Mubadalah.id – Ada pekerjaan yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi justru karena terlalu biasa, keberadaannya sering tidak kita anggap sebagai pekerjaan. Menyiapkan makanan, mencuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian, merapikan ruang, memastikan persediaan kebutuhan rumah tangga tersedia, hingga mengingat jadwal dan kebutuhan anggota keluarga adalah aktivitas yang terus berulang.
Pekerjaan tersebut tidak pernah benar-benar selesai. Namun, sering menganggapnya sebagai bagian alamiah dari kehidupan rumah tangga dan dalam banyak keluarga. Alamiah pula ketika perempuan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atasnya.
Ketika seseorang selesai makan dan meninggalkan piring di meja, misalnya, persoalannya mungkin terlihat sederhana: siapa yang akan mencucinya? Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa dalam banyak situasi kita tidak serta-merta menganggap orang yang makan sebagai pihak yang bertanggung jawab membereskannya. Mengapa kehadiran perempuan di dalam rumah sering membuat pekerjaan domestik seolah memiliki “penanggung jawab” otomatis?
Persoalan ini tidak berhenti pada pembagian tugas rumah tangga. Di dalamnya terdapat cara masyarakat membentuk peran gender, memberikan nilai berbeda pada jenis pekerjaan tertentu, serta membangun ekspektasi mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bertindak di dalam keluarga.
Ketika Pekerjaan Domestik Menjadi Pekerjaan Perempuan
Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ia terbentuk melalui proses sosial yang berlangsung sejak seseorang masih kecil. Rumah menjadi salah satu ruang pertama tempat anak belajar mengenai apa yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki dan apa yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan.
Anak perempuan lebih sering kita arahkan untuk membantu ibu memasak, mencuci piring, merapikan rumah, atau menjaga adik. Anak laki-laki mungkin lebih sering kita minta melakukan pekerjaan yang menganggapnya membutuhkan tenaga, seperti mengangkat barang atau memperbaiki sesuatu.
Pola ini tidak selalu muncul dalam bentuk aturan yang eksplisit. Sering kali ia hadir sebagai kebiasaan kecil yang kita lakukan berulang-ulang. Karena melakukannya terus-menerus, pembagian tersebut kemudian tampak alamiah. Seakan-akan memang kodrat.
Perempuan dianggap lebih telaten. Lebih peka terhadap kebersihan, dan dianggap lebih cocok mengurus rumah. Sebaliknya, laki-laki dapat tumbuh tanpa memiliki kepekaan yang sama terhadap pekerjaan domestik karena sejak awal pekerjaan tersebut tidak banyak kita lekatkan kepadanya.
Dalam sosiologi, keluarga bukan hanya kita pahami sebagai ruang privat, tetapi juga sebagai institusi sosial yang berperan dalam proses sosialisasi. Nilai, norma, dan pembagian peran dipelajari pertama kali melalui relasi sehari-hari di dalam keluarga. Apa yang ibu dan ayah lakukan, pekerjaan apa yang kita berikan kepada anak perempuan dan anak laki-laki, serta siapa yang dianggap bertanggung jawab atas kebutuhan rumah tangga, semuanya dapat menjadi pembelajaran mengenai gender.
Kritik Penting Feminisme terhadap Pekerjaan Domestik
Karena itu, ketika anak perempuan berulang kali diminta membereskan rumah sementara anak laki-laki tidak mendapatkan tuntutan yang sama, yang kita wariskan bukan sekadar keterampilan membersihkan. Yang kita wariskan adalah gagasan bahwa merawat rumah merupakan bagian dari menjadi perempuan. Padahal, tidak ada kemampuan biologis yang membuat perempuan lebih mampu mencuci piring atau mengetahui bahwa tempat sampah sudah penuh. Kemampuan tersebut adalah keterampilan yang dapat siapa pun mempelajarinya.
Feminisme sejak lama mempertanyakan konstruksi semacam ini. Salah satu kritik penting feminisme terhadap pekerjaan domestik adalah bagaimana pekerjaan yang menopang kehidupan sehari-hari justru kita tempatkan di wilayah privat dan kemudian tidak dihargai sebagaimana kerja di ruang publik.
Masalahnya menjadi semakin kompleks ketika pekerjaan domestik tidak hanya dilakukan tanpa upah, tetapi juga dianggap sebagai kewajiban yang “memang sudah seharusnya” perempuan lakukan. Pada titik itu, pekerjaan domestik tidak lagi sekadar aktivitas untuk menjaga rumah tetap bersih. Ia menjadi bagian dari konstruksi gender.
Ketika Pekerjaan yang Tidak Terlihat Menjadi Beban yang Nyata
Membicarakan pekerjaan domestik hanya dari jumlah aktivitas fisik sebenarnya belum cukup. Ada pekerjaan lain yang jauh lebih sulit terlihat. Mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan memastikan. Rumah tidak hanya membutuhkan seseorang untuk mencuci pakaian. Ada seseorang yang harus menyadari bahwa pakaian sudah menumpuk.
