Mon,31 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mencatat Pengalaman Perempuan: Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”

Mencatat Pengalaman Perempuan: Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”

mencatat-pengalaman-perempuan:-tren-“things-my-exes-did-and-i-still-stayed”
Mencatat Pengalaman Perempuan: Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”
service

Mubadalah.id – Bagi perempuan, memiliki hubungan yang baik, sehat, saling menghormati, juga menjadi tempat bertumbuh bersama merupakan hal yang sangat diinginkan. Namun, sejauh aku mencatat pengalaman perempuan, ada begitu banyak kekerasan yang terjadi dalam hubungan.

Bukan satu kali atau dua kali, namun berkali-kali. Terbaru, media sosial kini rama dengan tren “Things My Exes did and I still Stayed”. Sebuah tren “Apa yang Mantanku Lakukan dan Aku tetap Bertahan”. Sejauh apa kemudian tren ini menyadarkan kita bahwa kekerasan dalam hubungan itu memang ada dan terjadi? 

Things My Exes did and I Still Stayed

Tren tersebut bermula dari Tiktok. Beberapa pengguna perempuan secara internasional (mancanegara) mebagikan kisah hubungan di masa lalu dengan pasangannya. Dalam kisahnya, para perempuan bercerita apa saja yang mantan pasangannya lakukan dan mereka tetap bertahan pada hubungan tersebut. Padahl, kisah-kisah yang mereka bagikan merupakan bentuk kekerasan yang terjadi dalam suatu hubungan.

Misalnya, salah seorang perempuan berbagi cerita bahwa mantan pasangannya pernah memukul dan memaki-maki dia hanya karena tidak diambilkan barang yang laki-laki minta. Padahal, sang perempuan sedang sibuk memasak dan membereskan rumah setelah bekerja. Namun, ia tetap bertahan dengan mantan pasangannya karena berdalih bahwa mantan pasangannya bisa berubah di masa depan.

Pada sisi yang lain, seorang Ibu harus menerima dirinya diperlakukan buruk bertahun-tahun oleh suaminya. Sayangnya, ia memilih lebih baik bertahan dengan suami yang telah melakukan kekerasan karena ia tak berdaya secara finansial. Jika ia melepaskan hubungannya, maka anak-anaknya tidak dapat melanjutkan pendidikan.

Tak hanya kekerasan berbasis fisik, kekerasan digital (KBGO) juga terjadi. Seorang perempuan mendapatkan revenge porn dari mantan pasangannya. Ia diminta terus-menerus mengirimi uang, memaksa melakukan hubungan seksual, dan meminta perempuan agar mengikuti seluruh permintaan laki-laki. Meskipun mendapatkan kekerasan, ia tetap bertahan karena takut karena mantan pasangannya selalu mengancam keselamatannya.

Relasi Kuasa dalam Hubungan

Secara ilmiah, fenomena perempuan tetap bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan dapat saya jelaskan melalui konsep relasi kuasa atau power relation. Konsep tersbeut merujuk pada ketimpangan posisi antara dua pihak dalam suatu hubungan. Satu pihak memegang kendali lebih besar atas sumber daya, keputusan, dan akses terhadap kebutuhan dasar pihak lain.

Peneliti Evan Stark memperkenalkan istilah coercive control untuk menggambarkan pola kekerasan yang berlangsung secara berulang. Pelaku membangun jaringan kendali atas keuangan, mobilitas, komunikasi, dan bahkan tubuh korban.

Nah, pola tersbeut menjelaskan mengapa kekerasan finansial (seperti kasus Ibu yang bergantung secara ekonomi pada suaminya). Kekerasan digital (seperti ancaman penyebaran konten intim), dan kekerasan fisik dapat muncul dalam satu hubungan yang sama. Semuanya merupakan mempertahankan dominasi. Korban terus terdorong ke posisi yang makin lemah dan bergantung.

Psikolog Lenore Walker mengembangkan teori cycle of violence atau siklus kekerasan yang terdiri dari tiga fase berulang. Pertama,  fase ketegangan (tension building). Keuda, fase kekerasan puncak (acute battering incident). Ketiga, fase bulan madu (honeymoon phase). Pelaku menunjukkan penyesalan dan janji berubah. Fase terakhir inilah yang kerap membuat korban memutuskan untuk bertahan. Seperti terlihat dalam kisah perempuan yang berdalih pasangannya “bisa berubah di masa depan”.

Selain itu, konsep trauma bonding menjelaskan ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku. Akibat siklus kekerasan dan kasih sayang yang silih berganti. Ikatan tersebut membuat korban sulit melepaskan diri meski menyadari dirinya diperlakukan buruk. Karena secara psikologis ia telah terikat pada pola relasi yang tidak sehat tersebut.

