- Banjang tupai merupakan jenis ular yang memiliki mata seperti mata kucing.
- Warna tubuh banjang tupai cenderung menyatu dengan lingkungan. Di beberapa bagian, terdapat kombinasi warna putih dan hitam yang terlihat khas. Bentuk dan iris matanya khas, seperti mata kucing.
- Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global.
- Status konservasi juga perlu dilihat berdasarkan kapan penilaian dilakukan dan pada skala apa. IUCN melakukan penilaian secara global terhadap suatu spesies. Salah satu kriteria yang digunakan adalah luas sebaran alaminya.
Apa yang membuat mata banjang tupai menyerupai mata kucing? Pertanyaan itu terjawab tatkala Fariq Izzudien Ash Shidiq (29), pertama kali mendokumentasikan Boiga drapiezii di hutan Malang Selatan, Jawa Timur.
Pertemuan dengan ular tersebut, berawal dia dan rekannya membantu sebuah kegiatan. Setelah pekerjaan selesai, mereka menyusuri kawasan hutan dengan vegetasi rapat. Sekitar berjalan 50 meter, perhatian mereka tertuju pada seekor ular.
“Pepohonan cukup tinggi, sementara tumbuhan bagian bawah relatif rapat,” ujar Fariq, yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Senin (10/8/26).

Kondisi tersebut membuat warna tubuh banjang tupai menyatu dengan lingkungan. Kemampuan menyarunya tidak mudah diketahui bila tidak dilihat teliti.
Fariq dan rekannya coba mendokumentasikan jenis itu. Menariknya, Boiga drapiezii tidak menunjukkan perilaku agresif.
Saat didekati, posisinya yang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, cenderung menjauh. Tak terlihat upaya menyerang ataupun melakukan gerakan agresif untuk mempertahankan diri.
“Relatif santai. Saya melihatnya seperti jenis ular yang tenang, namun tetap waspada”
Karakter itu membuat proses pengamatan berlangsung relatif mudah. Baginya, respons banjang tupai berbeda dengan sejumlah ular lain yang pernah ditemui dan didokumentasikan. Berdasarkan IUCN, Boiga drapiezi berstatus Least Concern atau Risiko Rendah secara global.

Mata mirip kucing
Saat pengamatan, langit mendung. Tak lama setelah dokumentasi dilakukan, hujan turun.
Fariq memperkirakan, pengamatan hanya berlangsung lima hingga sepuluh menit. Setelah mendapatkan foto yang diperlukan, mereka membiarkan ular tersebut kembali ke habitatnya.
Keputusan itu membuat sejumlah data tak sempat dikumpulkan. Seperti, mengukur panjang tubuh, memastikan jenis kelamin, juga mengambil foto beberapa sisi tubuh untuk membantu proses identifikasi, serta memotret habitat.
Kali ini, kondisi lapangan tidak memungkinkan.
Tetapi, baginya, dokumentasi yang diperoleh tetap menarik. Terlebih, ular yang kepalanya berukuran lebih besar dari lehernya itu, merupakan lifer atau spesies yang baru pertama kali dijumpai langsung.

Dari pengalaman memotret puluhan kelompok reptil berdarah dingin ini, satu hal yang paling membuatnya terkesan adalah mata banjang tupai.
Menurutnya, bentuk dan iris mata ular tersebut terlihat khas. Karakter itu, bahkan membuatnya teringat pada mata kucing.
“Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan,” jelas Fariq, yang merupakan Research Assistant di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain mata, warna tubuh jadi karakter lain yang menarik perhatian.
Warna tubuh banjang tupai cenderung menyatu dengan lingkungan. Di beberapa bagian, terdapat kombinasi warna putih dan hitam yang terlihat khas.
Tetapi, saat berada di habitat alami, pola warna tersebut justru membuat keberadaannya sulit ditemukan.

Sebaran alami ular
Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB), mejelaskan bahwa status Least Concern ular banjang tupai didasarkan pada luasnya sebaran alami spesies tersebut secara global.
Disamping itu, spesies ini dinilai belum menunjukkan ancaman atau tingkat pemanfaatan yang membuatnya masuk kategori terancam.
Tetapi, status itu tak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi populasinya di alam telah diketahui dengan baik. Menurut Ganjar, data yang terbatas dikarenakan penelitian populasinya di Indonesia relatif jarang dilakukan.
“Kondisi populasi kurang diketahui,” jelas Ganjar, Jum’at (14/8/26).

Dia menjelaskan, status konservasi juga perlu dilihat berdasarkan kapan penilaian dilakukan dan pada skala apa. IUCN melakukan penilaian secara global terhadap suatu spesies. Salah satu kriteria yang digunakan adalah luas sebaran alaminya.
Meski begitu, bukan berarti setiap populasi banjang tupai di tingkat lokal diketahui kondisinya. Masih terdapat kemungkinan wilayah persebarannya belum terdokumentasi, karena penelitian belum dilakukan menyeluruh. Temuan di Malang Selatan, tetap punya arti penting bagi ilmu pengetahuan.
Setiap catatan keberadaan spesies bisa membantu memperjelas persebaran alaminya, terutama disertai bukti seperti spesimen, foto, atau video.
“Tentunya ada wilayah yang belum terdokumentasi, karena penelitian-penelitian yang dilakukan belum menyeluruh di semua wilayah,” paparnya.
*****





Comments are closed.