“Dari Jakarta menuju Batang Toru, Satya Bumi mengayuh bukan sekadar menempuh ribuan kilometer, tetapi menagih komitmen negara untuk memulihkan bentang alam rusak dan memastikan hutan Indonesia tetap menjadi rumah bagi manusia, tumbuhan, maupun satwa liar” Pada penghujung 2025, banjir bandang dan longsor melanda bentang alam Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Batang Toru menjadi salah satu episentrum bencana itu. Bencana merusak sekitar 8.303 hektar hutan di bagian blok barat Lanskap Batang Toru. Para peneliti memperkirakan setidaknya 58 orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di blok barat ikut menjadi korban bencana itu, sekitar 7% dari populasinya. Bencana ini memang terpicu hujan dengan intensitas tinggi. Namun ini juga dampak bentang alam yang secara alami rentan dan makin parah dengan kooptasi industri ekstraktif. Daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru kehilangan 28.900 hektar tutupan hutan menjadi non-hutan, kini memiliki lahan kritis 35.000 hektar. Ketika bentang alam seperti ini terus mengalami tekanan akibat perubahan tutupan hutan, kemampuan alam meredam bencana ikut melemah. Peristiwa itu mengingatkan kita pada peringatan Robert Nasi dari Center for International Forestry Research: “There is a lot of risk of a domino effect. If we don’t protect forests, people will migrate, there will be climate refugees.” Kerusakan hutan memicu efek domino yang tidak hanya menghilangkan pepohonan. Siklus air terganggu, tanah kehilangan daya serap, habitat satwa liar terfragmentasi, produktivitas pertanian menurun, bencana makin sering terjadi. Hingga akhirnya masyarakat kehilangan ruang hidup. Ketika itu terjadi, manusia cenderung bermigrasi ke tempat yang lebih aman. Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81, muncul pertanyaan:…This article was originally published on Mongabay
Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?
Opini: Apakah Hutan Indonesia Sudah Merdeka?





Comments are closed.