Pada 17 Agustus lalu, memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Meski peringatan kemerdekaan Indonesia berlangsung setiap tahun, di berbagai penjuru negeri, masih banyak warga merasa belum mendapatkan rasa aman, berada dalam waswas dan khawatir tersingkir dari ruang hidup sampai hidup dalam lingkungan tak tercemar hingga berisiko bagi kesehatan mereka. Apakah itu sudah merdeka? “Kalau menurut saya sih belum merdeka. Mungkin untuk mereka (pemerintah), merdeka. Untuk kami, masyarakat adat belum merdeka. Kami tidak leluasa dengan apa yang ada sekarang ini,” kata Jakiyah, perempuan adat Balik di Kalimantan Timur, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), kepada Mongabay. Dia bilang, dampak pembangunan infrastuktur IKN, salah satu proyek Intake Sepaku, juga jadi konsekuensi yang masyarakat tanggung di Kampung Sepaku Lama. Bencana pun mulai melanda, terutama ketika musim hujan, mereka kebanjiran. Saat kemarau panjang, masyarakat hadapi krisis air. “Meskipun ndak musim kemarau, ya sulit juga untuk masyarakat adat karena kan tidak bisa ambil air ke sungai karena turapnya tinggi. Kan susah juga memasang sanyo (pompa air) ke sungai. Kalau dulu kan enak saja.” Saat hutan makin tergerus, masyarakat Suku Balik mengandalkan hasil padi di sawah maupun tanaman di kebunnya. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia Merdeka tak sekadar… Cerita dari Lililef Sawai, Halmahera Tengah (Maluku Utara), Pasahari, Seram Utara, dan Marafenfen serta Popjetur di Kepulauan Aru, Maluku, juga memperlihatkan tak jauh beda. Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan berarti tetap memiliki kendali atas tanah, laut, hutan, kebun, padang savana dan sumber pangan warisan leluhur. Di Desa Lelilef Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, perubahan besar datang…This article was originally published on Mongabay
Asa Kemerdekaan bagi Masyarakat Terdampak
Asa Kemerdekaan bagi Masyarakat Terdampak





Comments are closed.