Dunia serangga menyimpan banyak kejutan, mulai dari kemampuan terbang jarak jauh, kekuatan mengangkat beban berkali-kali lipat dari tubuhnya sendiri, hingga sistem pertahanan kimiawi yang jauh melampaui ukuran tubuhnya yang kecil. Di antara ragam pertahanan tersebut, sengatan tetap jadi salah satu senjata paling efektif, dan tidak ada yang mengalahkan reputasi satu spesies semut asal hutan hujan Amazon ini. Semut peluru atau Paraponera clavata menempati posisi tertinggi dalam Schmidt Sting Pain Index, skala yang disusun entomolog Amerika Serikat Justin O. Schmidt sejak 1984 untuk membandingkan rasa sakit sengatan lebah, tawon, dan semut, dengan nilai maksimal 4 yang hanya diraih segelintir spesies. Panjang tubuhnya bisa mencapai 18 hingga 30 milimeter dengan warna cokelat kemerahan hingga kehitaman yang membuatnya lebih mirip tawon tak bersayap ketimbang semut pada umumnya. Semut peluru tersebar di hutan hujan dataran rendah mulai dari Honduras dan Nikaragua di Amerika Tengah sampai Bolivia dan Brasil di Amerika Selatan, dengan beberapa koloni bahkan ditemukan di ketinggian 1.500 meter. Racun yang Dirancang untuk Menyakitkan Rasa sakit dari sengatan semut peluru datang dari poneratoksin, peptida neurotoksik yang jadi komponen utama racunnya sejak pertama kali diisolasi para peneliti pada awal 1990-an. Racun ini menempel pada kanal ion natrium di sel saraf, gerbang yang biasanya membuka dan menutup untuk mengalirkan sinyal listrik antar neuron. Poneratoksin membuat kanal itu tetap terbuka lebih lama dari seharusnya, sehingga sinyal rasa sakit terus dikirim ke otak tanpa jeda. Belakangan, penelitian lanjutan bahkan menemukan bahwa yang selama ini disebut poneratoksin ternyata terdiri dari beberapa varian peptida yang strukturnya berbeda satu sama…This article was originally published on Mongabay
Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga
Semut Peluru, Semut dengan Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia Serangga





Comments are closed.