Ada yang harus mengetahui kapan pakaian perlu kita cuci, kapan deterjen habis, kapan pakaian perlu kita jemur, dan kapan pakaian perlu terlipat. Makanan juga tidak muncul begitu saja di meja. Ada seseorang yang perlu memikirkan apa yang akan kita makan, memastikan bahan tersedia, mengingat kebutuhan anggota keluarga, dan memikirkan kapan harus berbelanja.
Dalam kajian keluarga dan psikologi sosial, pekerjaan semacam ini sering terbahas melalui konsep mental load atau cognitive labor: beban mental yang muncul dari keharusan untuk terus memantau, mengingat, merencanakan, dan mengorganisasi kebutuhan rumah tangga. Inilah sebabnya seseorang dapat terlihat “tidak sedang melakukan apa-apa”, tetapi sebenarnya tetap membawa pekerjaan domestik di dalam pikirannya.
Ketidakadilan Domestik
Perempuan dapat sedang duduk, bekerja, atau beristirahat, tetapi tetap memikirkan apakah makan malam sudah disiapkan. Apakah anak sudah membawa kebutuhan sekolah, apakah persediaan rumah masih cukup, atau apakah perlu membersihkan rumah. Dalam konteks ini, kalimat “kalau butuh bantuan, bilang saja” menjadi problematis. Sebab pekerjaan domestik bukan hanya tentang melakukan sesuatu setelah seseorang memberikan instruksi. Ada beban untuk mengetahui bahwa sesuatu perlu kita lakukan sejak awal.
Ketika seorang laki-laki mencuci piring setelah diminta, sementara perempuan harus menyadari piring kotor, mengingatnya, meminta agar dicuci. Lalu memastikan pekerjaan tersebut selesai. Keduanya memang melakukan aktivitas domestik. Tetapi beban tanggung jawabnya belum tentu sama. Perbedaan ini penting karena ketidakadilan domestik sering kali tidak terlihat dalam pembagian tugas yang tampak di permukaan.
Seseorang mungkin berkata, “Kami sama-sama mengerjakan pekerjaan rumah.” Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang memikirkan pekerjaan rumah itu? Siapa yang menjadi pihak pertama yang menyadari ketika sesuatu tidak beres? Siapa yang merasa bertanggung jawab ketika rumah berantakan? Dan siapa yang dapat melihat kekacauan tersebut tanpa merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa pekerjaan domestik bukan hanya persoalan tenaga, tetapi juga persoalan tanggung jawab dan perhatian.
Ketika Kebersihan Rumah Menjadi Ukuran Perempuan yang “Baik”
Pembagian kerja domestik menjadi semakin problematis ketika hasil pekerjaan tersebut kita gunakan untuk menilai kualitas perempuan. Perempuan yang rumahnya bersih dapat dianggap rajin, telaten, pandai mengurus keluarga, bahkan dianggap sebagai ibu atau istri yang baik.
Sebaliknya, perempuan yang tidak memenuhi standar tertentu mengenai kebersihan dan kerapian lebih mudah mendapatkan penilaian negatif. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan domestik memiliki dimensi sosial yang lebih besar daripada sekadar aktivitas fisik.
Tidak hanya meminta perempuan melakukan pekerjaan rumah. Ia juga dapat terbebani tanggung jawab moral atas kondisi rumah tersebut. Rumah yang berantakan seolah-olah mengatakan sesuatu tentang dirinya.
Jika anggota keluarga lain meninggalkan sampah, piring, pakaian, atau barang-barang di ruang bersama, kekacauan tersebut tetap dapat terbaca sebagai kegagalan perempuan dalam “mengurus rumah”. Di sinilah norma gender bekerja secara sangat halus. Tidak perlu ada seseorang yang terus-menerus mengatakan bahwa perempuan harus membersihkan rumah. Ekspektasi sosial sudah cukup membuat perempuan merasa bahwa ia seharusnya melakukannya.
Mengubah Cara Kita Memahami Tanggung Jawab
Dalam perspektif psikologi sosial, manusia tidak hanya bertindak berdasarkan kebutuhan praktis, tetapi juga berdasarkan norma dan ekspektasi yang berkembang dalam kelompok sosial. Ketika suatu perilaku terus terasosiasikan dengan identitas tertentu, individu dapat menginternalisasi ekspektasi tersebut dan menjadikannya bagian dari cara ia menilai dirinya sendiri. Akibatnya, perempuan dapat merasa bersalah ketika rumah tidak bersih bahkan ketika kekacauan itu bukan sepenuhnya hasil tindakannya.
Sementara itu, laki-laki dapat tumbuh dengan pengalaman yang berbeda. Rumah yang bersih menjadi kondisi yang kita nikmati, tetapi proses yang membuat rumah tersebut bersih tidak selalu menjadi sesuatu yang harus ia pikirkan. Ketimpangan semacam ini tidak selalu lahir dari niat buruk. Justru karena sering berlangsung melalui kebiasaan, ia dapat bertahan lebih lama.
