian besar dari kita belum berusaha mempelajari bahasa yang mereka gunakan. Sadar atau tidak kita sering menuntut mereka menyesuaikan diri dengan dunia mayoritas, sementara kita sendiri enggan mengambil langkah untuk memahami mereka.
Sebagai calon guru, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa menciptakan kelas yang inklusif tidak cukup hanya dengan memahami teori atau kebijakan. Penting untuk memilik kemauan terus belajar, mengikuti pertumbuhan dan beradaptasi.
Hal ini bertujuan agar setiap peserta didik merasa layak dan dianggap ada. Saya menyadari belum fasih menggunakan bahasa isyarat, tapi kelas ini mengajarkan satu hal penting kepada saya bahwa pendidikan inklusif berawal dari kesediaan membuka diri untuk belajar memahami bahasa dan pengalaman orang lain. []





Comments are closed.