Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango
Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
service

Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung. Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada berkumpul. Mereka bergerak cepat ke atas gunung untuk mengecek sumber api. Dia bilang, sebagian warga berangkat pagi, lainnya selepas salat Jumat. “Ada yang jalan jam 7.00, jam 9.00 pagi. Kalau saya, mah, jalan abis jumatan,” katanya, kepada Mongabay. Kampung Ading merupakan pemukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Hanya butuh dua jam jalan kaki untuk mencapai Kawah Wadon. Rombongan Acep berjumlah 15 orang itu sampai menjelang sore. Di sana, dia melihat warga lain sudah berjibaku memadamkan api di sekitar kawah. “Warga padamkan pakai alat seadanya. Ada yang bawa pacul, cangkul, ada yang pakai air.” Sumber air yang jauh membuat warga kesulitan menjangkau air saat memadamkan api. Mereka mesti berjalan kaki hingga satu jam ke Kandang Badak untuk mengambil air. Dia mengatakan, warga hanya bisa mengangkut air dengan wadah botol mineral lima liter bekas. Mereka bergantian memikul air dari Kandang Badak hingga ke titik api. Perlu waktu berjam-jam hingga api padam. Namun, api kembali berkobar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, sebagian warga bermalam di sekitar lokasi sambil terus berusaha padamkan api. “Nyala lebih besar. Makanya pas malam itu (warga) enggak ada yang tidur. Ada juga yang mungkin enggak kuat, alhamdulillah dikasih oksigen,” ujarnya. Warga Kampung Gunung Putri juga…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.