Macan tutul memiliki bintik, harimau tampil dengan garis-garis, sedangkan singa terlihat polos. Pola serupa juga ditemukan pada kucing domestik dan berbagai kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk, macan dahan, dan kucing emas. Namun, bagaimana pola tersebut terbentuk? Para ilmuwan belum menemukan jawaban lengkapnya. Meski begitu, penelitian telah mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi bentuk dan ukuran pola pada bulu kucing, yaitu Taqpep dan Dkk4. Gen Taqpep berperan besar dalam pembentukan garis dan bercak. Kucing domestik yang memiliki satu atau dua salinan normal gen ini cenderung mempunyai bulu bergaris. Namun, jika kedua salinannya mengalami mutasi—satu diwarisi dari induk betina dan satu dari induk jantan, pola bulunya dapat berubah menjadi bercak atau pusaran. Pengaruh mutasi tersebut juga terlihat pada “king citah”. Citah umumnya mempunyai bintik-bintik hitam dengan latar bulu kuning kecokelatan. Namun, king citah yang mengalami mutasi pada kedua salinan gen Taqpep memiliki bercak lebih besar serta pola menyerupai garis di sepanjang tulang belakangnya. Meski demikian, Taqpep bukan satu-satunya penentu pola. Egyptian mau, ras kucing domestik berbintik, ternyata memiliki gen Taqpep normal. Dalam sebuah penelitian, Egyptian mau dikawinkan dengan kucing bercak. Beberapa keturunannya justru memiliki garis-garis. Temuan itu menunjukkan kemungkinan adanya satu atau lebih gen lain yang mengubah pola garis menjadi bintik. Namun, gen tambahan tersebut belum berhasil dikenali. Gen kedua yang diketahui berperan adalah Dkk4. Pengaruhnya dapat diamati pada kucing Abyssinian. Sekilas, bulu ras ini tampak berwarna cokelat atau kayu manis. Jika diperhatikan lebih dekat, permukaannya dipenuhi bintik-bintik hitam berukuran kecil. Abyssinian memiliki satu atau dua salinan gen Dkk4 yang mengalami…This article was originally published on Mongabay
Mengapa ‘Motif’ Kucing Ada yang Bergaris dan Berbintik?
Mengapa ‘Motif’ Kucing Ada yang Bergaris dan Berbintik?





Comments are closed.