Sat,22 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir

Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir

warisan-garam-kusamba-terancam-di-tengah-abrasi-pesisir
Warisan Garam Kusamba Terancam di Tengah Abrasi Pesisir
service

Lembaran geomembran hitam terbentang di pesisir Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali. Di bawah terik matahari, Nengah Bantat dan istrinya, Ketut Keprug, sibuk menutup lembaran itu setelah seharian memproduksi garam. Meski usianya sudah 71 tahun, Bantat masih setia mempertahankan pekerjaan yang diwariskan keluarganya selama puluhan tahun. Namun, dia sadar kemungkinan besar tradisi itu akan berhenti di generasinya. Bantat mulai menjadi petani garam pada 1979. Saat itu, ratusan warga di sepanjang pesisir Kusamba hingga Pesinggahan menggantungkan hidup dari produksi garam tradisional. Kini, jumlah petani garam terus menyusut. Anaknya pun memilih tidak meneruskan pekerjaan tersebut karena penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada kondisi alam. “Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya tidak tentu),” kata Bantat, pada Juni lalu. Kondisi serupa dialami Nengah Diana, petani garam generasi terakhir di keluarganya. Menurutnya, tidak ada lagi anggota keluarga yang bersedia melanjutkan usaha penggaraman. Padahal, garam Kusamba dikenal memiliki metode pembuatan tradisional yang khas menggunakan palung, cekungan dari batang pohon yang menjadi warisan budaya masyarakat pesisir Bali. Produksi garam di Kusamba terus mengalami penurunan. Pada 1970-an terdapat sekitar 180 petani garam. Saat penelitian pada 2022 jumlahnya tinggal 19 orang, dan ketika Mongabay berkunjung pada 2026, tersisa sekitar 14 petani. Produksi garam juga merosot drastis. Jika dibandingkan dengan 2014, produksinya turun hampir 100% pada 2024. Padahal, Klungkung pernah menjadi kabupaten penghasil garam terbesar di Bali. Di balik penurunan produksi, abrasi menjadi ancaman terbesar bagi petani garam. Bantat mengaku belum pernah mengalami…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.