Puluhan tahun Asharuddin jadi petambak di Delta Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dia menyaksikan perlahan hutan mangrove bersalin menjadi petak-petak tambak. Selama bertahun-tahun, Asharuddin menganggap mangrove sebagai penghalang. Akar-akar yang rapat itu dia nilai menghambat perluasan tambak, sumber ekonomi keluarga di Delta Mahakam. Sekitar lima tahun lalu, keyakinannya mulai memudar. Saat masih sebagai pengepul kepiting, dia rutin mendatangi tambak kerabatnya, Rustam di Sepatin, Delta Mahakam. Tambak itu seluas sekitar 40 hektar. Rustam memilih mempertahankan mangrove alami di dalam tambak. Awalnya Asharduddin heran mengapa tambak itu bisa panen jauh lebih baik dari tambak lain. Belakangan dia tahu karena pemilik tambak tetap mempertahankan mangrove. “Waktu itu saya lihat kok banyak pohonnya (mangrove). Saya pikir kenapa bisa tetap bagus hasilnya. Ternyata, mangrove juga menghisap racun-racun yang terpendam di lumpur. Itu sebenarnya salah satu kuncinya,” katanya. Dari informasi Asharuddin, sistem budidaya di tambak itu menggunakan pola tebar benih bertahap bersama mangrove atau yang dikenal dalam sistem silvofishery (tambak tumpang sari). Metode budidaya perikanan, seperti bandeng atau udang selang seling dengan penanaman mangrove secara periodik agar fungsi ekologis dan produktivitas tambak tetap seimbang. “Panen bisa setiap dua bulan sekali. Biasanya lebih dari satu ton, terkadang hampir dua ton. Kalau dijual bisa ratusan juta rupiah.” Bibit mangrove yang baru ditanam di salah satu lokasi rehabilitasi Delta Mahakam. Penanaman kembali ini merupakan bagian dari upaya pemulihan fungsi ekosistem dan penyerap karbon pesisir yang terdegradasi. Foto: Yuda Almerio/Mongabay Indonesia Giat rawat mangrove Setelah melihat perubahan itu, keyakinannya berbalik. Kini, dia menjadi salah satu orang yang paling giat merawat…This article was originally published on Mongabay
Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam
Upaya Para Petambak Pulihkan Mangrove Delta Mahakam





Comments are closed.