Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di generasinya. Bantat mulai menjadi petani garam pada 1979. Saat itu, ratusan warga di sepanjang pesisir Kusamba hingga Pesinggahan menggantungkan hidup dari produksi garam tradisional. Kini, jumlah petani garam terus menyusut. Anaknya pun memilih tidak meneruskan pekerjaan tersebut karena penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi alam. “Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya tidak tentu),” kata Bantat, pada Juni lalu. Kondisi serupa dialami Nengah Diana, petani garam generasi terakhir di keluarganya. Menurutnya, tidak ada lagi anggota keluarga yang bersedia melanjutkan usaha penggaraman. Padahal, garam Kusamba dikenal memiliki metode pembuatan tradisional yang khas menggunakan palung, cekungan dari batang pohon yang menjadi warisan budaya masyarakat pesisir Bali. Produksi garam di Kusamba terus mengalami penurunan. Pada 1970-an terdapat sekitar 180 petani garam. Saat penelitian pada 2022 jumlahnya tinggal 19 orang, dan ketika Mongabay berkunjung pada 2026, tersisa sekitar 14 petani. Produksi garam juga merosot drastis. Jika dibandingkan dengan 2014, produksinya turun hampir 100% pada 2024. Padahal, Klungkung pernah menjadi kabupaten penghasil garam terbesar di Bali. Di balik penurunan produksi, abrasi menjadi ancaman terbesar bagi petani garam. Bantat mengaku belum pernah mengalami…This article was originally published on Mongabay
Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir
Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir





Comments are closed.