Tingkat food loss and waste (FLW) pada komoditas hortikultura di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan data FLW Indonesia periode 2000–2019 pada kategori pangan, losses pada buah-buahan mencapai 45,5 persen, sedangkan sayuran mencapai 62,8 persen dari total suplai domestik
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas padi-padian yang berada di angka 13,4 persen. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian Ketty Suketi, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University.
Dalam orasi ilmiahnya, 22 Agustus, 2026, Ketty mengangkat konsep “Manajemen Pascapanen Presisi untuk Menekan Losses dan Meningkatkan Mutu Hortikultura Tropika”. Konsep ini menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi kehilangan hasil sekaligus mempertahankan kualitas produk hortikultura.
“Keunggulan manajemen pascapanen presisi dibandingkan metode pascapanen konvensional terletak pada ketepatan intervensi. Teknologi tidak diterapkan secara seragam untuk semua komoditas, tetapi disesuaikan dengan karakter fisiologi, tingkat kematangan, waktu dan dosis aplikasi, serta kondisi lingkungan,” ujar Ketty.
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki suhu dan kelembapan relatif tinggi yang dapat mempercepat penurunan mutu serta meningkatkan risiko serangan penyakit pascapanen. Di sisi lain, setiap komoditas hortikultura memiliki karakter fisiologis, tingkat kematangan, dan umur simpan yang berbeda. Karena itulah, Ketty menegaskan, perlunya penanganan yang spesifik.
Ia menjelaskan, sejumlah teknologi pascapanen berbasis biologi telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Aplikasi khamir Aureobasidium pullulans dan Candida tropicalis, misalnya, mampu meningkatkan daya simpan buah pepaya Calina hingga 13 hari pada suhu ruang atau enam hari lebih lama dibandingkan kontrol.
Pada buah mangga yang disimpan pada suhu 15 derajat celsius, penggunaan kedua jenis khamir tersebut mampu memperpanjang umur simpan hingga 30–39 hari atau sekitar 5–14 hari lebih lama dibandingkan kontrol.
Teknologi pascapanen berbasis kimia juga menunjukkan potensi dalam memperpanjang masa simpan. Penggunaan asam askorbat dan BAP pada buah rambutan mampu memperpanjang daya simpan sekitar dua hari untuk kualitas ekspor. Sementara itu, aplikasi kitosan pada pepaya Calina dapat meningkatkan umur simpan hingga 11 hari atau empat hari lebih lama dibandingkan kontrol.
Pada komoditas pisang Raja Bulu, aplikasi kalium permanganat (KMnO4) mampu menunda puncak klimakterik hingga delapan hari penyimpanan. Kondisi ini dapat memperpanjang masa simpan sekaligus memberikan waktu distribusi yang lebih panjang.
Selain pendekatan biologis dan kimia, teknologi fisik juga menjadi bagian dari manajemen pascapanen presisi. Aplikasi UV-C, misalnya, dapat memperpanjang kesegaran produk selama 9–12 hari penyimpanan sekaligus meningkatkan kandungan capsaicin.
Sementara itu, penggunaan LED biru pada cabai merah keriting dapat memperpanjang umur simpan hingga sembilan hari dibandingkan kontrol. Pada buah rambutan, aplikasi LED putih mampu mempertahankan tingkat kecerahan dan kemerahan kulit buah hingga enam hari penyimpanan.
Ia menambahkan, penerapan manajemen pascapanen presisi pada akhirnya dapat memberikan dampak ekonomi bagi petani. Untuk pasar domestik, mutu produk yang lebih konsisten dapat memperbesar peluang hortikultura Indonesia diterima pasar modern, industri pengolahan, maupun konsumen.
“Adapun untuk pasar ekspor, kemampuan mempertahankan mutu selama penyimpanan dan distribusi menjadi semakin penting karena produk harus menempuh jarak dan waktu pengiriman yang lebih panjang,” ujarnya.
Menurutnya, arah pengembangan teknologi pascapanen bukan menerapkan satu teknologi dengan cara yang sama pada seluruh komoditas. Melainkan menghasilkan teknologi yang semakin aplikatif, tepat sasaran, dan sesuai dengan karakter masing-masing produk.
Dengan pendekatan ini, manajemen pascapanen presisi diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan food loss, mempertahankan mutu hortikultura tropika, memperpanjang rantai distribusi, serta meningkatkan peluang produk Indonesia memasuki pasar bernilai tambah lebih tinggi.





Comments are closed.