Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung. Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada berkumpul. Mereka bergerak cepat ke atas gunung untuk mengecek sumber api. Dia bilang, sebagian warga berangkat pagi, lainnya selepas salat Jumat. “Ada yang jalan jam 7.00, jam 9.00 pagi. Kalau saya, mah, jalan abis jumatan,” katanya, kepada Mongabay. Kampung Ading merupakan pemukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Hanya butuh dua jam jalan kaki untuk mencapai Kawah Wadon. Rombongan Acep berjumlah 15 orang itu sampai menjelang sore. Di sana, dia melihat warga lain sudah berjibaku memadamkan api di sekitar kawah. “Warga padamkan pakai alat seadanya. Ada yang bawa pacul, cangkul, ada yang pakai air.” Sumber air yang jauh membuat warga kesulitan menjangkau air saat memadamkan api. Mereka mesti berjalan kaki hingga satu jam ke Kandang Badak untuk mengambil air. Dia mengatakan, warga hanya bisa mengangkut air dengan wadah botol mineral lima liter bekas. Mereka bergantian memikul air dari Kandang Badak hingga ke titik api. Perlu waktu berjam-jam hingga api padam. Namun, api kembali berkobar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, sebagian warga bermalam di sekitar lokasi sambil terus berusaha padamkan api. “Nyala lebih besar. Makanya pas malam itu (warga) enggak ada yang tidur. Ada juga yang mungkin enggak kuat, alhamdulillah dikasih oksigen,” ujarnya. Warga Kampung Gunung Putri juga…This article was originally published on Mongabay
Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango





Comments are closed.