Wed,26 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Maulid Nabi: Merayakan Kelahiran Sang Rahmat Semesta Lingkungan

Maulid Nabi: Merayakan Kelahiran Sang Rahmat Semesta Lingkungan

maulid-nabi:-merayakan-kelahiran-sang-rahmat-semesta-lingkungan
Maulid Nabi: Merayakan Kelahiran Sang Rahmat Semesta Lingkungan
service

Mubadalah.id – Belum selesai kita dengan bencana alam di bumi Nusa Tenggara Timur. pekan ini kabar mengenai kebakaran hutan di Kalimantan terus memenuhi laman berita dan media sosial kita. Berdasarkan data pemantauan nasional hingga akhir Agustus 2026, kurang lebih 7.872 titik api aktif dari total 48.656 titik panas (hotspot) yang terdeteksi secara nasional. Luas lahan yang terbakar mencapai 64.341 hektare.

Tentu, kabar karhutla tidak dapat kita remehkan. Sebab, dampaknya sangat merugikan masyarakat luas. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menimbulkan dampak serius, antara lain gangguan kesehatan massal akibat kabut asap pekat, penurunan jarak pandang yang melumpuhkan transportasi, kerusakan ekosistem dan satwa liar, penurunan kualitas udara lintas batas negara, serta kerusakan struktur tanah gambut. 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memicu kabut asap lintas batas (transboundary haze) yang memperburuk kualitas udara di Malaysia (terutama Sarawak) dan Brunei Darussalam. Kedua negara sepakat membawa masalah ini ke Sekretariat dan mekanisme diplomatik ASEAN melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP).

Rasulullah Sebagai Rahmat Semesta Alam

Di hari Maulid Nabi hari ini, kita tak pernah bosan dengan penyebutan beliau sebagai “Rahmat semesta alam”. Dalam surah Al-Anbiya’ ayat 107, Allah melalui kalamnya menjelaskan tujuan penciptaan Rasulullah. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” 

Tujuan Allah mengutus nabi Muhammad membawa agama islam bukan untuk membinasakan orang-orang kafir, melainkan untuk menciptakan perdamaian. Dan kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Perlindungan, kedamaian, dan kasih sayang yang lahir dari ajaran dan pengamalan islam yang baik dan benar. 108. 

Pada ayat sebelumnya diterangkan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad membawa agama islam agar menjadi rahmat bagi manusia dan lingkungan hidup. Pada ayat ini Allah meminta Nabi Muhammad menjelaskan ajaran dasar agama islam. 

Katakanlah wahai Muhammad, ‘sungguh, apa yang diwahyukan kepadaku yang menjadi ajaran pokok agama yang dibawa para nabi, ialah bahwa tuhanmu Allah adalah tuhan yang esa, yang melahirkan prinsip tauhid, tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada ibadah kecuali kepada-Nya; maka apakah kamu telah berserah diri kepada-Nya dengan beriman, beribadah dan mematuhi ajaran-Nya”.

Rasulullah Membebaskan Budak dengan Perspektif Ekologis

Rasulullah pernah membebaskan budak bernama Salman Al-Farisi. Salman Al-Farisi merupakan seorang merdeka yang menempuh perjalanan spiritual panjang sebelum berjumpa dengan Nabi Muhammad dan menyatakan keislamannya. Salman menyatakan keimanan setelah menyaksikan tanda-tanda kenabian sebagaimana yang ia ketahui dari pendeta Nasrani: “tidak menerima sedekah, hanya menerima hadiah, dan memiliki ‘cap kenabian’ di punggungnya.”

Setelah memeluk Islam, Nabi Muhammad meminta Salman al-Farisi menyusun perjanjian mukatabah dengan majikannya. Berdasarkan buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), kesepakatan tersebut menetapkan penanaman 300 benih pohon kurma serta penyerahan 40 uqiyah perak sebagai tebusan kemerdekaan. Nabi Muhammad memobilisasi para sahabat untuk membantu pengumpulan benih, lalu bersama-sama menanamnya.

Dalam perspektif lingkungan, mekanisme mukatabah dalam kisah Salman al-Farisi menunjukkan hubungan erat antara pembebasan manusia dan pemulihan alam. Syarat penanaman 300 pohon kurma menempatkan kemerdekaan sebagai proses yang lahir dari kerja produktif berbasis tanah. Secara ekologis, kurma memiliki peran penting bagi wilayah Arab yang berciri kering dan beriklim gurun.

Tanaman kurma mampu bertahan dalam kondisi minim air, menahan erosi tanah, serta menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk di sekitarnya. Kehadiran kebun kurma mendukung keberlanjutan pangan, menyediakan sumber energi utama masyarakat, dan memperkuat daya dukung lingkungan hidup di kawasan yang rentan terhadap degradasi lahan.

