Sat,22 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan

Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan

ular-banjang-tupai,-ular-bermata-kucing-dari-hutan-malang-selatan
Ular Banjang Tupai, Ular Bermata Kucing dari Hutan Malang Selatan
service
  • Banjang tupai merupakan jenis ular yang memiliki mata seperti mata kucing.
  • Warna tubuh banjang tupai cenderung menyatu dengan lingkungan. Di beberapa bagian, terdapat kombinasi warna putih dan hitam yang terlihat khas. Bentuk dan iris matanya khas, seperti mata kucing.
  • Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global.
  • Status konservasi juga perlu dilihat berdasarkan kapan penilaian dilakukan dan pada skala apa. IUCN melakukan penilaian secara global terhadap suatu spesies. Salah satu kriteria yang digunakan adalah luas sebaran alaminya.

Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur.

Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian mereka tertuju pada seekor ular.

“Pepohonan cukup tinggi, sementara tumbuhan bagian bawah relatif rapat,” ujar Fariq, yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Senin (10/8/26).

Ular banjang tupai yang jago kamuflase. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq.

Kondisi tersebut membuat warna tubuh banjang tupai menyatu dengan lingkungan. Kemampuan menyarunya tidak mudah diketahui bila tidak dilihat teliti.

Fariq dan rekannya coba mendokumentasikan jenis itu. Menariknya, Boiga drapiezii tidak menunjukkan perilaku agresif.

Saat didekati, posisinya yang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, cenderung menjauh. Tak terlihat upaya menyerang ataupun melakukan gerakan agresif untuk mempertahankan diri.

“Relatif santai. Saya melihatnya seperti jenis ular yang tenang, namun tetap waspada”

Karakter itu membuat proses pengamatan berlangsung relatif mudah. Baginya, respons banjang tupai berbeda dengan sejumlah ular lain yang pernah ditemui dan didokumentasikan. Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global.

Banjang tupai yang menyukai hutan vegetasi rapat. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq.

Mata mirip kucing

Saat pengamatan, langit mendung. Tak lama setelah dokumentasi dilakukan, hujan turun.

Fariq memperkirakan, pengamatan hanya berlangsung lima hingga sepuluh menit. Setelah mendapatkan foto yang diperlukan, mereka membiarkan ular tersebut kembali ke habitatnya.

Keputusan itu membuat sejumlah data tak sempat dikumpulkan. Seperti, mengukur panjang tubuh, memastikan jenis kelamin, juga mengambil foto beberapa sisi tubuh untuk membantu proses identifikasi, serta memotret habitat.

Kali ini, kondisi lapangan tidak memungkinkan.

Tetapi, baginya, dokumentasi yang diperoleh tetap menarik. Terlebih, ular yang kepalanya berukuran lebih besar dari lehernya itu, merupakan lifer atau spesies yang baru pertama kali dijumpai langsung.

Banjang tupai merupakan jenis ular yang belum banyak diteliti. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq.

Dari pengalaman memotret puluhan kelompok reptil berdarah dingin ini, satu hal yang paling membuatnya terkesan adalah mata banjang tupai.

Menurutnya, bentuk dan iris mata ular tersebut terlihat khas. Karakter itu, bahkan membuatnya teringat pada mata kucing.

“Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan,” jelas Fariq, yang merupakan Research Assistant di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Selain mata, warna tubuh jadi karakter lain yang menarik perhatian.

Warna tubuh banjang tupai cenderung menyatu dengan lingkungan. Di beberapa bagian, terdapat kombinasi warna putih dan hitam yang terlihat khas.

Tetapi, saat berada di habitat alami, pola warna tersebut justru membuat keberadaannya sulit ditemukan.

Banjang tupai sejauh ini merupakan jenis yang yang tidak agresif. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq.

Sebaran alami ular

Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB), mejelaskan bahwa status Least Concern ular banjang tupai didasarkan pada luasnya sebaran alami spesies tersebut secara global.

Disamping itu, spesies ini dinilai belum menunjukkan ancaman atau tingkat pemanfaatan yang membuatnya masuk kategori terancam.

Tetapi, status itu tak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi populasinya di alam telah diketahui dengan baik. Menurut Ganjar, data yang terbatas dikarenakan penelitian populasinya di Indonesia relatif jarang dilakukan.

“Kondisi populasi kurang diketahui,” jelas Ganjar, Jum’at (14/8/26).

Warna tubuh banjang tupai cenderung menyatu dengan lingkungan. Foto: Dok. Fariq Izzudien Ash Shidiq.

Dia menjelaskan, status konservasi juga perlu dilihat berdasarkan kapan penilaian dilakukan dan pada skala apa. IUCN melakukan penilaian secara global terhadap suatu spesies. Salah satu kriteria yang digunakan adalah luas sebaran alaminya.

Meski begitu, bukan berarti setiap populasi banjang tupai di tingkat lokal diketahui kondisinya. Masih terdapat kemungkinan wilayah persebarannya belum terdokumentasi, karena penelitian belum dilakukan menyeluruh. Temuan di Malang Selatan, tetap punya arti penting bagi ilmu pengetahuan.

Setiap catatan keberadaan spesies bisa membantu memperjelas persebaran alaminya, terutama disertai bukti seperti spesimen, foto, atau video.

“Tentunya ada wilayah yang belum terdokumentasi, karena penelitian-penelitian yang dilakukan belum menyeluruh di semua wilayah,” paparnya.

*****

Ular Kukri, Jenis Unik dan Endemik Sulawesi

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.