• Emoji menjadi bagian penting dari cara publik merespons pidato politik Prabowo.
• Makna emoji berbeda-beda, bergantung pada teks dan konteks penggunaannya.
• Frekuensi emoji tidak otomatis mencerminkan sentimen atau emosi publik.
Sebagai kepala negara, Presiden Prabowo Subianto kerap menyampaikan pidato yang memancing beragam respons warganet di media sosial.
Respons tersebut tidak lagi hanya disampaikan melalui kata-kata. Emoji seperti ❤️, 😂, 👍, dan 😭 juga digunakan untuk mengekspresikan perasaan terhadap pernyataan Presiden.
Mengapa emoji?
Dalam komunikasi tertulis, emoji pada dasarnya dapat menjalankan fungsi yang menyerupai bahasa nonverbal dalam percakapan tatap muka. Ia bukan sekadar hiasan dalam komunikasi digital, melainkan juga membantu penerima mengenali emosi dalam sebuah pesan.
Selain itu, karakter gambar dapat digunakan untuk mengekspresikan emosi, memperkuat pesan, dan menyampaikan humor.
Read more: Gaduh tapi acuh? Bagaimana meramaikan aktivisme digital berkualitas untuk mendorong perubahan sosial
Riset tahun 2024 mengidentifikasi sedikitnya empat fungsi emoji dalam komunikasi daring: sebagai bagian dari teks, pengganti ekspresi nonverbal seperti intonasi dan bahasa tubuh, pembuka bentuk komunikasi baru, serta eufemisme visual. Fungsi terakhir membuat emoji dapat menyampaikan sesuatu secara implisit.
Emoji bahkan telah menjadi bagian dari perkara hukum. Sebuah artikel tinjauan pada 2022 mencatat bahwa pengadilan di Amerika Serikat mempertimbangkan emoji sebagai bagian dari pesan dalam berbagai perkara, termasuk kekerasan seksual daring, diskriminasi ketenagakerjaan, dan pembunuhan.
Artinya, emoji dapat memengaruhi bagaimana kita memaknai pesan, bukan sekadar dekorasi visual.
Namun, emoji tidak memiliki arti tunggal. Pakar media dari University of New South Wales, Michele Zappavigna, menempatkan emoji sebagai unsur paralinguistik yang maknanya berkaitan erat dengan teks yang menyertainya, atau co-text.
Pandangan ini sejalan dengan studi tentang dialog dan emoji di media sosial. Karena itu, emoji perlu dibaca bersama teks dan konteks penggunaannya.
Read more: Emosi ngakak bukan berarti lucu, tapi tawa pahit rakyat terhadap ketimpangan berulang
Untuk melihat bagaimana warganet Indonesia menggunakan emoji dalam perbincangan politik, kami memantau percakapan mengenai pidato dan pernyataan Prabowo di X, Facebook, Instagram, dan YouTube sejak pelantikannya pada 20 Oktober 2024 hingga Agustus 2026.
Kami menggunakan sejumlah kata kunci terkait pidato atau pernyataan Prabowo, seperti “Prabowo”, “Prabowo Subianto”, “Presiden Prabowo”, “pidato”, sambutan”, “mengatakan”, “menyebut”, “klaim”, “janji”, dan sebagainya.
Temuan kami mendapati sekitar 2,1 juta posting. Tiga events dengan percakapan tertinggi adalah Pidato Kenegaraan pada 14 Agustus 2026, peresmian Museum Marsinah pada 16 Mei 2026, dan pernyataan Prabowo setelah demonstrasi pada akhir Agustus 2025.
1. Pidato Kenegaraan: Emoji memperkuat reaksi terhadap pernyataan tertentu
Pada Pidato Kenegaraan 14 Agustus 2026, terdapat sekitar 40 ribu postingan terkait pidato selama 14–17 Agustus. Emoji yang paling banyak muncul adalah 😭 sebanyak 1.290 posting, 🤯 sebanyak 796, dan 🤷♀️ sebanyak 205.
Emoji 😭 banyak ditemukan dalam percakapan mengenai pernyataan Prabowo tentang seorang ibu pengupas bawang yang memperoleh upah Rp700 ribu per kilogram. Sebagian netizen menghitung bahwa jika mengupas 10 kilogram per hari, penghasilannya dapat mencapai Rp7 juta sehari.