Seseorang mungkin tidak pernah bermaksud membebani perempuan. Namun jika sejak kecil ia melihat ibunya yang selalu membereskan rumah, kemudian melihat saudara perempuannya melakukan hal yang sama, ia dapat belajar bahwa begitulah rumah tangga bekerja. Karena itu, perubahan tidak cukup kita lakukan dengan meminta perempuan “lebih tegas” atau meminta laki-laki “lebih membantu”. Yang perlu kita ubah adalah cara kita memahami siapa yang memiliki tanggung jawab atas kehidupan bersama.
Dari “Membantu” Menuju Kesalingan
Perspektif mubadalah menawarkan titik berangkat yang penting untuk persoalan ini. Relasi antara laki-laki dan perempuan seharusnya terbangun melalui kesalingan, kemitraan, dan kemaslahatan bersama. Dalam kerangka tersebut, pekerjaan domestik tidak semestinya kita pahami sebagai wilayah perempuan yang kemudian sesekali dimasuki laki-laki untuk “membantu.”
Kata “membantu” sendiri perlu kita pertanyakan. Ketika seorang laki-laki mencuci piring yang ia gunakan sendiri, apakah ia sedang membantu istrinya? Ketika seorang ayah mengganti popok anaknya sendiri, apakah ia sedang membantu ibunya? Saat seorang laki-laki memasak makanan untuk keluarga yang juga ia makan, apakah ia sedang membantu perempuan? Jika kehidupan rumah tangga kita pahami sebagai tanggung jawab bersama, maka jawabannya bukan.
Ia sedang menjalankan tanggung jawabnya sendiri.
Dalam perspektif kesalingan, pembagian kerja domestik tidak harus selalu berarti 50:50 dalam setiap pekerjaan. Kehidupan keluarga memiliki kondisi yang berbeda-beda. Pembagian dapat kita sesuaikan dengan waktu, kemampuan, kondisi ekonomi, kesehatan, pengasuhan, dan kesepakatan pasangan. Yang penting adalah tidak ada pekerjaan yang sejak awal dianggap menjadi kewajiban seseorang hanya karena jenis kelaminnya.
Dengan cara pandang ini, pertanyaan dalam keluarga juga dapat berubah. Bukan lagi, “Apa tugas perempuan?” Bukan pula, “Apa tugas laki-laki?” Melainkan apa saja yang dibutuhkan agar kehidupan bersama dapat berjalan dengan baik, dan bagaimana tanggung jawab itu dapat terbagi secara adil?
Pertanyaan tersebut membawa kita kembali pada sesuatu yang sangat sederhana:
Siapa pun yang tinggal di sebuah rumah memiliki tanggung jawab untuk merawat rumah tersebut. Lalu yang makan memiliki tanggung jawab terhadap sampah dan peralatan yang ia gunakan. Dan, siapa pun yang menggunakan ruang bersama memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Kemudian, siapa pun yang menjadi bagian dari keluarga memiliki tanggung jawab untuk ikut merawat kehidupan di dalamnya.
Mengajarkan hal ini kepada anak juga merupakan bagian penting dari perubahan. Anak perempuan tidak perlu kita besarkan dengan keyakinan bahwa ia harus pandai mengurus rumah karena suatu hari akan menjadi istri atau ibu. Anak laki-laki juga tidak seharusnya tumbuh dengan keyakinan bahwa pekerjaan domestik akan selalu perempuan yang mengerjakan.
Keduanya perlu belajar memasak, mencuci, membersihkan, merawat, dan mengorganisasi kebutuhan sehari-hari bukan karena mereka sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan “peran gender”, melainkan karena semua itu adalah keterampilan hidup.
Pada akhirnya, persoalan tentang siapa yang membuang sampah makanan mungkin tampak terlalu kecil untuk kita sebut sebagai persoalan gender. Namun ketimpangan sosial sering kali justru bertahan melalui hal-hal yang kita anggap terlalu kecil untuk dipertanyakan.
Siapa yang berdiri dari meja makan.
Siapa yang mencuci piring.
Siapa yang melihat rumah mulai berantakan.
Siapa yang merasa harus membereskannya.
Hal-hal kecil tersebut membentuk kebiasaan. Kebiasaan membentuk norma. Dan norma, ketika terus terwariskan, dapat membentuk cara sebuah keluarga memahami relasi antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, membicarakan pekerjaan domestik bukan sekadar membicarakan kebersihan rumah. Ia merupakan awal pembicaraan tentang keadilan, penghargaan terhadap kerja perawatan, dan bagaimana laki-laki dan perempuan membangun kehidupan bersama.
Rumah seharusnya tidak menjadi tempat di mana satu pihak bertanggung jawab atas kenyamanan semua orang. Rumah semestinya menjadi ruang pertama tempat kesalingan dipraktikkan. Ketika kita sama-sama menikmati kehidupan yang dirawat, kita juga sama-sama mengambil bagian dalam merawatnya. []





Comments are closed.