Faktor struktural juga berperan besar. Ketergantungan finansial, sebagaimana dialami seorang Ibu yang menceritakan pengalaman sebelumnya. Sejalan dengan konsep learned helplessness yang dirumuskan Martin Seligman. Learned Helplessness  merupakan kondisi ketika seseorang berhenti berusaha keluar dari situasi menyakitkan karena berulang kali merasakan usahanya gagal membawa perubahan.

Kondisi tersebut sebetulnya terperparah oleh norma sosial dan budaya patriarkal. Menempatkan perempuan sebagai pihak yang wajib mempertahankan keutuhan rumah tangga apa pun risikonya. Sementara laki-laki jarang masyarakat tuntut mempertanggungjawabkan tindakannya.

Pola-pola Berulang, Jangan Mudah Kita Sepelekan

Salah satu hal penting yang perlu perempuan pahami dalam menghadapi hubungan yang penuh kekerasan adalah kemampuan membaca pola. Kekerasan jarang berhenti pada satu kejadian. Biasanya cenderung berulang mengikuti siklus. Penting untuk jangan mudah terbujuk rayu maaf dan ungkapan penyesalan. Apalagi jika dalam proses tersebut ia menyampaikan maaf, ia masih melakukan kekerasan lain di belakang.

Pola adalah pertanda. Satu kali masih bisa kita maafkan, sebab setiap orang berpeluang melakukan kesalahan dan belajar dari sana. Dua kali perlu berhati-hati, karena pengulangan menunjukkan bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari “kecenderungan” yang sebtulnya lebih besar. Jika lebih dari dua kali, aku sarankan memutus hubungan lebih cepat sebelum hal-hal buruk terjadi.

Kecenderungan yang berulang merupakan rangkaian tindakan yang cenderung terus terjadi jika tidak ada intervensi. Baik dari pelaku sendiri (melalui kesadaran) maupun dari lingkungan sekitar (melalui konsekuensi sosial).  Permintaan maaf yang berulang tanpa perubahan hanya menjadi cara untuk mempertahankan hubungan dan kendali atas pasangan. Alih-alih sebagai bentuk kesadaran. 

Fase bulan madu dalam siklus kekerasan sering kali menjadi titik paling rawan bagi korban. Sebab pada titik inilah pelaku tampak penuh perhatian dan meyakinkan bahwa perubahan akan terjadi. Padahal, penelitian mengenai pola coercive control menjelaskan bahwa fase tersebut umumnya diikuti oleh fase ketegangan dan kekerasan berikutnya.  kemudian membentuk siklus yang terus berulang jika dibiarkan tanpa intervensi.

Ingat, tak ada jaminan bahwa ia benar-benar berubah di masa depan. Harapan akan perubahan memang manusiawi. Namun, harapan tanpa perubahan tindakan yang konsisten berisiko membuat korban terjebak lebih lama dalam siklus kekerasan yang sama. Mengenali pola sejak dini, mencatat kejadian yang berulang, dan berani mengambil keputusan sebelum situasi memburuk. Menjadi langkah penting untuk melindungi diri dari dampak jangka panjang kekerasan dalam hubungan.

JIka Kekerasan Terus Menerus Kita Terima

Ketika kekerasan dalam hubungan terus menerus kita terima. Dampak yang muncul dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan korban. Secara psikologis, korban berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma juga kecemasan kronis. Rasa percaya diri korban pun kian terkikis. Sehingga muncul keyakinan keliru bahwa ia pantas menerima perlakuan buruk tersebut.

Selain risiko psikologis, penerimaan kekerasan secara terus menerus juga memperkuat legitimasi sosial terhadap tindakan pelaku. Ketika lingkungan sekitar, keluarga, atau bahkan institusi sosial cenderung diam atau menyalahkan korban. Pelaku merasa mendapat ruang untuk mengulangi perbuatannya.

Seri tulisan mencatat pengalaman perempuan kali ini menambah daftar panjang catatan kekerasan yang aku dokumentasikan. Sebagai sesama perempuan, pasti sangat berat melalui kekerasan-kekerasan yang sebelumnya korban alami. Sebagai penyintas, aku dapat merasakan bagaimana kemudian keluar dari hubungan yang tidak sehat tak semudah kita bayangkan.

Terlebih, jika perempuan tak memiliki power sama sekali. Aku berharap, perempuan-perempuan yang saat ini sedang mendapatkan kekerasan dapat menyadari lebih cepat. Juga menyelamatkan diri sebelum hal buruk benar-benar mengiris hati para perempuan. Sebagai perempuan, kita layak mendapatkan perlakuan sebagai subyek manusia utuh dengan penuh penghormatan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.