Read more: Sebut ‘Londo Ireng’, Prabowo buka luka kolonial dalam nuansa adu domba
Sementara itu, emoji 🤯 banyak digunakan dalam percakapan mengenai kondisi bursa saham, termasuk unggahan yang membahas keluarnya dana asing sekitar Rp1 triliun setelah pidato kenegaraan.
Temuan ini menunjukkan bahwa warganet menggunakan emoji untuk memperkuat reaksi terhadap bagian tertentu dari pidato, bukan semata-mata sebagai respons terhadap pidato secara keseluruhan.
2. Pidato di Museum Marsinah: Emoji sebagai simbol dan sindiran
Pernyataan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada 16 Mei 2026 memperoleh sekitar 138 ribu mentions. Dua emoji yang menonjol adalah 🇮🇩 sebanyak 6.876 mentions dan 🙃 sebanyak 1.108 mentions.
Emoji 🇮🇩 tidak selalu digunakan untuk menunjukkan emosi. Dalam sejumlah unggahan, emoji tersebut menggantikan kata “Indonesia”.
Sebaliknya, emoji 🙃 banyak digunakan untuk menyampaikan ironi atau sindiran, termasuk dugaan bahwa ramainya pernyataan Prabowo merupakan hasil pembingkaian isu (framing) media.
Temuan ini memperlihatkan bahwa emoji tidak hanya berfungsi sebagai penanda emosi, tetapi juga dapat menjalankan fungsi linguistik dan retoris.
3. Demonstrasi Agustus 2025: Tidak semua emoji menunjukkan emosi politik
Pada pernyataan Prabowo mengenai demonstrasi akhir Agustus 2025, terdapat sekitar 100 ribu mentions selama 25 Agustus – 1 September 2025. Emoji yang paling banyak muncul adalah 🙏 sebanyak 4.924 mentions dan 📸 sebanyak 1.263 mentions.
Emoji 🙏 banyak ditemukan dalam komentar yang mempertanyakan penggunaan kekerasan terhadap demonstran.
Read more: Slogan protes sebagai bentuk luapan emosi, solidaritas, dan pembangkangan politik
Fungsi yang berbeda ditunjukkan dalam penggunaan emoji 📸. Emoji tersebut banyak digunakan untuk memberikan kredit atau sumber foto dalam unggahan media sosial.
Dengan demikian, tingginya frekuensi emoji tidak otomatis menunjukkan sentimen publik. Sebagian emoji memang mengekspresikan sikap atau emosi, sementara lainnya hanya berfungsi sebagai pelengkap informasi.
Membaca emoji bersama kata-kata
Analisis terhadap 10 kata yang paling banyak muncul membantu memberikan konteks terhadap penggunaan emoji tersebut.
Berikut ini top words dari tiga pidato tersebut:

Data tersebut memperkuat pentingnya membaca emoji bersama teks pendampingnya. Dalam pidato kenegaraan, misalnya, kata “harga” membantu menjelaskan penggunaan 😭 dan 🤷♀️ dalam percakapan mengenai pengupas bawang.
Sementara dalam pidato Prabowo di Museum Marsinah, kata “desa”, “rupiah”, dan “asing” memberikan konteks bagi 🇮🇩 dan 🙃.
Temuan ini menunjukkan bahwa emoji memang dapat menjadi bagian dari ekspresi politik, tetapi fungsinya tidak seragam. Emoji dapat digunakan untuk menyampaikan keterkejutan, sindiran, kritik, atau keprihatinan, tetapi juga dapat menggantikan kata atau melengkapi informasi.
Karena itu, emoji tidak dapat diperlakukan sebagai “kamus emosi” yang setiap simbolnya memiliki satu arti pasti. Dalam percakapan politik, maknanya muncul dari hubungan antara emoji, teks, dan konteks penggunaannya.
Mengukur respons publik melalui emoji, dengan demikian, membutuhkan lebih dari sekadar menghitung emoji yang paling sering digunakan.
Read more: Mungkinkah gerakan rimpang dan LSM bersatu melawan pemberangusan demokrasi?





Comments are closed.