Dulu aroma cengkih semerbak menguar dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh. Apalagi, ketika musim panen tiba, para petani menjemur cengkih di teras depan rumah. Angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Sebelum Sabang berkembang sebagai destinasi wisata, ia terkenal sebagai salah satu sentra penghasil cengkih unggulan di Aceh, selain Kabupaten Aceh Besar, Simeulue, dan Aceh Barat Daya. Pada masa itu, banyak orang menyeberang ke Sabang untuk ikut memanen kuncup bunga cengkih ini. Di Kota Sabang, tanaman cengkih (Syzygium aromaticum) dari keluarga Myrtaceae tumbuh dan tersebar hampir di seluruh daratan Pulau Weh, mulai dari Balohan, Jaboi, Anoi Itam, dan di desa-desa lain di Kecamatan Sukamakmue, Sukajaya, dan Sukakarya. Kini, Kota Sabang mulai kehilangan aroma cengkihnya terganti dengan pekatnya aroma laut. Tahun ini, banyak pohon cengkih tak berbunga, banyak yang mati. Seluruh daun berguguran dan menyisakan batang yang kering. Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, bilang, dari kebun yang dia jaga seluas empat hektar dengan 520 pohon hanya 40 yang berbunga dan bisa panen tahun ini. “Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya, Senin (20/7/26). Setidaknya, selama 10 tahun terakhir, Sayuti merasakan panen cengkih tak lagi tiap tahun seperti sebelumnya. “Kalau tahun ini semua pohon berbunga, biasanya tahun berikutnya sering kali banyak yang tidak berbunga,” katanya. Tak hanya itu, pohon cengkih juga lebih sensitif dan perlu perawatan ekstra seperti pupuk agar tak mudah mati dan punya hasil panen yang berkualitas. “Dulu, itu tidak perlu pupuk,…This article was originally published on Mongabay
Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah
Cerita Petani Cengkih Aceh di Tengah Iklim yang Berubah





Comments are closed.