Tue,25 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Peneliti IPB University Buka Jalan Diagnosis Dini Parkinson-Alzheimer Lewat Pemodelan Biofisik

Peneliti IPB University Buka Jalan Diagnosis Dini Parkinson-Alzheimer Lewat Pemodelan Biofisik

peneliti-ipb-university-buka-jalan-diagnosis-dini-parkinson-alzheimer-lewat-pemodelan-biofisik
Peneliti IPB University Buka Jalan Diagnosis Dini Parkinson-Alzheimer Lewat Pemodelan Biofisik
service

Penurunan daya ingat dan kemampuan gerak kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu sesederhana itu. Perbedaan antara perubahan akibat usia dan gejala awal penyakit neurodegeneratif dapat dipetakan melalui pola aktivitas sel saraf.

Pendekatan inilah yang dikembangkan Agus Kartono, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, melalui pemodelan biofisik untuk diagnosis dan pengobatan penyakit Parkinson dan Alzheimer.

Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, 20 Agustus 2026, Agus menjelaskan pemodelan biofisik dikembangkan untuk memahami perubahan pola aktivitas listrik sel saraf sekaligus membantu menentukan strategi pengobatan yang lebih tepat.

Ketertarikannya berawal dari meningkatnya penelitian mengenai Parkinson dan Alzheimer. Saat membahas hasil penelitian bersama mahasiswa S2 dalam sebuah seminar, ia semakin menyadari bahwa kedua penyakit tersebut ternyata cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Dari seminar tersebut, salah satu moderator menyampaikan bahwa ibunya terkena Alzheimer. Kemudian audiens lain mengatakan mama dan neneknya juga mengalami hal serupa. Dari situ saya melihat bahwa penyakit ini ternyata banyak terjadi di sekitar kita,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu tantangan penting adalah membedakan perubahan fungsi tubuh yang terjadi karena pertambahan usia dengan gangguan neurodegeneratif. Pemodelan biofisik kemudian digunakan untuk mensimulasikan aktivitas sel saraf dan melihat pola rangsangan yang terjadi.

Agus menjelaskan, simulasi juga dapat digunakan untuk menguji pola pemberian obat Parkinson, khususnya Levodopa. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pemberian 125 mg sebanyak empat kali sehari mampu menghasilkan pola aktivitas saraf yang mendekati kondisi normal. Sebaliknya, pemberian dosis lebih besar dalam frekuensi yang lebih sedikit dapat menghasilkan perubahan frekuensi aktivitas saraf yang lebih jauh dari kondisi normal.

“Yang bagus itu dosisnya kecil-kecil tetapi kontinu, supaya obatnya selalu ada di dalam tubuh untuk menggantikan jembatan antara dua sel saraf tadi,” katanya.

Selain terapi obat, pemodelan juga dikembangkan untuk menyimulasikan imunoterapi. Pada Parkinson, pendekatan tersebut digunakan untuk melihat kemungkinan pemulihan pola aktivitas listrik sel saraf melalui modulasi sistem imun. Sementara pada Alzheimer, pemodelan digunakan untuk memahami interaksi obat dengan plak amiloid-beta yang menghambat komunikasi antarsel saraf.

Agus juga melihat peluang pemodelan biofisik untuk mendukung diagnosis lebih dini. Ke depan, data dari perangkat medis seperti Deep Brain Stimulation (DBS) akan dibandingkan dengan hasil simulasi untuk melihat apakah pola aktivitas saraf tertentu dapat menjadi indikator awal Parkinson atau Alzheimer.

“Ini masih berkembang. Kami baru serius sekitar dua sampai tiga tahun untuk Parkinson. Berikutnya, kami akan mencoba menggabungkan data dari DBS yang ada di rumah sakit dengan simulasi yang kami kembangkan,” katanya.

Menurut Agus, pendekatan serupa sebelumnya juga telah dikembangkan untuk penyakit diabetes. Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk memperluas pemodelan biofisik ke penyakit neurodegeneratif.

Ia menegaskan, pemodelan biofisik bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menyediakan informasi ilmiah yang dapat membantu pengambilan keputusan medis secara lebih terukur. Dengan pengembangan dan validasi data klinis lebih lanjut, teknologi ini diharapkan dapat membuka peluang diagnosis yang lebih dini sekaligus mendukung terapi yang lebih presisi bagi pasien Parkinson dan Alzheimer.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.