Apabila wilayah Arab kehilangan tanaman kurma, keseimbangan ekologis dan sosial akan mengalami gangguan serius. Vegetasi gurun akan semakin miskin, tanah menjadi lebih gersang, dan ketahanan pangan masyarakat melemah.

Hidup Sederhana, Hidup Ramah Lingkungan

Perilaku Nabi sendiri dapat kita jadikan cerminan baik dari sisi spiritual maupun seluruh sisi aspek kehidupan. Allah ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat tersebut menjelaskan mengenai Rasulullah sebagai teladan manusia dalam segala hal, termasuk dalam ucapan dan perbuatan. Rasulullah sendiri dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak pernah berlebihan.

Kesederhanaan beliau terkadang menjadi kecemasan sahabat. Pernah suatu ketika sahabat Umar RA menangis dan mengkhawatirkan alas tidur beliau yang terbuat dari pelepah serta meninggalkan bekas di bagian tubuh beliau, namun Rasul menjawab dengan bijaksana bahwa bagi beliau, cukuplah untuk hidup di dunia dengan cara yang sederhana.

Dalam urusan makanan, tak pernah beliau menyisakan sisa-sisa makanan. Saat berwudlu, beliau menggunakan air secukupnya dan tidak membuang-buang air. Beberapa kali kita temui dalam kisah beliau bahwa beliau juga memberikan pakaian terbaiknya pada seseorang ummat yang meminta pakaiannya.

Hal ini mengandung sarat-sarat nilai orientasi yang berdasakan nilai-nilai lingkungan. Tak ada makanan sisa yang akan menjadi sampah, tak ada air yang terbuang sia-sia, dan tak ada limbah pakaian. Seperti yang kita lihat, permasalahan lingkungan saat ini belum menemui titik terang. Kita masih melihat banyaknya sampah makanan organik yang terbuang sia-sia (foodwaste), sampah baju akibat tren fastfashion, hingga pencemaran air, tanah, dan udara karena aktivitas manusia yang berlebihan terhadap lingkungan. 

Rasulullah Sebagai teladan untuk Para Pemangku Kebijakan

Rasulullah mengajarkan kepemimpinan lewat contoh langsung dalam kesehariannya. Jika kita amati kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang terjadi lagi tiap tahun, masalahnya berasal dari cara para pemimpin mengambil keputusan yang kurang memperhatikan alam. Izin membuka lahan sering diberikan tanpa kajian yang matang. Hukum bagi pelaku pembakaran lahan pun masih lemah, dan pengawasan di lapangan juga minim. 

Hal tersebut hanya memperlihatkan bagaimana banyak pemimpin belum menjadikan kelestarian alam sebagai prioritas. Momen Maulid Nabi bisa jadi kesempatan baik bagi para pejabat untuk mengevaluasi diri, apakah kebijakan yang mereka buat selama ini sudah berpihak pada kelestarian lingkungan.

Ajaran menjaga lingkungan atau hifzhul bi’ah ini seharusnya jadi pedoman bagi pejabat saat membuat aturan tentang tanah dan hutan. Sayangnya, izin usaha perkebunan besar pada lahan gambut sering mereka berikan tanpa memperhitungkan kemampuan alam untuk menopangnya. Sehingga kebakaran pun terus berulang sebagai akibat dari kebijakan yang lupa pada tanggung jawab menjaga bumi.

Refleksi

Kehidupan Rasulullah yang sederhana mengajarkan kita untuk mengendalikan diri dari sifat serakah. Sikap zuhud atau hidup secukupnya ini penting dicontoh oleh para pejabat yang kadang tergoda mengambil keuntungan cepat dari izin tambang atau perkebunan besar, tanpa memikirkan dampaknya bagi generasi mendatang. 

Dalam ilmu ekonomi, sikap mementingkan keuntungan pribadi seperti ini disebut rent-seeking behavior. Yaitu ketika kepentingan sekelompok kecil orang justru merugikan banyak orang. Termasuk warga Sarawak dan Brunei Darussalam yang terkena dampak kabut asap dari kebakaran hutan kita. Sikap Rasulullah yang selalu mendahulukan kepentingan umat banyak di atas kepentingan pribadinya. Seharusnya menjadi contoh dalam mengelola sumber daya alam negara.

Sebagai penutup, peringatan Maulid Nabi perlu kita jadikan untuk mengevaluasi cara kita memimpin dan mengelola alam. Sifat bashirah, yaitu kemampuan melihat jauh ke depan yang dimiliki Rasulullah dalam menjaga keseimbangan alam. 

Sikap bashirah harus dicontoh oleh para pengambil kebijakan, agar setiap keputusan soal hutan dan lahan selalu mempertimbangkan keberlangsungan alam untuk jangka panjang. Jika kepemimpinan yang penuh tanggung jawab juga kepedulian pada kepentingan bersama ini benar-benar diterapkan. Kebakaran hutan yang terjadi tiap tahun punya peluang besar untuk dicegah sejak dari akar masalahnya. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.