Jakarta –
Pernahkah Bunda mendapat curhat dari Si Kecil sepulang sekolah kalau ia ingin memiliki suatu barang yang sama dengan temannya? Jika anak pulang sekolah dan bilang mereka menginginkan sepatu keren yang dipakai teman sekelasnya, atau kotak bekal, dan lainnya. Maka tenang, Bunda enggak sendirian.
Nyatanya, hampir setiap anak mengalami hal yang sama. Rasa iri seperti ini bisa muncul kapan saja, terutama saat musim kembali ke sekolah, dan hal itu sangatlah wajar, Bunda.
“Saat anak-anak melihat teman mereka memiliki sesuatu yang baru dan keren, wajar sekali jika mereka berpikir, ‘Aku juga mau itu!’ atau ‘Semua orang punya, kecuali aku!'” ungkap Kennedy-Mooore, dikutip dari Parents.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, anak merasa iri atau mau punya barengan temannya bukanlah kasus yang aneh atau tidak wajar. Kita semua mungkin sesekali merasa iri. Namun, anak-anak dan remaja bisa lebih terdampak oleh perasaan ini.
Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa masa remaja adalah saat rasa cemburu atau iri mencapai puncaknya. “Pada dasarnya, anak-anak belum memiliki perspektif yang luas karena pengalaman hidup mereka masih singkat dan mereka belum banyak melihat dunia. Identitas diri mereka juga belum stabil karena mereka terus tumbuh dan berubah,” kata Kennedy-Moore.
“Selain itu, mereka mungkin belum memiliki pengalaman untuk menyadari bahwa tren gaya bisa berubah dan tren sesaat akan datang dan pergi. Semua faktor ini membuat mereka lebih rentan terhadap pesan-pesan yang bersifat materialistis,” lanjutnya.
Selain itu, pakaian dan mainan bisa berkaitan erat dengan rasa diterima dalam kelompok sosial. Mendengar atau melihat teman sebaya menyampaikan pesan seperti pakaian dari merek ini keren atau ada koleksi mainan terbaru yang jangan dilewatkan.
Inilah yang bisa sangat memengaruhi anak-anak yang ingin menjadi bagian dari kelompok dan diterima oleh teman-temannya.
“Rasanya tidak menyenangkan jika merasa kekurangan atau menjadi satu-satunya orang yang berbeda. Lagipula, barang-barang tersebut mungkin memang benar-benar menarik atau keren bagi anak itu,” ungkap Kennedy-Moore.
Kemudian, psikolog anak di Nationwide Children’s Hospital, Whitney Raglin Bignall, PhD, menambahkan masa kembali ke sekolah bisa menjadi waktu di mana anak-anak sangat rentan merasa iri.
“Mereka sering mendengar cerita tentang pengalaman teman-temannya selama musim panas, seperti liburan atau kemah musim panas dan melihat teman-teman datang ke sekolah dengan pakaian serta perlengkapan baru, seperti sepatu dan peralatan sekolah,” ujar Raglin Bignall.
Cara mengatasinya
Di era berbelanja menjadi sangat mudah di e-commerce dan media sosial, orang tua mungkin kesulitan menentukan cara menyikapi keinginan anak untuk memiliki segala hal baru yang dimiliki teman-temannya. Untuk mengatasinya, orang tua perlu:
Validasi perasaan anak
Validasi emosi anak Bunda. Ingatkan mereka bahwa rasa iri adalah emosi manusiawi yang wajar, dan biarkan mereka merasakan serta menjalani emosi tersebut.
Jika anak belum sepenuhnya memahami kosakata emosi, bantu mereka mengenali perasaan tersebut menggunakan daftar nama-nama perasaan. Saat mereka mulai memahami apa yang mereka rasakan, tunjukkan empati dan gunakan kalimat yang mendorong mereka untuk merenung.
Misalnya, kita bisa berkata, “Bunda/Ayah mengerti mengapa kamu merasa begitu. Bunda/Ayah juga akan merasa dikucilkan jika teman-teman tidak mau bermain denganku.”
Ajari perbedaan antara kebutuhan dan keinginan
Luangkan waktu untuk membahas perbedaan tersebut dan mengapa hal itu penting. Kita perlu berbicara dengan anak mengenai alasan mereka menginginkan barang tertentu.
“Apakah itu hanya karena orang lain memilikinya, atau karena mereka merasa dikucilkan lantaran tidak memilikinya? Hal ini bisa menjadi cara yang berguna bagi orang tua dalam mengambil keputusan,” ujar Dr. Raglin Bignall.
Jangan membanding-bandingkan
Saat membahas rasa iri dengan anak, jangan membandingkan mereka dengan orang lain. Perbandingan justru bisa menjadi penyebab awal munculnya rasa iri tersebut.
Sebaliknya, fokuslah pada masalah yang sebenarnya dihadapi anak dan akar penyebabnya. Temukan alternatif positif, seperti menghargai sisi positif mereka dan mendorong komunikasi antara mereka dengan teman-teman mereka.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)





Comments are closed.